Objek Wisata di Indonesia Dituduh Plagiat

Rabbit Town di Bandung dituduh menjiplak karya seni luar negeri. (ilustrasi: wowbabel)
Rabbit Town di Bandung dituduh menjiplak karya seni luar negeri. (ilustrasi: wowbabel)

WOWVIRAL - Sebuah taman hiburan baru yang diklaim dirancang untuk "pariwisata selfie" di Indonesia mendadak viral di dunia Internasional. Tempat wisata tersebut dinamai Rabbit Town yang terletak di Jalan Ranca Bentang 30-32 Ciumbeluit Bandung, Jawa Barat. Sayangnya, Rabbit Town dituding menjiplak karya seni terkenal internasional

Dilansir media ternama di Inggris The Guardian, Rabbit Town memiliki kebun binatang Kelinci dan instalasi seni dengan replika dari karya-karya terkenal. Salah satu instalasi, yang disebut Patrico Sticker Room di Singapura, menampilkan ruangan serba putih yang ditutupi dengan titik-titik berwarna, terlihat sangat mirip dengan ruang kerja seorang seniman Jepang bernama Yayoi Kusama.

Karya seni internasional lain yang konon telah disalin Rabbit Town yakni bangunan lampu depan instalasi Chris Burden’s Urban Light di Los Angeles, Amerika Serikat. Sementara di Rabbit Town Bandung dinamai Love Light (Lampu Cinta), dan beberapa kamar yang memiliki kemiripan yang nyaris sama seperti di Museum of Ice Cream di Los Angeles.

Rabbit Town Bandung sendiri ditujukan sebagai tujuan untuk "pariwisata selfie" dan di akun Instagram-nya @rabbittown.id dituliskan tagline “The way to more happiness”, diselingi oleh emoji kelinci, menampilkan puluhan tamu yang mengambil foto disana.

Sunaryo, seorang seniman terkenal dan pemilik galeri di Bandung, cukup kaget dengan viralnya Rabbit Town di media sosial pekan ini.

"Ini memalukan, karena Bandung dikenal sebagai kota kreatif tetapi kemudian Anda menjumpai seseorang yang membuat ini (jiplak-red)," katanya.

"Bagi seniman yang bekerja keras untuk karir mereka, sakit hati mereka jika karya mereka diambil seperti itu," imbuhnya.

Sunaryo mengatakan inspirasi di balik karya-karya Rabbit Town sangat jelas menjiplak dan secara komersial pun nantinya akan bermasalah.

Dia menyarankan agar pengelola Rabbit Town harus meminta maaf dan memperjelas status izinnya.

Sementara, Amir Sidharta, seorang peneliti seni dan juru lelang, mengatakan Rabbit Town jelas melayani pasar seni.

 "Saya pikir Rabbit Town adalah jenis tempat dimana pemilik sangat responsif terhadap apa yang orang lihat di museum," katanya.

"Orang-orang pergi ke museum bukan untuk meningkatkan pengetahuan mereka, tetapi lebih untuk mengambil foto narsis," tambahnya

Amir mengungkapkan, orang-orang di dunia seni di Indonesia sangat kecewa dengan Rabbit Town, bukan hanya karena masalah hak cipta.

“Kebun bernuansa tematik dapat dibuat dengan mudah dengan melibatkan banyak seniman Indonesia, karena kami memiliki banyak seniman Indonesia berbakat yang dapat menghasilkan kreasi unik, dan itu akan jauh lebih menarik," lanjutnya.

Rabbit Town sendiri dibuka pada bulan Januari 2018 oleh Henry Husada, kepala eksekutif dan ketua Kagum Grup, dan terletak di lahan seluas dua hektar. Menurut laporan situs berita Kompas.com. ketertarikan Husada pada Kelinci berasal dari shio yang dimilikinya sendiri.

Selain mengambil foto selfie, pengunjung Rabbit Town juga dapat memberi makan Merpati dan Ikan Koi, melihat Monyet, Kelinci peliharaan dan melihat koleksi patung Kelinci milik Husada. Rabbit Town buka Senin sampai Sabtu mulai pukul 10.00 – 20.00 wib, dan hari Minggu mulai 09.00-20.00 wib.

Pengelola Rabbit Town mematok harga masuk minimal Rp25 ribu untuk syarat pengisian top up e-Card. Pengunjung dapat menikmati beberapa wahana foto yang menarik dengan tarif setiap wahana berkisar Rp10-15 ribu.



TRENDING TOPICS
MEDSOS WOWBABEL