Hidup Pantjasila, Bhineka Tunggal Ika

Tim_Wow    •    Jumat, 14 Desember 2018 | 16:02 WIB
Opini
Patung Bung Hatta di depan Pesanggrahan Menumbing.(wb)
Patung Bung Hatta di depan Pesanggrahan Menumbing.(wb)

* Soekarno-Hatta Pengasingan di Bangka (2)

MESKI Pulau Bangka sudah dikuasai Belanda dan termasuk daerah federal. Akan tetapi, rakyat Bangka tampak tetap republikan.

"Itulah yang kami saksikan selama berada di Bangka. Dalam beberapa kesempatan, Bung Hatta berkeliling Pulau Bangka dan dapat dilihat semangat rakyat pro republik tidak ada bedanya dengan daerah republik," ujar Roem dalam bukunya yang dikutip Liputan6.com.

Para pemimpin Republik Indonesia yang diasingkan di Pulau Bangka ditempatkan di dua tempat. Rombongan Bung Hatta dan Mr Assaat, Suryadarma dan Mr Pringgodigdo di pesanggrahan puncak gunung Menumbing. Adapun, Bung Karno, Haji Agus Salim, Mr Ali Sastroamidjojo serta Roem di pesanggrahan Perusahaan Timah (Wisma Ranggam) di Muntok.

"Boleh dikatakan setiap hari kami menerima tamu yang menengok dan bertanya, apakah kami memerlukan sesuatu? Jangan dihitung juga jamuan makan siang atau malam, di mana kami diundang. Kalau tidak dibatasi oleh Bung Hatta, tiap hari kami makan di rumah orang, sedangkan di pesanggarahan terus disediakan makan," ungkap Roem.

Setelah pagar kawat berduri di Menumbing dibongkar oleh Belanda barulah para pemimpin Republik ini bisa kelaura. Mohammad Hatta dalam buku Menuju Gerbang Kemerdekaan (Untuk Negeriku Sebuah Otobiografi) menulis “Kami sudah bebas naik oto keliling Bangka BA 10, sopir seorang Tionghoa peranakan. Ia gembira sekali  membawa kami.”

Tak saja warga sekitar Muntok, kabar para pemimpin republik dalam pengasingan bisa keluar dari pengurungan beredar luas di Bangka. “Tatkala rakyat sekitar Muntok sudah mengetahui kami boleh keluar dari ”pertapaan”  banyak datang permintaan agar kamai mengunjungi kampung mereka, misalnya di Sungai Liat, jebua, dan Belinyu.”

Di Menumbing ini juga bentuk rasa syukur Bung Hatta akan semangat rakyat Bangka  di menulis membuat puisi.  Pulau Bangka dalam kenangan Bung Hatta memiliki arti bagi kemerdekaan Indonesia. Puisinya yang pernah terpahat pada lempeng besi saat peringatan Proklamasi RI Agustus 1951. Bung Hatta pun sempat kembali ke Bangka pada tahun itu.

Kenang-kenang Menumbing

Dibawah Sinar gemerlap terang tjuatja

Kenang-kenang membawa kemenangan

Bangka, Djokdjakarta, Djakarta

Hidup Pantjasila, Bhinneka Tunggal Ika (*)

Halaman