Harga TBS Naik, Petani Apresiasi DPRD dan Kapolda Babel

Tim_Wow    •    Jumat, 01 Maret 2019 | 21:36 WIB
Lokal
Ketua DPRD Bangka Belitung Didit Srigusjaya dan Kapolda Bangka Belitung Brigjen (Pol) Istiono berfoto bersama dengan para petani sawit dan pengelola pabrik CPO di Gedung DPRD Bangka Belitung, Jumat (1/3/2019).(fn/wb)
Ketua DPRD Bangka Belitung Didit Srigusjaya dan Kapolda Bangka Belitung Brigjen (Pol) Istiono berfoto bersama dengan para petani sawit dan pengelola pabrik CPO di Gedung DPRD Bangka Belitung, Jumat (1/3/2019).(fn/wb)

PANGKALPINANG,www.wowbabel.com -- Ketua DPRD Bangka Belitung, Didit Srigusjaya dan Kapolda Bangka Belitung, Brigjen (Pol) Istiono, Jumat (1/3/2019) pagi, bertemu dengan sejumlah petani dan pengelola perusahaan CPO di Gedung DPRD  Bangka Belitung.

Pertemuan ini merupakan kelanjutan dari pertemuan sebelumnya untuk membahas rendah harga tandan buah segar (TBS) sawit yang dikeluhkan para petani di Bangka Belitung.

Pihak DPRD  Bangka Belitung dan Polda Bangka Belitung telah mengundang 15 perusahaan CPO kelapa sawit dan meminta mereka untuk menaikan harga beli TBS. Ternyata ini berdampak pada kenaikan harga TBS di tingkat petani.

“Kita sampaikan langkah preventif dalam pergub. Pak Kapolda juga akan mengundang kembali pengusaha CPO pabrik sawit menindaklanjuti aspirasipetani,” ungkap Didit.

Menurut Didit, untuk menjaga harga TBS harus dibahas melalui peraturan gubernur (pergub) yang saat ini sedang dibahas oleh Biro Hukum Pemprov Babel. Ini juga harus melibatkan pihak legislatif dan Polda Babel agar bahasa hukumnya jelas.

 “Jangan sampai pergub melanggar hukum. Kita minta dilibatkan, begitu juga polda dan kejaksaan agar bahasa hukum berkualitas dan pakem,” imbuh Didit.

Ketua DPRD Babel juga memberikan apresiasi kepada Kapolda Babel yang memiliki komitmen menjaga stabilitas harga TBS.

 “Apapun hasilnya nanti Polda dan DPRD akan menyiapkan langkah strategis untuk menjaga harga,” janji Ketua DPRD  Babel.

Sedangkan Kapolda Babel, Brigjen (Pol) Istiono mengatakan pihaknya akan memantau harga TBS di lapangan dan akan memutus mata rantai broker serta mendorong KUD.

 “Kita menampung aspirasi, harapan dan keinginan masyarakat tentang keluhan harga TBS dari petani ke pabrik sangat rendah disini,” kata kapolda.

 

Menurut Kapolda  Babel, pengelola pabrik CPO sudah merespon sehingga di lapangan selisih rendah karena tidak mengikuti regulasi yang ada.

“Ditingkat broker selisih terlalu lebar, pabrik konsisten harganya, broker hargai hanya Rp 500-Rp 800. Setelah dipangkas,  dibenahi semua kita sosialiasi kalau tetap melanggar kita tindak tegas,” ujar Brigjen (Pol) Istiono.

Ditambahkan kapolda, pekerjaan rumah saat ini adalah memantau harga TBS dan broker. Pemangkasan harga harus berkoordinasi dengan pengelola pabrik CPO. Sambil berjalan agar stabilitas harga terpelihara perlu adanya komunikasi antara petani dan dewan termasuk instansi terkait.

 “Saya kasih waktu sampai Maret untuk benahi masalah ini. Saya minta harga naik, sebelum Maret juga sudah respon cepat. Petani kumpul sampaikan apresiasinya, apa yang sudah dilakukan DPRD dan komisi sekaligus tindak lanjut di lapangan,” tukas Kapolda.

Fistarianto, petani sawit asal Desa Air Bulin mengapresiasi langkah yang dilakukan Kapolda Babel dan DPRD Babel. Menurutnya sudah dua minggu ini harga TBS mulai naik. Saat ini harga sudah berkisar Rp 1.050 per kilogram, jika dibandingkan sebelumnya hanya Rp 500 per kilogram.(fn/wb)



MEDSOS WOWBABEL