ICAC Bahas Identitas Indonesia di Asia

Tim_Wow    •    Minggu, 24 Maret 2019 | 22:45 WIB
Nasional
International Classical on Asian Community (ICAC) memasuki pertemuan keenam dan digelar di Ball Room Hotel Bumi Asih Pangkalpinang, Jumat (21/3/2019).
International Classical on Asian Community (ICAC) memasuki pertemuan keenam dan digelar di Ball Room Hotel Bumi Asih Pangkalpinang, Jumat (21/3/2019).

PANGKALPINANG, www.wowbabel.com -- International Classical on Asian Community (ICAC) memasuki pertemuan keenam dan digelar di Ball Room Hotel Bumi Asih Pangkalpinang, Jumat (21/3/2019).

Tak kalah menarik dari lima sesi sebelumnya, sesi kali ini mengupas tuntas tentang Indonesia menuju identitas Asia atau apakah Indonesia memiliki identitas Asia. Dengan narasumber Dekan FISIP UBB , Ibrahim serta Wakil Rektor 1 IAIN Syekh Abdurrahman Siddik, Rusydi Sulaiman.

Ibrahim, Dekan FISIP UBB  membahas tentang " identity, local nationalism and the important of unity ini diversity : Indonesian experience" atau menuju identitas Asian, apakah kita memiliki identitas Asia? Menurut Dekan FISIP ini, identitas Asia, atau Asian Identity yang dibahas disini bukan dalam konteks fisik atau cultural yang  selama ini sudah ada, tetapi dalam konteks value, konteks nilai, yang sebetulnya ingin dibangun. Seperti kita dengan Cina berbeda, kita dengan Singapore berbeda, bukan itu yang kita persoalkan , bukan soal kita ingin menyamakan dengan rumpun identitas kita, seperti tarian yang sama, tetapi lebih kepada nilai.

Untuk berbicara identity tersebut, Ibrahim telah berhasil mengemukakan beberapa peluang diantaranya adalah adanya keterbukaan informasi yang memungkinkan kita untuk tidak menutup diri satu sama lain, yang batasnya begitu tipis, sehingga kita tidak bisa lagi menghindari keterbukaan informasi. Karena itu begitu mudah diakses.

"Seperti yang terjadi di New Zealand, dengan tragedi penembakan 40  umat muslim, seluruh dunia berduka, dan ini menjadi contoh nyata betapa tipisnya komunitas  lintas batas ini , dan kita dengan mudah mengutuk kejadian tersebut. Namun dengan kejadian tersebut disisi lain ada hal yang menarik, yang dapat kita lihat. Seperti pengalaman saya di tahun 2007, ketika  saya mengunjungi salah satu sekolah di Chicago , dimana sekolah tersebut merupakan sekolah muslim, mulai dari tingkat, SD, SMP hingga SMA. Saya memiliki kesempatan berbicara dengan salah satu kepala sekolahnya ,dan berdiskusi mengenai apa yang terjadi ketika bom WTC yang terjadi di Amerika serikat tahun 2011 lalu, dan ternyata yang terjadi mereka berlomba lomba mencari Alquran untuk mencari tahu mengapa orang rela mati syahid , dan orang rela dibunuh demi ibadah dan agamanya. Dan mereka tidak pernah menerima perlakuan buruk pasca pengeboman WTC . Ini menandakan bahwa ada persoalan yang membuat orang melakukan tindakan komunikatif pada masyarakat yang poskuler, Sehingga identitas menjadi sangat trans,” ungkap Ibrahim.

"Mengapa orang begitu peduli seperti halnya yang terjadi saat ini, dapat kita lihat di media sosial, banyak orang di New Zeland menjaga muslim yang sedang sholat. Banyak orang  mendekati masjid dan mendengarkan azan , dan sebagian masuk masjid, walau dengan pakaian seadanya, dan itu real. Dan saya meyakini bahwa itu terjadi, karena itu yang terjadi dan yang saya amati dan dengar ketika saya berada di Chicago kala itu. Orang justru tertarik belajar agama Islam, karena mereka menginginkan ada sesuatu yang baru yang bisa mereka  pelajari. Dan itu saya tidak heran. Jika ada orang berlomba-lomba mendengar azan yang begitu merdu, orang berlomba lomba mendatangi masjid, Karena ada situasi yang begitu tipis yang kemudian berkembang,” kata Ibrahim.

Seperti di Eropa pertumbuhan masyarakatnya sangat tinggi, seperti yang dikatakan Santayoji waktu itu, 87 persen manusia dimuka bumi beragama, dan 13 persennya tidak beragama. Di Eropa pertumbuhan orang masuk agama Islam sangat tinggi, dikarenakan adanya kerinduan  ketika sekurelisasi menghajar sedemikian rupa, sehingga muncul kerinduan akan nilai-nilai agama yang tidak didapat hanya dengan situasi yang berkembang. Bahwa keterbukaan informasi itu mendorong situasi itu terjadi.

Adanya fleksibilitas  kekuasan , kita melihat orang mengatakan negara komunis sekarang, yaitu negara China, sebagai negara komunis namun menjadi sarang kapitalis. Sedangkan Amerika Serikat mereka negara yang sangat liberal tapi konservatismenya sangat tinggi , orang orang yang menghujat Donald Trump orang orang yang konservatif tinggi ialah orang orang yang sebenarnya menentang LGBT sebagaimana yang digaungkan partai Demokrat milik Barack Obama , artinya ada fleksibilitas kekuasan yang sangat kuat.

"Lalu kita berhadapan dengan Indonesia sebagai negara demokrasi baru yang sangat besar , maka akan ada bonus demografi yang dapat kita nikmati hingga 2040 , yaitu satu kondisi dimana angkatan kerja kita lebih tinggi dan lebih besar dari pada orang yang harus dilindungi dan dijaga. Seperti orang tua dan anak kecil, bonus demografi ini jikalau tidak dikelola maka akan jadi peluang persoalan," tutur Ibrahim.

Selain itu dikawasan Asia tidak ada negara yang dominan, walaupun China yang memiliki proyek  jalur sutra, mereka sudah membayangkan memiliki jalur sutra yang dimiliki China yang akan dihubungkan dengan Indonesia, namun tidak ada negara yang terlampau dominan. Karena masing masing mempunyai kelemahan dan kekurangan.

Begitu juga dengan Indonesia,  negara besar , popularitasnya besar, wilayahnya juga besar, pluralitasnya juga besar, lalu kemudian  kasus lintas batas, juga banyak terjadi , seperti Jepang dan China, Indonesia  dengan Malaysia, yang memperebutkan pulau. Menjadi persoalan kawasan. Kemudian timbul gagasan untuk mendorong politik Asia, Ada kecendrungan bagaimana negara Asia ini secara politik hampir mirip dengan gagasan Eropa yaitu satu euro, apakah kita memungkinkan menuju kesana? One Asia pondatio, memang tidak secara spesifik menyebutkan bahwa mari kita membangun dan membentuk istilah one Asia , satu komunitas tetapi bagaimana nilai-nilai ketimuran menjadi lokus geografi yang sama.

Adapun tantangannya adalah menguatnya politik identitas , politic of different , seperti saat  ini . Warga Indonesia berhadapan dengan polarisasi politik  pilpres yang mengarah pada politik identitas walaupun sebenarnya politik ini sangat berbahaya, karena akhirnya memporak porandakan bangunan, keseragaman . Kemudian menguaknya priodalisme, dengan rasa, kita merasa etnis kita lebih baik, kita merasa kita yang paling bagus, ini merupakan fenomena fenomena primodialisme . Seperti yang terjadi di UBB saat ini jumlah penduduknya yang berasal dari luar sekitar 20 hingga 25 persen namun tidak menjadikan penduduk asli lemah, melainkan semakin kuat agar mampu berkompetisi.Dan ketidaksiapan berkompetisi menjadikan oportunisme , berfikir jangka pendek, atau fragmatis yang melahirkan KKN .

"Membayangkan Bangsa Asia , kita punya kesamaan historis, kita sama pernah dijajah. Keserumpunan historis dan identitas. Kebutuhan lintas batas negara. Geografi kita sama, dan perdamaian sebagai tujuan. Kita membutuhkan satu sama lain, dan kita membicarakan tujuan perdamaian, maka One Asia menjadikan perdamaian dan pendidikan sebagai pilar utama. Hubungan jangan saling menjebak, namun harus saling menguntungkan, walaupun secara ras kita berbeda. Serta hapus dari baying-bayang apakah kita memiliki identitas sama, serta bisa menerima perbedaan orang lain , Maka  hindari perbenturan antar peradaban. Hapuskan skat, hingga membuka diri,” tutur Ibrahim.

Ibrahim berharap kelas internasional ini tidak sebatas 16 pertemuan saja, melainkan ada kelanjutannya, dengan adanya campur peserta dari luar negara, sehingga ilmu, budaya betul-betul dapat diserap dengan baik. Kita membarter satu sama lainnya, sehingga promosi identitas Asia bisa melalui Generasi muda di Asia. Yang dapat berfikir terbuka ,  berfikir global.

"Sebagai pribadi memperkuat kapasitas jangan sampai orang menyerbu kita maka kita tidak siap. Kita menyiapkan diri, karena bahasa menjadi sebuah kebutuhan, mari kita memperkuat  , meningkatkan percaya diri. Yang fokus menimba ilmu , kapasitas kepercayaan diri jadi penting, namun tidak over confidence,” tuka Ibrahim.

Sedangkan menurut Rusydi Sulaiman, Political Trends ini Islam : Akar politik Arab dan persentuhannya dengan Islam di Indonesia, melalui peradaban timur tengah , antara politik dan budaya. Sebelum ada agama yang menyembah banyak tuhan, ada juga agama menyembah banyak Tuhan dan agama yang menyembah satu tuhan. Kita merubah peradaban dari peradaban orang Lom menjadi peradaban lah. Lah besunat, la be khitan, sedangkan orang Lom, masih bergantung dengan alam. Orang Lom ada orang darat dan orang laut. Orang yang sangat bergantung pada alam laut. Kalau orang darat bergantung dengan alam darat.

"Secara tradisi peradaban kita  antara Lom dan lah, antara Chinese dan Melayu. Kita banyak terkontaminasi seperti kata kata taipau, pantiau, bakpao, yang merupakan peninggalan etnis cina, yang terus diadopsi hingga sekarang, Ada banyak hal , fakta yang menyentuh kita. Banyak fakta fakta yang kadang membuat kita minder. Misal kita terbang dari Korea ke Jakarta, ketika di bandara kita disodorkan cat dan kanvas, diminta untuk menggambarkan Negara Korea , sehingga kita bisa membayangkan negara tersebut dan menceritakanya dalam sebuah gambar. Sedangkan Peradaban Islam di Bangka karena ada peradaban di Kemuje. Pondok pesantren yang kuat yang ada diniahnya. Dengan semangat kedisiplinan hingga menjadikan kita besar " tutur Rusydi.

Demokrasi bukan segalanya, tetapi kita juga tidak bisa memutuskan demokrasi. Agama bukan yang normatif, Arab atau Islam, tidak semua Arab Islam, contoh di Mesir. Arab selama ini sangat normatif, yang kemudian menjadi simbolik, maka muncul jubah. Yang substansial dalam fikih Islam itu bukan jubah atau jilbabnya. Melainkan dia menutup aurat atau tidak. Kita sudah terkontaminasi dengan symbol-simbol. Contohnya, tidak pernah pakai kopiah, namun ketika hendak mencalonkan diri jadi anggota legislatif mengenakan kopiah. Hal ini tidak substansial dalam agama, politik kita . Islam bukan Arabisasi. Urusan agama urusan yang sangat privat antara kita dengan Allah.

"Di negara maju agama itu tidak dibicarakan, ada empat hal yang tidak boleh kita sentuh pertama agama, kalau kita masih jatuh diposisi itu maka bisa dikatakan kita low culture, yang kedua pekerjaan. Yang kemudian akan mengganggu dan memberikan kesenjangan sosial , sehingga gaji atau penghasilan tidak perlu ditanya. Yang ketiga sikap politik, kenapa dinegara maju partai politik itu sedikit. Untuk menghindari itu, terlepas dia demokratis atau tidak, dan keempat keluarga , tidak perlu kita menanyakan apakah seseorang itu sudah menikah atau belum," tukasr Rusydi.(*)

 



TRENDING TOPICS
MEDSOS WOWBABEL