Konsultasi Publik PT GML Diwarnai Aksi WO Kades

Tim Wow    •    Kamis, 26 April 2018 | 22:47 WIB
Lokal
Kepala Desa Bukit Layang Andri didampingi Ketua BPD B?ukit Layang, Juandi saat memberikan keterangan kepada wartawan. (ist)
Kepala Desa Bukit Layang Andri didampingi Ketua BPD B?ukit Layang, Juandi saat memberikan keterangan kepada wartawan. (ist)

WOWBAKAM - Konsultasi Publik yang digelar PT GML lewat konsultan Aksena Jakarta di halaman kantor desa Mabat, Kecamatan Bakam kabupaten Bangka, Kamis (27/4/2018) diwarnai aksi Walk Out (WO) oleh perangkat desa setempat.

Sikap Walk Out tersebut karena dalam Konsultasi Publik oleh Konsultan Aksena hanya dihadiri sebagian desa yang terdampak serta tidak melibatkan dinas terkait yang ada di Pemkab Bangka.

Kepala Desa Bukit Layang Andri didampingi Ketua BPD B?ukit Layang, Juandi kepada wartawan mengaku, sikap Walk Out (WO) oleh perangkat desa yang hadir itu dilakukan karena pihak Konsultan Aksena tidak menghadirkan masyarakat 8 desa serta tempat yang digunakan pun dianggap tidak layak.

"Kenapa kami Walk Out, karena disitu tidak ada dinas dinas terkait yang hadir seperti lingkungan hidup (DLH), Dinas Ketenagakerjaan, Dinas Kehutanan dan Dinas Perkebunan serta perwakilan masyarakat pun tidak ada," ungkapnya.

Selain itu, kata Andri, tempat yang digunakan untuk konsultasi publik itu dianggap tidak layak mengingat proyektor yang digunakan ditempatkan di halaman kantor desa Mabat.

"Seharusnya proyektor itu ditempatkan dihalaman yang tertutup,bukan ditempat terbuka seperti itu," lanjutnya.

Karena sarana dan prasarana yang digunakan dianggap kurang layak, membuat sejumlah perangkat desa yang hadir menyatakan Walk Out (WO).

"Kalau seperti itu, otak kami tidak bisa berfikir jernih dan apa yang akan kami pertanggungjawabkan dengan masyarakat terhadap konsultasi publik ini mengingat hal ini menyangkut hajat hidup orang banyak," tandasnya.

"Selain itu PT GML selama ini kami rasakan secara aspek sosial kurang terhadap masyarakat Bukit Layang," ujarnya.

Aksi Walk Out yang dilakukan perangkat desa saat Konsultasi Publik berlangsung kata Andri memang tidak direspon oleh pihak perusahaan PT GML.

Hanya saja lewat aksi WO, pihaknya meminta kepada Konsultan Aksena untuk mengatur ulang jadwal pertemuan dan menghadirkan dinas dinas terkait dalam konsultasi publik ini. 

"Harapan kami dari semua desa dilibatkan dalam kegiatan RSPO ini," lanjutnya.

Dijelaskannya, kegiatan konsultasi publik ini dilakukan PT Gunung Maras Lestari (PT GML) oleh Konsultan Aksenta di halaman Kantor Desa Mabat, Kecamatan Bakam.

Pada kesempatan itu, PT Gunung Maras Lestari berniat untuk menjadi anggota pengelolaan sawit lestari RSPO (Roundtable ON Sustainability Palm Oil). 

Sebagai salah satu tahapan dengan melakukan tinjauan dan pembaruan pengelolaan dan pemantauan HCV di area HGU PT GML yang terletak di wilayah kecamatan Bakam, Kecamatan Puding Besar dan Kecamatan Pemali yang dilaksanakan oleh Tim Konsultan Aksenta, Jakarta.

Tujuannya kajian ini mengidentifikasi dan mengkaji keberadaan area area yang penting bagi kelestarian flora dan fauna, kelangsungan hidup manusia serta kelangsungan usaha dan pengelolaan kebun.

Ruang Lingkup yang dikaji meliputi area yang penting untuk flora dan fauna langka (HCV1), lansekap (HCV2), habitat habitat langka (HCV3), jasa lingkungan (tanah dan air,HCV4), penghidupan masyarakat terutama masyarakat lokal (HCV5) dan aspek aspek tradisi dan sosial budaya (HCV6).

Saat konsultasi publik digelar, pihak perusahaan hanya menghadirkan karyawan PT GML tanpa melibatkan masyarakat yang terkena dampaknya sehingga membuat perangkat desa yang hadir menyatakan Walk Out. 



MEDSOS WOWBABEL
OPINI KITE