PT Timah Tbk Catat Laba Rp531,35 Miliar

ilustrasi
ilustrasi

PANGKALPINANG, www.wowbabel.com - PT Timah Tbk (TINS) tahun 2018 masih mencatat laba besih 5,44 persen dari capaian laba tahun 2017. Padahal tahun lalu, BUMN tambang menghadapi pasar global yang tidak menentu. Pada tahun 2018, TINS membukukan laba bersih Rp531,35 miliar naik 5,44 persen dari laba tahun lalu sebesar Rp502,4 miliar.

Dalam laporan keuangan yang dikutip dari siaran pers Kabid Humas PT Timah Tbk pada Selasa (12/3/2019), laba bersih terbentuk dari peningkatan pendapatan usaha yang tercatat sebesar 16,65 persen dari Rp9,21 triliun pada 2017 menjadi Rp11,05 triliun pada 2018.

Keuntungan atas revaluasi properti investasi juga meningkat dari Rp105,08 miliar di 2017 menjadi Rp208,58 miliar pada 2018. Perusahaan juga mencatat pendapatan lain meningkat dari Rp44,31 miliar menjadi Rp68,67 miliar. Kemudian, pendapatan keuangan juga tumbuh dari Rp24,64 miliar menjadi Rp38,92 miliar. 

Sementara itu sebagian besar beban keuangan mengalami peningkatan. Beban pokok pendapatan 2018 mengalami peningkatan menjadi Rp9,37 triliun dari sebelumnya pada 2017 Rp7,69 triliun. Beban penjualan juga meningkat dari Rp83,75 miliar di 2017 menjadi Rp109,8 miliar pada 2018.

Total jumlah liabilitas dan ekuitas perusahaan tambang pelat merah tersebut sampai dengan 2018 mencapai Rp15,11 triliun. Adapun masing-masing jumlah liabilitas sebesar Rp8,59 triliun dan ekuitas sebesar Rp6,52 triliun.

PT Timah Tbk sebelumnya mencatat laba tahun berjalan 2018 turun 16,6 persen dari capaian semester I-2017. Tercatat laba tahun berjalan semester I-2018 sebesar Rp55 miliar, atau turun dari sebelumnya Rp66 miliar.

Mengutip laporannya dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu, 22 Agustus 2018, pendapatan perusahaan juga turun dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp2,04 triliun menjadi Rp2,03 triliun.

Sementara itu, sepekan setelah Indonesia Commodity and Derivatives Exchange (ICDX)  membuka kembali pasar timah murni batangan, harga pada  level US$ 21.283 per metrik ton, melemah sekitar 1,17% atau sekitar US$ 21.535 per metrik ton pada sepekan sebelumnya. Adapun volatilitas tertinggi mencapai 0.62%. Dalam transaksinya melemah 93,79% menjadi 18 lot dibandingkan periode yang sama bulan lalu. 

Analis ICDX, Yoga Girta mengatakan peraturan baru dari Direktorat Jenderal Perdagangan Luar Negeri (DJPLN) yang berlaku mulai 1 Maret 2019, berdampak besar pada penurunan volume ekspor.

“Karena para smelter termasuk PT Timah Tbk (TINS) harus memenuhi persyaratan baru sebelum mereka dapat mengekspor timah,” kata Yoga dalam risetnya, Senin (11/3/2019).

 

Harga di ICDX Melemah

Pada 4 Maret 2019, ICDX telah meluncurkan kontrak fisik timah baru dengan menggunakan gudang Pusat Logistik Berikat (PLB) sebagai lokasi pengiriman setelah diperdagangkan di Bursa. 

Penggunaan PLB akan membantu menghilangkan risiko dalam negeri bagi pembeli dan penjual timah dengan menjamin status hukum timah yang disimpan oleh PLB. Katanya ini dalam upaya solusi untuk isu pengiriman yang sudah melekat sejak akhir Oktober 2018. (*)



TRENDING TOPICS
MEDSOS WOWBABEL