KPAD Gagalkan Pernikahan Remaja dengan Aki-aki

Endi    •    Rabu, 18 April 2018 | 14:24 WIB
Viral
ilustrasi
ilustrasi

WOWVIRAL - Sudah jatuh tertimpa tangga. Pepatah ini mungkin pas disematkan kepada pria berinisial YS, warga Desa Munggu, Kabupaten Bangka Tengah, provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel). 

Bagaimana tidak, uang puluhan juta sudah dikeluarkan untuk resepsi pernikahannya. Tenda, pelaminan berhias janur kuning, layaknya dekorasi pernikahan pada umumnya telah terpasang sedemikian rupa. Hari kebahagiaan pun tinggal menghitung jam. Namun sayang, niat itu gagal terlaksana, sehari sebelum pesta resepsi digelar.

Usut punya usut, YS yang umurnya genap 50 tahun, akan menikahi seorang gadis remaja yang masih berusia 16 tahun. Celakanya, sang ibu calon mempelai wanita, tak sudi anaknya menikah di usia dini, apalagi dengan sorang kakek-kakek.

Rupanya, sang ibu baru mengetahui jika anaknya akan dinikahi oleh sang kakek beberapa hari setelah rencana pesta resepsi pernikahan akan digelar. Ternyata ayah sang gadis yang sudah tak serumah lagi dengan istrinya itu, sebelumnya tidak memberitahu jika anaknya akan dinikahkan dengan laki-laki tersebut.

Sontak, sang ibu kaget jika seorang Aki-aki yang akan menjadi pendamping hidup anaknya.

"Saya tak sudi jika anak saya harus nikah dengan orang tua, bahkan usianya jauh lebih tua dari saya," ungkap ibu calon mempelai wanita, sembari menangis.

Nyaris putus asa, lantaran sudah mencari bantuan kesana-sini untuk menggagalkan rencana pernikahan anaknya, sang ibu akhirnya meminta perlindungan Komisi Perlindungan Anak Daerah (KPAD) Provinsi Kepulauan Babel.

Merespon keinginan sang ibu, KPAD langsung menyambangi keluarga ayah si gadis remaja. Melibatkan sejumlah intansi terkait, upaya mediasi pun di gelar di Kantor Lurah Sungaiselan, Bangka Tengah, Selasa (16/4/2018) sore.

Namun usaha KPAD sempat menemukan jalan buntu, lantaran ayah sang anak bersikeras agar anaknya menikah dengan sang pria pilihannya. Apalagi resepsi pernikahan yang direncanakan akan digelar Rabu (18/4/2018) pagi besok telah disiapkan sedemikian rupa.

Setelah melakukan proses mediasi alot, ayah si anak akhirnya melunak dan bersedia pernikahan anaknya dibatalkan. Begitu pun dengan sang calon mempelai pria, setelah diyakinkan pihak KPAD bahwa sang anak masih dibawah umur serta akan ada konsekuensi hukum menikahi anak dibawah umur, dengan jiwa besar menerima jika pernikahannya dibatalkan.

Rencana pernikahan ini akan digelar lantaran ketidaktahuan orang tua sang anak dan calon mempelai pria bahwa menikahkan anak dibawah umur tidak dibenarkan oleh undang-undang atau hukum negera.

Ketua KPAD Provinsi Babel, Sapta Qodria Mufta mengatakan, pernikahan urung dilakukan karena Bunga (bukan nama sebenarnya) masih berusia dibawah umur. Begitu juga saat dilakukan proses assesment, diketahui anak yang menjadi calon mempelai wanita tidak menyukai calon mempelai pria.

“Alhamdulillah, kami sudah realisasikan laporan pernikahan yang dipaksa, disuruh menikah oleh ayah kandungnya. Yang melapor ke kami ibu kandungnya,” jelas Sapta.

Sapta mengatakan, sementara waktu Bunga akan diambil alih oleh KPAD dan ditempatkan di Rumah Singgah guna memulihkan traumanya.

“Kami bekerjasama dengan pihak terkait lainnya untuk menempatkan anak ini di rumah singgah,” katanya.

Penempatan anak di rumah singgah dilakukan hingga kondisi psikis anak normal kembali, untuk kemudian diantar kembali kepada pihak keluarga.

“Bisa satu minggu, dua hari, satu tahun. Anak ini akan dikembalikan ke keluarga apabila sudah ada penyelesaian,” imbuhnya.

Dalam upaya pemulihan trauma anak, lanjut Sapta, pihaknya akan menyiapkan psikolog untuk mendampingi.

”Tentu sudah kami siapkan psikolog untuk mendampingi si anak, baik itu dari KPAD maupun dinas terkait lainnya,” tandasnya.

Sementara itu, meski gagal menikah, kakek YS tetap santai, ia mengaku menerima keputusan yang diambil. Terlebih, dirinya juga tidak mengira keputusan menikahi dipersoalkan oleh ibu calon mertua.

“Ya gak apa-apa, mau bagaimana lagi. Ini sudah jadi kuasa Allah SWT, lillahitaa'la, jadi pun syukur tidak pun gak apa-apa, siapa tau besok dapat jodoh baru,” ungkap Kakek YS, yang sudah menduda sejak tujuh lalu.

Sementara ibu korban menangis haru setelah usahanya menuai hasil. Diharapkan kasus ini menjadi pelajaran bagi masyarakat lainnya di Bangka Belitung. Apalagi dengan memaksa kehendak orang tua kepada sang anak menikah di usia dini.



TRENDING TOPICS
MEDSOS WOWBABEL