Jujur Memilih, Pemimpin Jujur

Tim Wow    •    Jumat, 19 Januari 2018 | 13:47 WIB
Opini
Ilustrasi.(net)
Ilustrasi.(net)

Oleh : Anugra Bangsawan (Direktur LIDAL)

RELASI antara pemilih dan pemimpin dalam prosesi pemilihan kepala daerah (pilkada) saling berhubungan dan tak terpisahkan.

Disatu sisi, ekspetasi masyarakat sebagai pemilih tentu menginginkan calon pemimpin ideal,yakni pemimpin yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat dan amanah dalam memimpin pemerintahan yang bersih dan berwibawa.

Disisi lain, untuk mendapatkan label calon pemimpin yang disukai tersebut para kandidat berupaya semaksimal mungkin meraih simpati maayarakat pemilih. Terlebih lagi para "dermawan musiman" dalam memberikan berbagai bantuan sembako hingga tawaran barang yang menggiurkan pada masa kampanye hingga praktik politik uang.

Jika hal terjadi bak gayung bersambut tentu akan merusak tatanan demokrasi dalam menyeleksi calon pemimpian ideal seperti yang kita inginkan. Seringkali kita menginginkan pemimpin yang terpilih jujur dan berintegritas namun sebagai pemilih kita tidak jujur ?

Lalu bagaimana kita menjadi pemilih jujur ? Ada beberapa komponen untuk menjadi pemilih jujur ?

Pertama, cerdas. Sebagai pemilih kita harus tahu dan cari tahu mana pemimpin terbaik yang harus kita pilih mulai dari pengalaman memimpin (leaderhip), prestasinya, kiprah ditengah masyarakat (modal sosial), perilaku ditengah masyarakat selama hidupnya.

Kedua, memilih bukan karena uang dan barang. Sebagai pemilih juga berani bersikap tidak pada praktik politik uang atau suap pada saat



1   2