PT Timah Tbk Berburu Cadangan ke Nigeria

Direktur Utama PT Timah Tbk, Riza Pahlevi Tabrani.(dok)
Direktur Utama PT Timah Tbk, Riza Pahlevi Tabrani.(dok)

JAKARTA,www.wowbabel.com -- Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) PT Timah Tbk (TINS) memutuskan untuk membagikan dividen Rp 185,97 miliar, yang diambil dari laba bersih 2018. Tahun lalu perusahaan mengantongi laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk naik 5,57% menjadi Rp 531,35 miliar, dari 2017 sebesar Rp 502,43 miliar.

Laba tersebut diperoleh dari pendapatan usaha perusahaan yang tumbuh 19,88% menjadi Rp 11,04 triliun dari sebelumnya Rp 9,21 triliun.

Direktur Utama PT Timah Tbk, Riza Pahlevi Tabrani  saat RUPS yang digelar di Jakarta, Selasa (22/4/2019), mengatakan untuk menggenjot pertumbuhan perusahaan beberapa langkah telah disiapkan dengan menganggarkan belanja modal atau capital expenditure (capex) tahun ini sebesar Rp 2,58 triliun.

Belanja modal ini untuk PT Timah Tbk dan anak perusahaan. Tahun lalu, realisasi capex PT Timah Tbk mencapai Rp 1,18 triliun dari total anggaran capex sebesar Rp 2,3 triliun. Apa saja yang akan dilakukan?

1.      Melnajutkan pembangunan smelter teknologi fuming

Belanja modal 2019 untuk peningkatan kapasitas, produktivitas, efektivitas, dan efisiensi produksi. BUMN tambang ini akan melanjutkan pembangunan smelter. Perlu diketahui, smelter ini disokong dengan teknologi Fuming yang dapat memproses kembali tin slag (non valued material) yang saat ini tidak bisa diambil dengan menggunakan tanur yang ada, serta teknologi Ausmelt untuk memproses kadar bijih timah antara 40%-60%.

Riza memproyeksikan, tahun ini produksi TINS bisa tumbuh 20%-30%. Per 2018, produksi biji timah TINS mencapai 44.514 ton atau tumbuh 43% secara tahunan. Sementara volume penjualan logam timah mencapai 33.818 metrik ton atau naik 13% year on year (yoy).

“Kalau ditanya target produksi pada 2019 memang kami sedang ada tren kenaikan volume produksi yang signifikan. Kami sedang melihat tiga bulan pertama ini berapa produksi timah. Ini akan kami pakai sebagai pedoman realisasi produksi 2019 akan seperti apa,” kata Riza di Jakarta, Selasa (23/4).

Tercatat kuartal I-2019 produksi biji timah PT Timah Tbk mencapai  21.600 ton atau tumbuh 389% yoy. Sementara itu, logam timahnya mencapai 16.300 metrik ton atau meningkat 304% yoy.

2.      Memperluas cadangan ke  Nigeria

Upaya menggenjot pertumbuhan, PT Timah Tbk saat ini menjalankan eksplorasi dengan pengusaha lokal di Nigeria untuk penambangan timah di negara tersebut. Kerja sama  berbentuk joint venture dengan kepemilikan masing-masing 50%.  PT timah Tbk telah berinvestasi sebesar Rp 70 miliar dalam kerja sama bertujuan memperluas penguasaan cadangan timah.  

Per Oktober 2018, total cadangan aluvial TINS sebesar 415.358 ton atau masih bisa bertahan sampai sepuluh tahun ke depan.  Selain Nigeria, PT Timah Tbk mengkaji negara-negara lain seperti Myanmar.

3.      Pembangunan fasilitas  pengelola mineral tanah jarang

PT Timah Tbk tengah mengkaji rencana kerja sama dalam pemanfaatan logam tanah jarang. Sebagai informasi, logam tanah jarang mengandung 14 unsur mineral. Untuk itu, perusahaan ini berencana membangun fasilitas yang dapat memisahkan mineral tanah jarang yang menempel pada biji timah.

Menurut Riza, mineral olahan tersebut memiliki nilai komersial yang lebih bagus dibanding timah sendiri. Tahun ini, pengembangan tersebut masih dalam proses studi kelayakan, baik secara teknikal maupun nilai ekonominya.

“Tahun depan mulai bangun fasilitas pemisahan atau pengolahan mineral tanah jarang tersebut dan mulai bisa proses,” kata Riza. (*)



TRENDING TOPICS
MEDSOS WOWBABEL