Kebangkitan Rempah Nasional Mulai dari Lada (1)

Abeng    •    Senin, 30 April 2018 | 15:21 WIB
Opini
ilustrasi
ilustrasi

LADA, kadung identik dengan Provinsi Bangka Belitung. Padahal ada lima provinsi di Indonesia yang memproduksi lada. Hanya saja, nasib petani lada di Babel berbanding terbalik dengan aroma dan pedasnya. Sejak lima tahun terakhir, produksi lada petani terus menurun akbat diombang-ambing harga. Sejumlah jurus dilakukan untuk mengembalikan pamor lada Babel. Memang belum memberikan hasil.

Pemerintah pusatpun tak tinggal diam. Setidaknya kedatangan Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita baru-baru ini memantik keseriusan semuai pihak untuk membangkitkan kembali kejayaan tanaman jenis rempah itu di Indonesia. Sebab sudah lebih dari satu dasawarsa, lada Indonesia kian terancam oleh agresivitas, Vietnam.

“Bangka Belitung kaya akan lada bermutu yang diminati dunia. Hari ini dilakukan penandatanganan MoU antara Koperasi Lada Babel dengan perwakilan PT MTN Thailand terkait ekspor 3.000 ton lada untuk tahap pertama. Selamat! Mari kembalikan kejayaan rempah Nusantara!,” tulis Enggartiasto usai kunjunganya dari Pangkalpinang, pekan lalu.

Dihadapan para pejabat dan pelaku bisnis di Pangkalpinang saat memperingati Hari Konsumen Nasional, Enggar berjanji akan membantu pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung untuk membuka pasar ekspor lada Babel yang dikenal memilki kualitas terbaik.

"Kita akan bukakan pasar ekspor, pemerintah provinsi membentuk dan mendorong koperasi, selain itu juga mendatangkan importir dari berbagai negara," kata Enggar sekaligus mengingatkan agar pemerintah provinsi konsisten menjaga produksi dan meningkatkan mutu dan kualitas lada Babel.

Mendengar pidato Enggar dalam pertemuan tersebut, tampaknya pemerintah tidak main-main untuk mengangkat kembali kejayaan lada Indonesia, khususnya lada Bangka Belitung yang tersohor dengan muntok white pepper.

"Ketika kita membuka akses pasar ke berbagai negara yang akan kita dorong itu lada, tapi catatan dan pe-er (PR) kita juga itu kelangsungan produksi kita dan kualitasnya," tukas Enggar.

Oleh sebab itu, Kemeterian Perdagangan, dalam waktu dekat akan mengumpulkan eksportir lada untuk bekerjasama dengan petani melalui koperasi  yang dibentuk pemerintah provinsi.

Enggar membeberkan lada Babel yang memiliki kualitas tinggi kerap dicampur dengan lada asal daerah lain. Untuk mengantisipasi hal ini, maka pihaknya akan mencoba mendatangkan buyer secara langsung.

"3000 ton yang dieskpor perdana ke negera tujuan, kadang kala kualitas kita yang bagus itu di mix, sekarang buyer langsung datang dan ketemu melihat kualitas yang baik dengan harga yang buat mereka relatif murah, kita akan persiapkan berbagai hal," jelasnya.

"Saya sudah ingatkan, jika eksportir lada putih tidak mau maka saya sendiri membentuk asosiasi ini," kata Enggartiasto.

Ia mengatakan, pembentukan asosiasi itu sebagai upaya pemerintah mendorong ekspor lada putih dan menjaga konsumen di berbagai negara tujuan ekspor komoditas itu.

"Kita segera berkoordinasi dengan pemerintah daerah penghasil lada putih untuk mempercepat pembentukan asosiasi ini," katanya.

Ia menilai keberadaan eksportir lada antara ada dan tiada. Mereka ada jika menguntungkan dirinya tetapi tidak ada apa-apa dalam berbagai kegiatannya.

"Dengan adanya asosiasi ini dapat melindungi petani. Petani akan mendapatkan harga jual lada dengan harga yang baik, sehingga mereka tetap bersemangat dalam meningkatkan kualitas dan hasil ladanya," katanya.

 

Tetapkan Harga Ekspor

Sebelum menyaksi MoU antara Koperasi Lada Babel dengan eksportir, Kementerian Perdagangan (Kemendag) sepekan sebelumnya sudah menyelenggarakan acara temu usaha perusahaan dan industri pengguna lada. Adapun tujuan kegiatan tersebut diselenggarakan untuk lebih menggairahkan industri lada dalam negeri.

Pentinganya asosiasi eksporti lada, menurut Menteri Perdagangan Enggartiasto guna mendorong ekspor dan melindungi petani komoditas tersebut. 

Pada kesempatan itu, Wakil Ketua Gabungan Pengusaha Jamu dan Obat Tradisional Indonesia (GP Jamu), Thomas Hartono, mengusulkan ke Kemendag agar bisa mengatur soal Harga Patokan Ekspor (HPE) lada, sama seperti Crude Palm Oil (CPO).

Hal tersebut perlu dilakuan lantaran pedagang besar lada yang ada di Indonesia menyerap sebagian besar lada milik petani untuk kemudian diekspor. Jika tak diatur, ditakutkan pedagang besar mengekspor seluruh lada hasil serapan petani.

“Pedagang besar sulit dilawan. Mungkin dari 500 ton lada produksi petani, 400 ton dijual ke mereka. Karena kalau ekspor harganya lebih tinggi, mereka memilih untuk ekspor,” katanya di Kantor Kemendag, sebagai mana dikutip dari Kemendag.id.

Thomas mencontohkan pada industri jahe. Pada tahun lalu, pedagang besar jahe mengekspor sebagian besar serapan jahe petani ke India dan China seharga Rp8.500 per kg. Alhasil, industri jamu pada waktu itu kesulitan mencari jahe sebagai bahan baku.

“Karena industri itu ekspor menjual habis-habisan, kita terpaksa beli dari India yang mereka impor dari Indonesia itu. Tapi waktu kami beli harganya jadi Rp 24 ribu,” bebernya.

Sementara itu, Staf Ahli Menteri Perdagangan Bidang Pengamanan Pasar Kemendag, Sutriono Edi, mengaku akan membicarakan usulan GP Jamu itu bersama Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kemendag, Oke Nurwan. Dia memandang, HPE lada memang perlu ditetapkan agar harga lada Indonesia dapat menjadi referensi harga lada dunia seperti CPO.

“Ide yang sesuai keinginan kita, harusnya referensi harga lada internasional datang dari kita,” ucapnya.

Gubernur Kepulauan Babel Erzaldi Rosman Djohan mendukung kebijakan Kementerian Perdagangan membentuk asosiasi eksportir lada karena dapat meningkatkan produksi lada oleh petani di daerah itu.

"Selama ini kita terus berupaya meningkatkan hasil panen petani untuk mengembalikan kejayaan lada putih atau muntok white pepper di pasar dunia," kata erzaldi.

Kementerian Perdagangan akan membuka pasar ekspor lada putih petani di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung untuk meningkatkan produksi dan kualitas komoditas unggulan daerah ini..

Untuk membuka pasar ekspor komoditas ini, katanya, Kemendag meminta dan mendorong Pemprov  Babel segera membentuk koperasi petani lada putih guna memudahkan eksportir memenuhi permintaan pasar dunia.

"Kita akan kembali memberdayakan eksportir untuk menjaga kualitas lada putih," ujarnya.

Menurut dia, apabila bulan depan program ini belum berjalan, maka Kemendag akan kembali mengkoordinasikan kepada pemerintah provinsi.

"Pada tahun ini pasar ekspor lada harus berjalan, sehingga dapat meningkatkan produksi dan kesejahteraan petani," ujarnya.

Provinsi Babel adalah penghasil lada terbaik di dunia dengan tingkat kepedasan mencapai level 6 sedangkan lada negara lain tingkat kepedasannya hanya mencapai level 2.

Kementerian Koperasi dan UKM mendorong para para petani lada yang merupakan pelaku UMKM  di Provinsi Bangka Belitung untuk menerapkan sistem resi gudang untuk menjaga fluktuasi harga komoditas sepanjang tahun.

Asisten Deputi Pengembangan Investasi Kementerian Koperasi dan UKM Sri Istiati di Jakarta akhir pertengahan April ini, mengatakan sistem resi gudang akan sangat bermanfaat bagi petani lada untuk menjaga agar hasil panennya stabil harganya di pasaran.

"Apalagi di Provinsi Babel yang mulai beralih dari pertambangan kemudian mengangkat produk unggulan lokal dari sektor pertanian berupa lada dan madu hutan maka resi gudang bisa menjadi pilihan yang sangat baik," katanya ketika menggelar acara Sinergi Program Kerjasama Investasi, Sistem Resi Gudang dan Paket Kebijakan Ekonomi di Hotel Grand Puncak Lestari, Pangkalpinang.

Pihaknya juga mendorong pengelolaan sistem resi gudang oleh koperasi yang beranggotakan para petani lada. "Pemerintah siap mendukung koperasi pengelola resi gudang dari sisi pendampingan, kelembagaan, SDM, produksi, hingga pemasaran," katanya. (na)



TRENDING TOPICS
MEDSOS WOWBABEL