Nelayan Basel Keluhkan Alat Tangkap Cawang

Endi    •    Rabu, 01 Agustus 2018 | 22:26 WIB
Lokal
Pertemuan nelayan Basel dan Pimpinan DPRD Babel. (wowbabel.com)
Pertemuan nelayan Basel dan Pimpinan DPRD Babel. (wowbabel.com)

WOWPANGKALPINANG - Sejumlah perwakilan Nelayan Batu Betumpang, kabupaten Bangka Selatan (Basel), Rabu (1/8/2018) kembali mendatangi kantor DPRD Provinsi Bangka Belitung (Babel), guna menyampaikan keluhan mereka terhadap keberadaan nelayan asal Sungsang Banyuasin, Sumsel dan Tanjung Balai Kepulauan Riau di perairan mereka.

Pasalnya, nelayan luar daerah Basel tersebut, beroperasi menggunakan alat tangkap cawang yang dianggap telah merugikan nelayan setempat.

"Keberadaan kapal jaring cawang itu sudah berulang-ulang dari tahun 2015. Kedatangan kami kesini karena cara kerja jaring cawang di dasar laut otomatis merusak karang, juga otomatis merusak kehidupan bawah laut," jelas Perwakilan Nelayan Batu Betumpang, Ali Akbar.

Tidak hanya itu, kata Ali, keberadaan jaring cawang membuat nelayan merugi, sebab alat tangkap nelayan menjadi rusak.

"Jaring cawang membahayakan nelayan kita. Jika ketemu rawai punya nelayan rusak, nelayan kita rugi. Apalagi kapal alat jaring cawang berkapasitas lebih dari 10 GT. Untuk itu kami minta DPRD dan pihak terkait menindak jaring cawang," harapnya.

Sementara itu, Ketua DPRD Provinsi Babel, Didit Srigusjaya meminta, pada pihak terkait secepatnya melakukan operasi bersama menindaklanjuti aspirasi dari nelayan Basel ini.

"Ini harus ditindaklanjuti segera. Jangan sampai apa yang disampaikan masyarakat yang datang jauh-jauh ke sini menjadi sia-sia. Kita berharap DKP habis ini langsung koordinasi dengan Lanal, Pol Air, dan Satpol PP. Untuk Satpol PP dilibatkan karena mereka instansi pengamanan pemerintah daerah," pinta Didit.

Ketua DPD PDI Perjuangan Provinsi Babel itu, secara khusus mendesak DKP Provinsi Babel agar secepatnya menindaklanjuti aspirasi nelayan terkait jaring cawang tersebut. Apalagi, keberadaan kapal yang dilengkapi alat tangkap cawang itu sudah beroperasi sejak tahun 2015.

"DKP jangan berdiam diri, segera koordinasi biar cepat lebih bagus," tukasnya.



MEDSOS WOWBABEL