Ceng Beng Bukan Sekedar Ritual Keagamaan

Endi    •    Jumat, 06 April 2018 | 12:51 WIB
Travel
Salah satu warga Tionghoa melakukan Sembahyang Kubur di kuburan salah satu leluhur. (wow babel)
Salah satu warga Tionghoa melakukan Sembahyang Kubur di kuburan salah satu leluhur. (wow babel)

WOWBUDAYA - Tradisi Sembahyang Kubur atau Ceng Beng, bagi warga keturunan Tionghoa yang beragama Konghucu, Kamis (5/4/2018), di komplek pemakaman Sentosa, di Jalan Soekarno Hatta, Pangkalpinang, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, memasuki puncaknya.

Ribuan warga etnis Tionghoa dari berbagai daerah, sejak pukul 03.00 subuh sudah datang ke makam leluhur mereka dengan membawa serta sanak saudara, melaksanakan ritual yang rutin digelar setiap tahunnya.

Tidak hanya sembahyang dan berdoa, sejumlah sesajen seperti daging ayam, daging babi, minuman, kue serta buah-buahan tersaji di depan makam. Juga replika uang, pakaian, sepatu, rumah dan lainnya sebagai bahan ritual sakral ini.

Ceng Beng sendiri merupakan, bentuk penghormatan kepada leluhur warga keturunan Tionghoa yang telah meninggal dunia.

"Makna dari ritual ini lebih kepada penghormatan atas jasa-jasa leluhur kita terhadap apa yang telah dilakukannya untuk kita," jelas Ketua Yayasan Sentosa, Johan Ridwan Hasan.

Pria yang akrab disapa Aping ini mengatakan, ritual Ceng Beng merupakan ritual wajib yang harus dilakukan oleh setiap anak cucu keturunan Tiongha. Maka tak heran, di pemakaman yang diklaim sebagai komplek pemakaman terluas di kawasan Asia Tenggera ini, selalu ramai.

"Disini kurang lebih ada sekitar 13 ribu makan yang berdiri sejak 1935 dengan luas sekitar 20 hektar. Memang pernah diklaim sebagai makam terluas di Asia Tenggara," jelas Aping.

Bahkan, meski bertempat tinggal juah dari makam leluhur mereka, mereka selalu menyempatkan diri untuk pulang dan melakukan penghormatan kepada leluhurnya.

"Mereka yang makam leluhurnya disini, dari manapun pasti datang kesini, bahkan sudara saya yang ada di Australia, Singapora datang untuk tradisi ini," ujarnya.

Biasanya, 10 hari sebelum puncak Ceng Beng, pemakaman lebih dulu dibersihkan hingga dicat. Sebagian juga sudah menggelar sembahyang sebelum hari H. Sejumlah warga Tionghoa rela menyisihkan tabungan hanya untuk melakukan Ceng Beng.

Dibandingkan Imlek atau Tahun Baru China, Ceng Beng dianggap lebih prioritas bagi warga Konghucu yang masih hidup, karena ini bukti bakti mereka kepada keluarga terutama orang tua yang sudah meninggal dunia. Maka tak heran, perputaran uang di Bangka Belitung saat perayaan Ceng Beng sangat tinggi, ini dapat dilihat dari tingginya kenaikan jumlah penumpang di Bandara, dan harga tiket yang seketika melambung tinggi. Ditambah, geliat perekonomian di kota Pangkalpinang misalnya, mengalami peningkatan dibanding hari biasanya.

Ceng Beng berasal dari bahasa Mandarin yang berarti terang dan cerah, menurut sejarah, Ceng Beng dimulai sejak 2500 tahun lalu pada saat dinasti Zhou berkuasa.

Awalnya tradisi ini merupakan upacara yang menghubungkan dengan musim dan pertanian, serta tanda berakhirnya musim dingin. Namun dalam perkembangannya sebagai umat Konghucu mempercayai bahwa pada saat Ceng Beng pintu neraka dan surga dibuka lebar-lebar untuk memberikan kesempatan kepada penghuninya untuk mengunjungi anak keturunannya di bumi.

Di Pangkalpinang sendiri, tradisi ini sudah menjadi event pariwisata religi tahunan. Bahkan selalu digelar secara meriah, dengan hiasan lampion di sepanjang jalan masuk pemakaman serta lantunan musik khas Tionghoa yang hampir selalu terdengar saat berada di areal komplek pemakaman ini.

Sayangnya, pemerintah daerah tampaknya kurang melirik tradisi budaya kepercayaan ini, sebagai agenda wisata daerah yang tentu saja dapat menambah pendapatan bagi provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Pemerintah bisa saja membuat serangkaian kegiatan sebelum dan sesudah Ceng Beng agar para wisatawan dapat hadir, tidak hanya dari kalangan warga keturunan.



MEDSOS WOWBABEL
OPINI KITE