Kakek Nenek Sulap Lahan Kritis Eks Tambang Jadi Destinasi Wisata Wenarik

Endi    •    Jumat, 11 Mei 2018 | 20:25 WIB
Travel
Maryadi alias Mang Kalok dan Azizah istrinya merawat pohon pinus yang tumbuh di sepanjang pantai Mang Kalok. (foto: wowbabel)
Maryadi alias Mang Kalok dan Azizah istrinya merawat pohon pinus yang tumbuh di sepanjang pantai Mang Kalok. (foto: wowbabel)

WOWTRAVEL - Kepulauan Bangka Belitung (Babel) memang indentik dengan pertambangan timah yang banyak meninggalkan lahan kritis. Maka melihat lahan bekas pertambangan timah, bukan hal aneh di negeri yang dikenal dengan sebutan Bumi Serumpun Sebalai ini.

Maraknya penambangan di darat dan laut, membuat banyak kawasan menjadi rusak, tak jarang usai ditambang lahan-lahan tersebut dibiarkan tanpa upaya reboisasi.

Kendati demikian, masih ada yang peduli dengan kelestarian lingkungannya, seperti yang dilakukan Maryadi dan Azizah, warga asal Kabupaten Bangka. Bahkan mereka dengan sukarela melakukan pengembalian lahan kritis menjadi sesuatu yang luar biasa.

Ditangan suami istri ini, lahan eks tambang sekitar empat hektar yang berada persis di pinggir pantai Kawasan Rebo, Sungailiat, Kabupaten Bangka ini, disulap jadi tempat rekreasi menarik bagi warga.

Sejak tahun 2007 lalu, dua sejoli ini menanam satu demi satu bibit pinus di lahan keritis eks pertambangan tersebut, hingga jumlahnya mencapai ribuan. Alhasil setelah hampir 11 tahun, pohon-pohon ini tumbuh kokoh dan nampak indah dipandang mata, apalagi berada persis di pinggir pantai. 

Tempat ini oleh masyarakat dinamai Pantai Mang Kalok, sebuah nama yang diambil dari nama panggilan keseharian Maryadi. Nama ini sengaja ambil sebagai bentuk dedikasi kepada Mang Kalok atas jerih payahnya menciptakan tempat rekreasi menarik tanpa mengharapkan pamrih siapa pun.

"Kalau menanamnya ini mulai tahun 2007, sebelumnya kami berdua kerjaannya melimbang (cari pasir timah dengan cara tradisional). Cita-cita kita pengen ini jadi tempat pariwisata kedepannya," ungkap Mang Kalok.

Ide menanam pohon-pohon pinus itu, kata Mang Kalok, berawal dari keisengan sang istri, yang mencoba menanam pohon demi pohon di sela-sela waktu istrihatnya pada saat melimbang timah dikawasan tersebut beberapa tahun lalu.

"Awalnya kita hanya iseng-iseng, tapi lama kelamaan semakin luas, akhinya setelah besar seperti ini dipandang itu bagus, lalu dirawat lah sampai sekarang dan terus ditanam lagi," ujarnya.

Tidak hanya sekedar menanam, suami isitri ini setiap hari selalu memangkas ranting pohon dan membersihkannya, agar tampak indah dipandang mata.

Karena pekerjaan ini lah, mang kalok bersama istri beralih propesi menjadi merawat dan menajga pantai tersebut, dari sebelumnya melimbang. Meskipun demikian tak ada penghasilan yang di terima dari perkerjaan barunya ini.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari hari, keluarga ini berjulan aneka makan ringan di sebuah pondok sedernaha yang berdiri persis di tengah pohon pinus.

"Senang lah kalau liat pemandangan bangus alam bagus, biar lah bapak rawat ini saja, kalau cari makan dimana saja bisa, tapi kalau bangun seperti ini senang orang senang juga kita, tidak terukur dengan uang. kalau cari uang bisa kita jualan, walau hasilnya sedikit Alhamdulillah bisa mencukuipi," ungkap Azizah.

Setelah dibuka sebagai tempat rekreasi sejak 2015 lalu, masyarakat mulai ramai berkunjung ketempat wisata yang satu ini, tak jarang pengunjung menjadikan lokasi ini untuk berkemah. Apalagi berkunjung kesini tidak di pungut biaya seperpun, namun pengunjung diminta untuk selalu menjaga kebersihan.

"Menurut saya pantai ini cukup bangus, airnya masih jernih dan biru, pasirnya masih putih dan semakin indah berpadu dengan pohon-pohon pinus yang rindang, tapi sayang ada pertambangan yang sangat dekat dengan pantai," kata Ratu Kaisya salah satu pengunjung. 

Hal senada diungkapkan pengunjung lainnya, Fina. Menurutnya, pemandangan ribuan pohon pinus berpadu pantai sangat jarang ditemui dan hanya ditemukan di Pantai Mang Kalok.

"Bagus sih pantai dan pasarinya pas. Tapi sayang ditempat sebagus ini harus ada pertambangan kayak gitu. Harapnnya tidak ada lagi pertambangan di sini," imbuhnya.

Sayang memang, di tengah upaya pengembalian kawasan keritis ini, masih terdapat pertambangan timah yang berpapasan langsung dengan bibir pantai. Akibatnya air laut menjadi keruh saat tambang tersebut beroperasi, bahkan mengakibatkan rusaknya biota laut.

Sementara itu, selama hampir 11 tahun mengolah lahan ini, sepasang suami istri ini sama sekali belum pernah mendapat campur tangan pemerintah Provinsi Bangka Belitung, maupun pemda setempat.

Diharapkan pememrintah setempat dapat mengambil langkah tepat, sehingga lokasi ini bebas dari pertambangan.



TRENDING TOPICS
MEDSOS WOWBABEL