Sawit Tak Laku, Petani Terpuruk

Barly    •    Sabtu, 10 November 2018 | 13:20 WIB
Lokal
ilustrasi (net)
ilustrasi (net)

WOWPANGKALPINANG – Sejak tiga bulan terakhir petani kelapa sawit di Bangka Belitung, khususnya petani mandiri, mulai kesulitan menjual buah tandan segar sawit milik mereka.

Para petani sawit ini mengeluh lantaran sejumlah pabrik kelapa sawit enggan membeli sawit mereka, kalaupun dibeli dengan harga murah berkisar antara  Rp 350 hingga Rp 500 per kilogram. Bahkan sejumlah petani memilih tidak memanen sawit mereka dan membiarkannya membusuk di pohon.

Hali Salim, petani sawit asal Kelurahan Koba, mengaku sejak tiga bulan belakang ini kesulitan menjual sawit.

“Sekarang agak susah, harga murah berkisar antara Rp 500 per kilogram,” kata Hali saat dihubungi wowbabel.com, Sabtu (10/11/2018).

Hali mengaku menjual sawit ke sebuah perusahaan yang berada di sekitar Kecamatan Koba dan  Bangka Tengah. Sejak tiga bulan terakhir pihak perusahaan sudah membatasi pembelian dan lebih mengutama sawit dari kebun perusahaan sendiri.

“Paling kita dapat jatah satu kali dalam dua minggu, itu hanya satu mobil sekitar delapan ton dengan harga kisaran Rp 500 per kilogram. Terkadang sebulan tak dapat jatah penjualan,” tutur Hali.

Lebih lanjut Hali mengungkapkan pada bulan-bulan sebelumnya harga sawit sempat anjlok menjadi Rp 350 per kilogram dan membuat petani terpuruk.

“Beberapa waktu lalu cuma dihargai Rp 350 per kilogram, terpaksa juga karena untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, apalagi saat itu mau hari raya kurban,” ujar Hali.

Hali mendapat informasi jika rekan-rekan petani di daerah Bangka Selatan dan Bangka Induk kondisinya lebih parah dan tidak bisa sama sekali menjual sawit mereka. Sehingga mereka sudah mulai kesulitan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

“Saya dengar teman-teman di Bangka Selatan dan daerah Kota Kapur sama sekali tidak bisa jual sawit, bahkan dibiarkan membusuk. Petani kecil yang hanya panen satu ton hingga tiga ton tidak bisa menjual sama sekali, tidak laku,” ungkap Hali.

Hali berharap pemerintah daerah bisa segera mengatasi persoalan ini dan mencari solusinya sehingga petani tidak semakin terpuruk.

Hal yang sama juga diungkapkan Maryono, petani sawit asal Desa Cabai, yang mengaku sudah dua bulan tidak memanen sawit miliknya lantaran kesulitan untuk menjualnya.

“Sudah hampir dua bulan tidak memanen, harga murah dan kadang tidak bisa jual ke pabrik. Sawit dibiarkan membusuk di pohon,” keluh Maryono .

Menurut Maryono, sejumlah pabrik sawit beralasan over kapasitas dan lebih mengutamakan sawit milik kebun perusahanan sendiri daripada sawit petani mandiri. Sehingga sawit milik petani mandiri banyak yang membusuk lantaran tak laku terjual.

“Biasanya paling lambat dua minggu sekali bisa jual, tapi sekarang terpaksa tidak jual. Kadang kala pihak perusahaan membatasi pembelian juga sehingga kita kesulitan. Karena itu saya pilih tidak memanen, khawatir nantinya capek-capek memanen tapi tidak laku dijual,” tutur Maryono.

Lebih lanjut Maryono mengatakan, peraturan yang dikeluarkan Gubernur Bangka Belitung soal harga beli sawit tak efektif untuk mengatrol harga sawit di tingkat petani.

“Walaupun ada pergub, nyatanya harga sawit tetap saja murah, tidak efektif,” ujar Maryono.

Begitu juga saat menanggapi upaya Tim Satgas Sawit Babel yang melobi perusahaan di Sumsel untuk membeli sawit petani asal Babel. Maryono mengatakan hal itu bisa saja dilakukan tapi tentunya harus dengan perhitungan yang matang. Biaya transportasi harus dipikirkan.

“Tapi sebenarnya sangat miris kalau harus jual keluar, itu artinya kita tidak mampu mengatur daerah kita sendiri. Kalau jual keluar tanpa perhitungan yang matang, malah nanti petani bisa rugi, sawit bisa busuk di jalan,” kata Maryono.

Menurut Maryono, lebih baik pihak pemerintah daerah berupaya mengundang investor untuk membuka pabrik  sawit baru.

“Salah satu solusinya adalah membangun pabrik-pabrik sawit baru dengan demikian hasil panen petani bisa dibeli dan ditampung,” tukas Maryono.(bar)



TRENDING TOPICS
MEDSOS WOWBABEL