Haruskah Anak Perempuan Disunat? Ini Penjelasannya

Endi    •    Rabu, 14 Agustus 2019 | 20:46 WIB
Lokal
Dialog interaktif bertema Polemik Budaya Khitan Anak Perempun, di Aluna LPMP Komplek perkantoran gubernur Babel, Rabu (14/8/2019). (dag/wowbabel)
Dialog interaktif bertema Polemik Budaya Khitan Anak Perempun, di Aluna LPMP Komplek perkantoran gubernur Babel, Rabu (14/8/2019). (dag/wowbabel)

PANGKALPINANG, www.wowbabel.com --Pimpinan wilayah Aisyiya Provinsi Bangka Belitung (Babel), menggelar dialog interaktif bertema Polemik Budaya Khitan Anak Perempun, di Aluna LPMP Komplek perkantoran gubernur Babel, Rabu (14/8/2019).

Menghadirkan tiga narasumber dari bidang medis, tokoh agama dan budayawan, kegiatan ini menyimpulkan khitan pada anak tidak dianjurkan untuk dilakukan.

"Kalau dari segi kesehatan tidak ada manfaatnya sama sekali untuk dilakukan sunat pada perempuan, bahkan bisa menimbulkan resiko apapun tipe sunnat yang digunakan," kata Kepala Seksi Kesehatan Keluarga dan Gizi, Dinas Kesetahan Provinsi Babel, Itsnataini.

Umumnya, terang Itsnataini, ada empat tipe yang lazim digunakan dalam sunat perempuan, diantaranya melakukan pemotongan pada klitoris preputium sebagian atau seluruhnya, melakukan pemotongan pada labia minora yang merupan kulit tipis yang ada disekeliling vagima, menjahit labia dengan atau tanpa melakukan pemotongan klitoris dan melakukan melakukan penggoresan atau pemotongan daerah gentil.

Namun hal itu juga sunnah dilakukan, terutama bagi kalangan umat muslim, mengingat praktek ini sudah dilakukan secara turun temurun di Indonesia.

"Peraturan Menteri Kesehatan tentang sunnat perempuan yang diterbitkan tahun 2010 nomor 1636,  itu sudah dicabut melalui peraturan Menteri Kesehatan Nomor 6 tahun 2014," jelasnya.

Sementara itu, Pimpinan



1   2