Profesor Tanigaki Kupas Society 5.0

International Classical on Asian Community (ICAC) memasuki pertemuan ketujuh dan digelar di Ball Room Hotel Bumi Asih Pangkalpinang, Jumat (27/3/2019).(wb)
International Classical on Asian Community (ICAC) memasuki pertemuan ketujuh dan digelar di Ball Room Hotel Bumi Asih Pangkalpinang, Jumat (27/3/2019).(wb)

PANGKALPINANG,www.wowbabel.com -- International Classical on Asian Community (ICAC) memasuki pertemuan ketujuh dan digelar di Ball Room Hotel Bumi Asih Pangkalpinang, Jumat (27/3/2019).

Kerjasama FISIP Universitas Bangka Belitung dengan One Asia Foundation ini mengundang dosen University of Tokyo menjadi nara sumber yakni Profesor Tanigaki Mariko dengan topik bahasan society five point'zero (5.0), masyarakat Hongkong, serta hubungan Jepang dengan Asia.

Saat menyampaikan sambutan, Tanigaki menceritakan sedikit riwayat hidupnya hingga bisa menjadi seorang dosen di Universitas of Tokyo, serta membuktikan bahwa kondisi masyarakat Jepang mengalami perubahan, dan akan membuktikan perubahan tersebut.

"Mungkin anda bisa melihat penampilan saya,  dari penampakan saya wanita. Mungkin setelah orang tau bahwa saya seorang pengajar profesor di Tokyo University , universitas tebaik di Jepang maupun di dunia. Maka kemungkinan  orang akan mengira saya berasal dari Tokyo dari kalangan keluarga yang luar biasa, tapi sebetulnya saya lahir di daerah Khiuzu. Yang merupakan kepulauan yang berada jauh dibawah selatan Khongzu. Jadi saya bukan orang kota, jauh di selatan Tokyo. Dan SMA saya juga bukan sekolah favorit , dan  orang tua saya juga bukan seorang akademisi, hanya seorang penjahit pakaian. Pada saat mendaftar di perguruan tinggi, tidak ada kolom pekerjaan orang tua. Tidak juga menulis asal kita dari mana, serta jenis kelamin. Jadi artinya, asal nilai kita bagus, bisa masuk ke University of Tokyo,” tutur Tanigaki.

Dari pengalaman Tanigaki dalam menempuh pendidikan dapat diambil kesimpulan jika masyarakat di Jepang  adil, artinya tidak ada kesenjangan baik dari jenis kelamin, pekerjaan orang tua , maupun asal usul.  Asal bisa mengikuti dan mendapatkan nilai yang bagus maka bisa masuk ke perguruan tinggi yang bergengsi.

"Disini saya akan menjelaskan kenapa tertarik dengan Hongkong, berawal dari menonton Film Bruce Lee. Ini adalah film yang pertama kali saya lihat, dengan menonton film ini kehidupan saya berubah total, dan ketika saya menonton ini Bruce Lee sudah meninggal. Tapi saat itu saya ingin sekali menulis surat untuknya sebagai penggemar,” ungkap Tanigaki.

Dengan menonton film tersebut, menjadi pemicu Tanigaki untuk belajar bahasa Inggris. Sehingga dapat mengantarkannya ke University of Tokyo.

"Saat itu saya sebagai orang kampung, tapi dikatakan Bahasa Inggris saya bagus sehingga bisa masuk University of Tokyo.  Dan setelah masuk ke University of Tokyo, setelah saya berada disana ternyata banyak mahasiswa internasional. Saat itu ada mahasiswa dari Malaysia, Indonesia maupun Hongkong,” katanya.

Untuk mendalami ilmu dibangku kuliahnya, Tanigaki kemudian belajar bahasa kanton dari mahasiswa yang berasal dari Hongkong.  Sehingga mengantarkannya menjadi dosen di Tokyo.

"Kalau orang Jepang bisa Bahasa China standar banyak, namun yang mengerti Bahasa Kanton itu hanya segelintir , dan saat itu saya salah satu yang bisa berbahasa Kanton,” imbuhnya.

Mungkin akhir akhir ini penduduk dibelahan bumi manapun sudah mulai mendengar istilah  society five point' zero. Namun akan bertanya kemana society one point' zero, society two point'zero, three point'zero dan four point'zero.

Menurut Tanigaki, society one point' zero itu, pada saat manusia berada di zaman berburu. Society two point' zero masa masyarakat bertani. Dan masa three poin zero masa industri. Sedangkan society four points zero dimana masyarakat dikonekting dengan internet.

Dalam society five point zero ini, masyarakat  dikoneksikan dengan internet, masyarakat dikenalkan dengan robot sebagai alat membantu perkembangannya.

Namun mungkin diantara para mahasiswa yang ada di kelas ini sudah tahu apa itu society five point'zero. Dan bagi yang belum tahu bisa mencari dan browsing di internet sebagai langkah awal mempelajari itu.

Menurut Tanigaki, internet sebagai corong society five point' zero, dimana banyak hal hal yang seperti mimpi namun bisa diselesaikan dengan internet atau teknologi.

"Minggu lalu saya baru kedatangan tamu dari Gongzu dan saya mengantar ke kementrian ekonomi, kementrian pekerjaan umum, sekertaris negara dan disitu banyak dicertitakan kehidupan China jaman dulu. Ini merupakan hal yang disampaikan oleh pemerintah tentang China , tentang kejadian 20 tahun lalu. Banyak sekali hal-hal yang diceritakan, dan apakah ini sudah secara komplit atau sekedar mimpi. Sedangkan kondisi masyarakat Jepang dalam 20 terakhir mengalami kelesuan,” kata Tanigaki.

Di negara Jepang , Society five point'zero berawal dari permasalahan yang dihadapi Jepang kala itu , ialah persoalan sedikitnya angka kelahiran dan meningkatnya jumlah lansia. Dan sedikitnya jumlah manusia produktif. Sehingga migrasi dari desa ke kota tinggi, dan kesenjangan ekonomi diberbagai wilayah. Berbeda dengan Indonesia yang memiliki jumlah penduduk produktif yang sangat banyak.

"Pada tahun 90an ketika saya berkunjung ke Indonesia jumlah penduduk Indonesia hampir sama bahkan lebih sedikit dari Jepang. Dan ketika saya datang kembali ke Indonesia jumlah penduduknya sudah dua kali lipat dari Jepang. Dan saya juga melihat keluarga di Indonesia paling sedikit empat orang. Mungkin sedikitnya  angka kelahiran, atau tingginya angka lansia di Indonesia bukan masalah. Namun di jepang merupakan ini permasalahan serius, " ungkap Tanigaki.

Sedangkan permasalahan yang dihadapi Jepang, saat ini , Jepang terkenal negara industri , sebagai penopang perekonomian sedangkan penduduk Jepang sangat sedikit. Sehingga pemerintah Jepang , berpikir dengan serius apa yang akan dilakukan sepuluh tahun terakhir ini, sehingga terpikirkan society five point'zero.

Untuk itu pemerintah Jepang mulai menerapkan  society five point'zero sebagai basis pengerjaan industri maupun rumah tangga, dan  orang-orang akan berpikir dengan teknologi semua persolan dapat diselesaikan dengan mudah.

"Namun saya tidak seperti itu,  bagi saya  manusia tetap sebagai pelaku utama, meskipun ada robot. Komputer yang bisa menggantikan pemikiran manusia, namun pelaku utama tetap manusia. Dengan adanya sosiety five point'zero , masyarakat Jepang yang dulunya merupakan masyarakat yang homogen, yang tidak memiliki perbedaan budaya seperti Indonesia , namun sekarang menuju masyarakat yang multi culture, dan Jepang akan lebih luas lagi tentang cultural sosietynya,” tutur Tanigaki.

Jadi untuk society five point'zero banyak hal yang belum bisa dikembangkan di negara besar,  juga menyadari kehidupan masyarakatnya melangkah terus satu persatu ke atas. Tapi mungkin dalam waktu tidak lama lagi akan melejit kepada sesuatu yang lebih jauh lagi. Dan di Jepang untuk membuat telepon seluler, alat-alatnya dibuat dalam negeri. Berbeda dengan China spare part diambil dari luar dan dirangkai menjadi produk.

"Kami percaya dengan produk kami, telepon selular sangat bagus karena komponen dari dalam negeri. Sebagus apapun, yang terpenting bagaimana kita menciptakan suatu produk disuasana seperti sekarang. Dan kalau kita melihat itu, China lebih jeli. Jepang lebih pada kualitas sehingga China lebih diminati,” ungkapnya.

Untuk mengetahui jika Jepang berkembang, yaitu dengan pertumbuhan negara Jepang menjadi multikultural society yang dapat dilihat dari jumlah orang asing yang berada di Jepang.

"Pada awalnya orang Asia yang paling banyak di Jepang adalah, orang Korea. Tetapi setelah itu pada tahun 80an membludak pendatang dari China. Keturunan Korea. Keturunan cina, jadi jumlah imigran orang asing yang masuk dari China jauh lebih banyak dari Korea tahun 2008 sebelumnya orang turunan Korea yang banyak datang ke Jepang. Pada tahun 2018 jumlah orang asing yang masuk ke Jepang sebanyak 2,6 juta jiwa. Dan terbanyak dari Asia,” katanya.

Adapun jumlah pendatang yang masuk ke Jepang di antaranya dari Amerika Selatan. Kalau dari Amerika Selatan sekitar 258 ribu jiwa termasuk Brazil sebanyak 176 jiwa, Amerika 72 ribu. Dan orang asing yang ada di Jepang yang besaral dari China itulah yang paling banyak jumlahnya, sekitar 471 ribu .

Vietnam sekitar 291 ribu, Filipina 266 ribu, Indonesia masih sedikit sekitar 51 ribu dan Taipan sebanya 51.3 ribu kalau lihat angkanya Indonesia lebih sedikit dari Eropa dan Amerika yang datang ke Jepang. Ini mungkin bisa kita lihat. Kondisi pergerakan dari Hongkong ke Jepang. Betapa pergerakan manusia didunia sangat aktif, dan apakah komunitas Asia ini sudah terbentuk. Misalnya saja di Tokyo ada namanya Korean town.

Berbicara tentang Islam , Tanigaki menuturkan jika saat ini, pemerintah Jepang melalui  University of Tokyo telah menerbitkan buku tentang Islam, mulai dari makanan yang halal. Jadi ini salah satu bukti bahwa negara Jepang sudah membuka diri terhadap negara yang tergabung di Asia salah satunya Indonesia yang mayoritas muslim.

"Kalau kita lihat dari data statistik orang asing di Jepang, cukup bertambah dari tahun sebelumnya. Dan bagi orang Jepang kita sudah biasa dengan Indonesia . Jika orang ditanya Indonesia jawabnya Dewi Sukarno. Seperti halnya dalam buku ini, negara yang penduduk Islam terbanyak adalah Indonesia. Dari berbagai paparan. Satu hal yang ingin saya sampaikan Jepang sudah mengalami perubahan, sudah dapat melihat berbagai perbedaan budaya dan agama Islam," tukasnya.

Ketua Panitia Kelas Onternasional FISIP UBB, Sujatmi mengatakan jika pertemuan kali ini membahas perkembangan masyarakat yang terjadi di Jepang. Dimana mereka sudah memasuki tekhnologi yang canggih. Untuk itu kelas internasional mendatangkan orang yang ahli di bidangnya.

"Kami mendatangkan beliau , untuk memberi pencerahan kepada siswa seperti apa perkembangan di negara maju,  ternyata di Jepang sudah heboh society 5.0 sedangkan kita masih di 4.0 . Disana perkembangan teknologi sudah cukup pesat," ungkap Sujatmi.

Hal itu menurut Sujatmi, menjadi  pekerjaaan rumah untuk mengejar ketertinggalan. Jangan berbangga diri , namun tidak juga berkecil hati. Sehingga dapat mengejar ketertinggalan tersebut.

Dengan hadirnya narasumber dari Tokyo ini,  Sujatmi berharap mahasiswa dapat bangga serta dapat mengambil peluang untuk dapat lebih maju.(*)

 

 



TRENDING TOPICS
MEDSOS WOWBABEL