Reklamasi Setengah Mati

Abeng    •    Jumat, 26 Juli 2019 | 14:53 WIB
Opini
Albana, wartawan senior di Babel.(dok)
Albana, wartawan senior di Babel.(dok)

Oleh: Albana Wartawan Senior di Babel

 

HAMPIR  dua abad dieksploitasi, tapi kandungan timah di Kepulauan Bangka Belitung masih sangat besar. 

Dari sisi ekonomi, penambangan timah mampu mendongkrak kesejahteraan masyarakat setempat sejak komoditas ini pada 1998 lalu berganti status menjadi bukan bahan galian strategis. Masyarakat pun bisa menambang, inilah  masa masa dimana penambangan illegal berkuasa. 

Aktivitas penambangan liar yang massif berdampak pada aspek lingkungan,  lahan bekas tambang ditinggalkan begitu saja.  

Tahun 2006 , kegiatan penambangan timah inkonvensional (TI) di Babel mencapai lebih dari 15 ribu lokasi, sehingga  menyebabkan kerusakan lingkungan yang sangat parah. Data dari Dinas Pertanian dan Kehutanan Provinsi Babel tahun itu  menyebutkan dari  400.000 hektare hutan di Babel, 25 persen di antaranya dalam keadaan rusak berat.

Yang masih memiliki hutan dengan kondisi bagus hanya 30 persen. Itu 13 tahun lalu. Agresifitas penambangan dan aktifitas ekonomi lainnya seperti perkebunan juga menggurus hutan. Jadikah kemudian kerusakan hutan di Babel berlipat, tak sepadan dengan luas cakupan lahan yang sudah porak poranda. Tidak hanya hutan produksi, tapi juga hutan lindung, cagar alam bahkan merembes ke daerah aliran sungai.

Eksploitasi terhadap alam Babel, tak saja timah semata, Pada tahun 2018, WALHI Babel mencatat sebanyak 41,83% atau 275.682 hektar kawasan hutan produ



1   2      3