Nelayan Sungailiat Terbantu oleh CSR PT TIMAH

Tim Wow    •    Selasa, 24 April 2018 | 15:07 WIB
Lokal
Pondok Teduh melayan lingkungan Matras Sungailiat, bantuan CSR PT TIMAH Tbk tahun 2017. Sekaligus tempat istirahat para nelayan setelah melaut. (jar)
Pondok Teduh melayan lingkungan Matras Sungailiat, bantuan CSR PT TIMAH Tbk tahun 2017. Sekaligus tempat istirahat para nelayan setelah melaut. (jar)

WOWSUNGAILIAT - Matahari siang terasa menyengat. Latif di bawah pondok teduh nelayan di tepi Pantai Matras masih menikmati santap siang. Sedangkan rekannya Amin sesama nelayan baru saja menyelesaikan sisa makan siangnya. Mesin kapal mulai dari 5 PK hingga 13 PK tergantung rapi di dinding pondok teduh yang baru tahun lalu berdiri.

Musim utara sejak awal Desember lalu menjadi waktu istirahat panjang mesin kapal. Karena nelayan di Pantai Matras lebih banyak menganggur. Ombak besar berisiko untuk melaut. Sudah tiga bulan, aktfitas melaut ini terganggu. Sekedar untuk menutupi pasokan keuangan rumah tangga sesekali para nelayan di Pantai Matras ini memberanikan diri menantang gelombang, “Masa paceklik, sudah hampir tiga bulan ini banyak istirahatnya,” kata Latif.

Pondok teduh bagi nelayan adalah tempat yang membuat mereka nyaman untuk beristirahat. Pondok teduh nelayan bantuan dana CSR PT TIMAH setahun lalu berdiri. Di sinilah sesama nelayan yang biasa mangkal di tambat labuh Pantai Matras Sungailiat bercengkrama.

Nelayan semacam Latif hanya bisa bertahan, sudah lebih 20 tahun melaut, ketiga anaknya dibesarkan dari hasil tangkapan. Penghasilan sebagai nelayan kecil tergolong pas-pasan. Diapun tak mampu untuk menyekolahkan anaknya hingga perguruan tinggi.

“Untuk makan sehari-hari saja. Bersyukur masih bisa menghidupi keluarga dari nelayan ini” ujarnya.

Latif, satu dari ribuan nelayan di Sungailiat yang tergantung pada laut. Di Pantai Matras saja terdata ada 60 nelayan. Baru 20 nelayan yang tergabung dalam kelompok usaha bersama (KUB) Sungai Buntu dan Teluk Limau.

Bantuan CSR PT TIMAH pun baru menyentuh mereka yang tergabung dalam KUB. Kucuran bantuan berupa alat tangkap seperti mesin 9.8 PK, jaring ikan dan udang, GPS, hingga jaket pelampung. Bantuan yang diikhtiar untuk mendorong para nelayan bisa meningkat penghasilannya.

Memang semua belum tersentuh, karena bantuan serupa juga harus dibagikan kepada nelayan yang ada di pesisir Pulau Bangka, Belitung hingga ke Kundur di Provinsi Riau Kepulauan.

“Bantuan untuk nelayan dari PT TIMAH ini sangat membantu, seperti bantuan mesin kapal, jaring dan GPS yang nelayan butuhkan saa melaut,” kata Yusmed (43) Koordinator Nelayan Pantai Matars yang juga tergabung dalam KUB Sungai Buntu.

Di Lingkungan Matras Sungailiat, selain KUB Sungai Buntu ada KUB Teluk Limau. Kedua KUB ini tahun 2013 silam sudah dibantu masing-masing 10 unit mesin kapal 9,8 PK. Mesin-mesin ini ini masih setia menjalankan tugasnya mendorong kapal memburu ikan.

Bantuan CSR untuk KUB Sungai Buntu  tahun 2017 sebesar Rp15,050 juta, berupa jaring dan GPS dan KUB Teluk Limau Rp31,400.000 berupa  sarana alat tangkap. Pada tahun yang sama CSR juga memperbaiki dermaga nelayan II Sungailiat sebesar Rp30 juta. (*/CSR)



MEDSOS WOWBABEL