Indonesia Supermarket Bencana, Potensi Gempa Bumi Terus Mengintai

Muri_Setiawan    •    Sabtu, 23 Desember 2017 | 00:00 WIB
Tekno
Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, Ph.D. saat memberikan keterangan pers di kantor BMKG Jakarta. (dok/BMKG)
Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, Ph.D. saat memberikan keterangan pers di kantor BMKG Jakarta. (dok/BMKG)

WOWGEMPA - Secara geografis Indonesia terletak pada pertemuan 3 lempeng tektonik utama dunia yang bergerak relatif saling mendesak satu dengan lainnya. Ketiga lempeng tersebut adalah Lempeng Indo-Australia di sebelah Selatan, Lempeng Pasifik di sebelah Timur, Lempeng Eurasia di sebelah Utara (di mana sebagian besar wilayah Indonesia berada), dan ditambah Lempeng Laut Philipina.

Adapun karakteristik lempeng tektonik, adalah Lempeng Indo-Australia bergerak ke arah Utara dan bertumbukan dengan Lempeng Eurasia. Sementara Lempeng Pasifik bergerak ke arah Barat sedangkan Lempeng Eurasia relatif diam.

Kondisi inilah menyebabkan Indonesia sebagai wilayah supermarket bencana yang rawan gempa bumi dan tsunami. Meskipun teknologi saat ini belum ada yang dapat memprediksi terjadinya gempa bumi secara tepat dan akurat.

"Hal ini dibuktikan dari data IRBI bahwa ancaman tsunami Indonesia adalah 46% dari panjang pantai Kepulauan Indonedia, 233 dari 515 Kabupaten, dan 23 dari 34 Provinsi," ungkap Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, Ph.D. seperti diberitakan dari laman http://bmkg.go.id

Catatan BMKG, telah terjadi gempa bumi rata-rata sebanyak 4.500 kali/ tahun, diantaranya gempa bumi dengan magnitude 5 atau lebih yang sifatnya mulai merusak terjadi sebanyak rata-rata 360 kali/ tahun.

"BMKG siap untuk memberikan informasi gempa bumi dan peringatan dini tsunami yang terus dimonitor 24 jam/ 7 hari. Hal ini dilakukan sebagai langkah antisipasi dalam pengurangan resiko dampak gempa bumi dan tsunami," ujarnya.

Untuk pengamatan gempa bumi dengan magnitude 5 atau lebih berpusat di Pusat Gempa Nasional BMKG, sementara untuk gempa bumi dengan magnitude dibawah 5 terpusat di Stasiun Geofisika yang terdapat di seluruh wilayah Indonesia berjumlah 33 Stasiun geofisika dengan 165 sensor seismograf dan 285 accelerometer.

"Sebagai langkah pengurangan resiko dampak gempa bumi dan tsunami, mengharapkan masyarakat agar lebih siap sebelum terjadi gempa dan tsunami, termasuk struktur bangunan, serta langkah penyelamatan gempa bumi dan tsunami," imbuhnya.

Sementara itu, terkait kondisi cuaca, BMKG mengatakan pada Desember 2017 93,27 % wilayah Indonesia memasuki musim hujan dan sisanya 6,73 % masih mengalami musim kemarau lokal, seperti di beberapa wilayah Jatim, Bali, NTT, dan NTB, Sulawesi Maluku. 

 

Puncak Penghujan

Puncak musim hujan terjadi di wilayah Sumatera dan Kalimantan. Sementara untuk bulan Januari 2018, puncak musim hujan terjadi wilayah Jawa, Bali, hingga Nusa Tenggara, serta untuk wilayah lainnya di Bulan Februari 2018. Sementara untuk wilayah Papua, khususnya di bagian Tengah sekitar pegunungan Jayawijaya mengalami puncak musim hujan pada Januari 2018.

"Waspada Hujan sedang-lebat menjelang natal 2017 dan tahun baru 2018. Berdasarkan hasil analisa BMKG, potensi hujan lebat menjelang natal 2017 dan tahun baru 2018 cukup besar, hal ini dikarenakan supply massa udara lembab dari Samudera Pasifik dan Daratan Asia serta dari Samudera Hindia yang terakumulasi di wilayah kepulauan Indonesia sehingga sangat intensif penyebab tingginya potensi hujan lebat di wilayah Indonesia. Masyarakat perlu mewaspadai hujan sedang-lebat pada Menjelang Natal (19-23 Desember 2017) yang terjadi di wilayah Aceh Bagian Barat, Pesisir Selatan Sumatera, Banten, Pesisir Utara jawa, Sulawesi Selatan, NTB, sebagian NTT," beber Dwikora.

24-26 Desember 2017, hujan sedang-lebat terjadi di Pesisir Selatan Sumatera Utara dan Sumatera Barat, NTB, NTT. Sulawesi Tengah, dan Papua Bagian Tengah.

Menjelang tahun baru 2018, 26-31 Desember 2017 potensi hujan sedang-lebat terjadi di Pesisir Utara Jawa, Jateng, Jatim, Kaltara, Sulteng, Maluku.

Pada Awal tahun 1-7 Januari 2018 Konsentrasi hujan sedang-lebat di Aceh, Pesisir Barat Sumatera, Jateng, Yogyakarta, Kaltim, Kaltara, Sulteng, NTT.

Potensi angin kencang lebih dari 20 knot (lebih dari 36 km/jam) berpotensi terjadi di beberapa wilayah indonesua meliputi Laut Cina Selatan, Laut Natuna, Laut Jawa, Laut Banda, Samudera Hindia Selatan Jawa Tengah hingga NTB. Angin kencang ini berpengaruh pada gelombang tinggi, untuk itu masyarakat perlu mewaspadai gelombang tinggi, seperti di Laut Cina Selatan dan Laut Natuna Utara dengan tinggi gelombang mencapai 6 -7 m.

Berikut ini layanan informasi cuaca, gempabumi dan tsunami 24 jam, BMKG:

  • call center cuaca 021-6546315/18;
  • call center gempabumi 021-6546316;
  • http://www.bmkg.go.id;
  • follow twitter @infoBMKG;
  • aplikasi iOS dan android "Info BMKG";
  • atau dapat langsung menghubungi kantor BMKG terdekat.


MEDSOS WOWBABEL
OPINI KITE