Pekik Merdeka!! Sepanjang Jalan

Abeng    •    Sabtu, 15 Desember 2018 | 16:08 WIB
Opini
Museum Timah Indonesia, saksi bisu perjanjian Roem Royen 7 Mei 1949. (ist)
Museum Timah Indonesia, saksi bisu perjanjian Roem Royen 7 Mei 1949. (ist)

MEMASUKI awal Tahun 1949, Pulau Bangka, khususnya Pangkalpinang menjadi sorotan. Awalnya perundingan digelar di Wisma Menumbing, selanjutnya dipindahkan ke Pangkalpinang. Lokasi perundingan sekarang menjadi Museum Timah Indonesia. Perundingan-perundingan membahas kerangka perjanjian Roem-Royen. Perjanjian pada 7 Mei 1949 itu diikuti Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag, 2 November 1949.

Sebelum KMB, situasi menjelang pelaksanaannnya tak jauh lebih alot. Bangka menjadi pusatnya. Seperti yang pernah dikatakan Mr Gafar Priggodigdo kepada Mohammad Hatta dalam buku Menuju Gerbang Kemerdekaan (Untuk Negeriku).

“Suatu waktu saat kami datang ke Pangkalpinang untuk berunding dengan KTN,  Mr Gafar Pringgodigdo berkata Aku merasa ada dua sumber percaturan internasional di dunia ini, yakni United Nations dan Bangka,” tulis Hatta.

Tersiar kabar 5 Februari 1949, Soekarno dan H Agus Salim dipindahkan dari Parapat ke Bangka. Keduanya menumpang pesawat milik KTN. Ikut dalam rombongan dr Darmasetiawan, Mr Soepomo, Anak  Agun Gde Agung mewakili BFO. Kedatangan rombongan hendak membicarakan percepat penyerahan kedaualatan. Para pemimpin republik inipun terkagum melihat rakyat Bangka yang menggap diri mereka adalah bagian dari Republik. Padahal status Bangka di bawah negara federal.

“Saat kami pergi ke Pangkal Pinang, mulai dari Muntok banyak rakyat berkumpul dan menyorakkan merdeka sepanjang jalan. Seolah-olah Bangka daerah RI yang diduki Belanda,” ujar Hatta.

Tak sebatas itu saja, Hatta menulis saat mereka berunding dengan KTN dan bermalam Pangkalpinang, mereka diundang Masyarif Ketua Dewwn Bangka atau oleh Sidi Minik Demang Kepala Pangkalpinang, “Ada saja pemuda dan rakyat datang ke rumah sekedar bersalaman,” kata Hatta.

Kekaguman Hatta akan rakyat Bangka dituliskannya ketika tokoh republik, Suryadarma tinggal di Pangkalpinang karena tidak ikut rombongan ke Menumbing.

“Apabila ia ke pasar membeli apa-apa ke toko Indonesia, sang empunya tidak mau bayar. Diberikannya saja sebagai bantuan kepada Bapak Republik Indonesia dari Yogya,” tukas Hatta.

Bahkan Hatta mengatakan, di Pangkangkalpinang, dia menyaksikan sendiri jika rakyat Bangka sudah menjadi rakyat Indonesia.

“Kemana-mana kami pergi kami disambut pekik Merdeka, dan hadiah-haiah kepada kami dibungkus kain Merah Putih. Sebab itu, banyak orang di Pangkalpinang berkata bahwa Pemerintah Belanda menjadi propangadais Pemerintah Republik Indonesia,” tulis Hatta.

Selama pengasingan, tokoh kemerdekaan membaur bersama warga. Pada 28 Mei 1949 romobongan Soekarno-Hatta dari Menumbing menuju ke Pangkalpinang hanya untuk menghadiri pertandingan sepak bola. Dana hasil pertandingan untuk disumbang ke pejuang di Yogyakarta. Namun rombongan tidak dapat menonton pertandingan.

“Tepat malam harinya Masyarif meninggal, kami tak jadi menghadiri sepakbola, karena ikut mengantarkan jenazah ke kubur, H Agus Salim berbicara atas nama kami”.

Dalam buku tentang Bangka, Mohammad Roem membenarkan ada kalimat yang berbunyi: "Dari Bangka datangnya kemenangan", sebagai salinan peribahasa Belanda: "Van Bangka begint de victorie".

"Hal itu memang ada benarnya, apabila kita melihat perjuangan secara keseluruhan. Memang pada saat Presiden Sukarno dan Wakil Presiden Hatta di Bangka itu, berlangsunglah saat di mana roda sejarah berganti, yang bawah berputar ke atas. Tapi jangan lupa bahwa saat itu Bapak Sjafrudin meneruskan perjuangan sebagai Perdana Menteri Pemerintah Darurat, sementara para gerilyawan tetap meneruskan perjuangannya," beber Roem.

Roem juga menegaskaan, Dewan Keamanan PBB mempunyai peranan dalam berputarnya roda sejarah itu. Resolusi Dewan Keamanan 29 Januari 1949 yang disusul dengan resolusi 23 Maret 1949, dilaksanakan dengan perundingan yang dimulai 14 April dan berakhir 7 Mei 1949 dengan Statement Van Roijen-Roem, yang menjadi jembatan ikut sertanya Republik dan Konperensi Meja Bundar di Den Haaq, dari 23 Agustus 1949 sampai 2 November 1949. Diikuti dengan penyerahan dan pengakuan kedaulatan berlangsung pada 27 Desember 1949.

Dari hasil perundingan itulah pada 30 Juni 1949 kembalilah Ibu Kota RI ke Yogyakarta, dan pada 27 Desember 1949 kembalilah ke seluruh daerah Republik Indonesia.

"Meskipun merupakan sesuatu keberhasilan yang menggembirakan dalam perjuangan, waktu kami pulang pada 6 Juli ke Yogyakarta, saya tidak dapat menekan rasa haru dan sedih karena harus berpisah dari rakyat Bangka yang selama ini memelihara kami dengan sangat sempurna," ucap Roem. (*)



MEDSOS WOWBABEL
OPINI KITE