Soekarno-Hatta Pengasingan di Bangka (bag.1)

Abeng    •    Rabu, 12 Desember 2018 | 21:21 WIB
Opini
Pada tahun 1948, Bung Hatta dalam pengasingan pasca Agresi Militer Belanda II. Foto: KTLV
Pada tahun 1948, Bung Hatta dalam pengasingan pasca Agresi Militer Belanda II. Foto: KTLV

PULAU Bangka, adalah satu bagian penting dalam meraih dan mempertahankan kemerdekaan bangsa ini. Masa pengasingan proklamator Soekarno-Hatta bersama para pemimpin bangsa lainnya kurun waktu 1948-1949 menentukan arah perjalanan bangsa hingga saat ini.

Siang hari di 22 Desember 1948, tepatnya 70 tahun silam, atas perintah Kolonel D. R. A. van Langen penguasa perang Belanda, pesawat pengebom B-25 milik Angkatan Udara Belanda, mendarat di bandara Kampung Dul (Depati Amir) Pangkalpinang. Mulai hari itulah, Pulau Bangka menjadi penentu perjalan sejarah kemerdekaan bangsa Indonesia babak berikutnya.

Di dalam pesawat tersebut ada para pemimpin bangsa, Soekarno (Presiden), Mohammad Hatta (Wakil Presiden), Sutan Sjahrir (mantan Perdana Menteri), Agus Salim (Menteri Luar Negeri), RS Soerjadarma (Kepala Staf Angkatan Udara), MR Asaat (Ketua Komite Nasional Indonesia Pusat/KNIP), dan AG Pringgodigdo (Menteri Sekretaris Negara). Tak ada satupun penumpang pesawat yang tahu ke mana mereka akan dibawa. Pilot pesawatpun bawa surat tugas penerbangan setelah berada di dalam pesawat.

Dari Yogjakarta, pesawat mendarat di Kampung Dul. Soekarno, Agus Salim, dan Sutan Sjahrir, setiba di Pangkal Pinang diterbangkan lagi ke Brastagi, Sumatera Utara. Hanya Mohammad Hatta, Mr Assaat, Abdul Gafar Pronggodigdo, dan Panglima AURI Suryadarma diturunkan di Bangka. Pada akhir 1949, menyusul kemudian Menteri Pengajaran Ali Sastroamidjojo dan Ketua Delegasi RI Mo



1   2      3