Penderita Kanker Payudara Ganas Hanya Bisa Pasrah

Endi    •    Kamis, 19 Juli 2018 | 21:26 WIB
Lokal
Halimah dan penyakit yang dideritanya. (wowbabel.com)
Halimah dan penyakit yang dideritanya. (wowbabel.com)

WOWBANGKA - Halimah (38) warga Desa Jurung Kecamatan Merawang Kabupaten Bangka, saat ini hanya bisa pasrah dengan penyakit Kanker Payudara ganas yang deritanya.

Ibu dari empat orang anak ini mengidap penyakit tersebut sudah sejak tiga tahun terakhir ini. Sayang, karena keterbatasan ekonomi membuat keluarganya kini tak mampu berbuat banyak. 

Jelasnya, kini penyakit Kanker Payudara ganas, yang diderita oleh warga Desa Jurung ini, keluarga Halimah sangat mengharapkan uluran tangan para dermawan, untuk biaya berobat penyakit yang dideritanya.

Sherly (20), anak dari sulung Halimah dari empat bersaudara, Kamis, (19/7/2018), menceritakan penyakit yang diderita oleh sang Ibu awalnya hanya benjolan kecil di payudara sebelah kanan. Namun, lama-kelamaan benjolan tersebut semakin membesar dengan rasa sakit yang luar biasa.

"Kami sudah pernah membawa ibu kami ke rumah sakit RSUD Sungailiat dan dinyatakan ada benjolan di payudara dan harus dioperasi. Tak berapa berselang dilangsungkan operasi. Setelah operasi payudara ibu kami sebelah kanan habis diangkat," katanya.

Namun lanjut Sherly, setelah operasi dokter menyarankan pihak keluarga untuk mengecek benjolan tersebut apakah kanker ganas atau jinak. Hanya saja, pihak keluarga memutuskan tidak melakukannya lantaran tidak memiliki biaya.

"Untuk mengecek benjolan butuh biaya Rp1 juta. Setelah operasi ibu kami sehat hanya 8 bulan dan benjolan tumbuh lagi dibekas operasi yang pertama. Setelahnya benjolan itu makin membesar dengan rasa sakit yang luar biasa," ujarnya.

Akhirnya, kata Sherly, pihak keluarga kembali membawa Ibu Halima ke RSUD Sungailiat. Lalu dokter menyarankan untuk operasi kedua. 

"Kami setuju untuk itu. Setelah operasi dokter menyarankan kami untuk membawa Ibu kemo terapi di Palembang, tapi nasib ibu kami buruk. Kami pihak keluarga tidak bisa membawa ibu berangkat untuk kemo terapi tersebut. dikarenakan biayanya akhirnya kami membawa ibu kami pulang ke rumah. Lalu setelah operasi kedua kurang lebih 8 bulan ibu kami dinyatakan hamil," papar Sherly.

"Karena dokter menyarankan ibu tidak boleh KB dan tumbuh benjolan lagi di tempat lama dan kami pihak keluarga tidak bisa berbuat apa-apa dan kehamilan ibu dipertahan kan sampai ibu melahirkan," lanjutnya.

Selama masa kehamilan Halima, benjolan tersebut semakin membesar karena hormon kehamilan. Hingga kemudian melahirkan secara caesar di RSUD dr.(h.c). Ir. Soekarno. Setelah operasi melahirkan berselang 1 bulan setelahnya kembali dilakukan operasi ketiga untuk pengangkatan benjolan kanker di RSUD (h.c) Ir Soekarno.

"Setelah selesai operasi ketiga jarak satu Minggu bekas operasi ibu kami bolong dikarenakan benang putus sebab kulit ibu kmi tidak bisa ditarik dan dijahit. Langsung kami bawa ke rumah sakit untuk dilangsungkan operasi penampalan lobang bekas operasi tersebut dari daging paha ibu kami. Setelah operasi berjalan lancar akhirnya kami membawa ibu pulang ke rumah setelah 3 hari di rumah sakit," terangnya.

Derita Halima belum kunjung berakhir, setelah sehat hanya 9 bulan, lalu benjolan itu tumbuh lagi dan lama kelamaan benjolan semakin membesar. Pihak keluarga pun lantas membawa Halima ke Rumah Sakit dan dokter menyarankan lagi untuk kemoterapi di Palembang. 

Pihak keluarga tetap tidak bisa berbuat banyak. Lagi-lagi biaya jadi biang utamanya. Pilihan operasi untuk ke-empat kalinya pun harus ditempuh Halima, namun ceritanya tetap sama tidak mendapati kesembuhan.

"Kasihan ibu siang-malam mengeluh sakit, sebagai anaknya saya gak tega lihat ibu terus-terusan begini," ucap Sherly, seraya terisak menahan tangis.

Mirisnya lagi, dalam kondisi menyedihkan itu. Sangat disayangkan hingga saat ini Halima belum pernah mendapat bantuan serta perhatian pemerintah daerah.

"Selama ini Ibu belum pernah mendapat bantuan serta perhatian apapun dari pemerintah maupun dewan. Untuk berobat Ibu, untuk beli obat bapak menyisihkan uang sedikit dari gajinya, karena untuk makan sehari-hari juga susah," ungkapnya.

Sedangkan pengasihan ayah kami, hanya mendapatkan 450 ribu perminggu, "Karena ayah kami bekerja gajinya seminggu sekali," tukasnya.



MEDSOS WOWBABEL