Dismilaritas Standar Kecantikan

Jurnalis_Warga    •    Sabtu, 01 Juni 2019 | 21:50 WIB
Opini
Setya Devy Anggrainy (Mahasiswa Sosiologi FISIP UBB. (ist)
Setya Devy Anggrainy (Mahasiswa Sosiologi FISIP UBB. (ist)

BERBICARA tentang keberagaman suku bangsa, Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki banyak sekali suku dengan kebudayaan yang khas. Kebudayaan Indonesia sangatlah beragam, meski demikian keanekaragaman tersebut tidak menimbulkan perpecahan. 

Pada dasarnya bangsa Indonesia adalah bangsa yang berlandaskan “Bhineka Tunggal Ika” di dalamnya terdapat berbagai macam suku, bahasa dan kebudayaan yang berbeda antara satu dengan lainnya. Keragaman budaya di Indonesia adalah sesuatu yang tidak dapat dipungkiri keberadaannya.

Suku bangsa sendiri merupakan suatu golongan sosial yang mempunyai perbedaan dengan kelompok sosial lainnya mempunyai ciri-ciri yang mendasar biasannya berdasarkan keadaan biologis keturunan yang dianggap sama, berkaitan dengan asal usul tempat tinggal bahkan kebudayaannya.

Menurut Koentjaningrat definisi suku bangsa merupakan sekelompok sosial atau kesatuan hidup manusia yang mempunyai sistem interaksi, sistem norma yang mengatur interaksi tersebut, adanya kontinuitas dan rasa identitas yang mempersatukan semua anggotanya serta memiliki sistem kepemimpinan sendiri. Berbagai suku yang ada di Indonesia diantaranya suku Dayak, Batak, Madura Mentawai dan lain-lain. Begitu pula di negara lain juga terdapat sedikit banyaknya suku yang mendiami masing-masing negara.

Dari suku-suku yang terdapat di Indonesia ada beberapa suku yang memiliki standar dalam mempercantik dirinya, diantaranya adalah suku Mentawai. Suku Mentawai merupakan sekelompok masyarakat yang tinggal di kepulauan Mentawai, Provinsi Sumatera Barat. Suku Mentawai tinggal di empat pulau besar, yaitu Sibora, Siberut, Pagai Utara dan Pagai Selatan.

Pada suku negara setiap wanita tentunya memiliki standar mengenai kecantikannya masing-masing. Begitu pula pada masyarakat Mentawai yang menmpunyai standar kecantikan tersendiri. Kecantikan wanita masyarakat Mentawai dilihat dari gigi yang runcing. Gigi runcing ini merupakan tradisi unik yang terdapat di suku Mentawai. Wanita Mentawai percaya bahwa memiliki gigi runcing dapat menambah nilai lebih dalam dirinya.

Selain itu, dapat sebagai acuan tanda bahwa sifat kedewasaan bahkan kebahagiaan terdapat pada wanita suku Mentawai. Membuat gigi menjadi runcing yaitu dengan prseskerik yang biasanya dilakukan oleh ketua adat dengan menggunakan besi atau kayu yang sudah diasah tajam tanpa diberikan obat bius. Namun, demikian gigi runcing yang menjadi simbolik kecantikan bagi wanita suku Mentawai perlahan kesederhanaaan dan tradisinya pun mulai pudar.

Selain dari suku Mentawai yang terdapat di Sumatera Barat Indonesia, negara selain Indonesia juga memiliki standar kecantikannya masing-masing diantaranya Leher Panjang, suku Kayan di Myanmar. Para perempuan di suku Kayan ini memiliki standar kecantikan yaitu dengan mengenakan gelang-gelang kuningan pada leher mereka bahkan sejak belia. Seiring bertambahnya usia jumlah gelang itu pun ditambah sehingga membuat leher mereka nampak semakin panjang. Ini merupakan tradisi dan menjadi simbol untuk kecantikan para wanita suku Kayan.

Selanjutnya hidung lancip, Iran. Orang Iran beranggapan bahwa hidung lancip merupakan simbol dari kecantikan bahkan ketampanan seseorang. Dalam hal ini bahkan sebagian dari mereka rela merogoh kocek dalam demi membuat hidungnya menjadi mancung. Namun, bagi mereka yang tidak mempunyai banyak uang meraka hanya menggunakan plester dihidunnya agar terlihat seperti dioperasi.

Kemudian standar kecantikan Badan Gemuk di Mauritania. Standar kecantikan pada masyarakat suku di Mauritania terbilang ekstrim. Karena pada sebagian besar negara para wanita menginginkan badan yang ideal langsing agar terlihat cantik. Berbeda dengan suku masyarakat Mauritania, mereka menginginkan badan yang gemuk sebagai standar kecantikan mereka agar para lelaki tertarik.

Itulah beberapa dismilar atas standar kecantikan dari berbagai suku di dunia berdasarkan perspektifnya masing-masing suku, salah satunya adalah suku Mentawai yang terdapat di Sumatera Barat, Indonesia. Pada dasarnya cantik itu relatif yakni jika kita menganggap seseorang itu cantik dan belum tentu dimata orang lain, begitupun sebaliknya. Jika orang lain menganggap seseorang itu cantik maka belum tentu kita sependapat dengan mereka. Namun hal ini tidak selamanya benar, ada juga orang yang berpendapat bahwa kecantikan seseorang itu mutlak, yakni jika seseorang menggangap orang lain itu cantik maka orang lain pun membenarkan hal itu, begitupun sebalikya. Terlepas dari semua itu kita harus bangga akan apa yang telah kita miliki sekarang ini.

Dengan adanya perbedaan-perbedaan yang terjadi baik itu dalam bidang apapun, seharusnya tidak menjadikan itu sebagai awal dari perpecahan. Namun jadikanlah sebagai tolak ukur dimana kita harus saling menghargai akan perbedaan-perbedaan yang ada. Karena pada dasarnya manusia adalah mahluk sosial yang tidak bisa hidup tanpa adanya eksistensi dari orang lain.

Dalam masing-masing suku haruslah tertanam perasaan ketertarikan anatara satu dengan yang lainnya sebagai suatu kelompok untuk menambah rasa kebersamaan diantara mereka.  Begitulah jika berbicara mengenai suku, dimana setiap suku pastilah mempunyai ciri khas masing-masing.

Semua perempuan di dunia ini cantik, baik itu melalui polesan make up ataupun tidak, karena jikalau wanita tidak cantik tidak mungkin seorang wanita itu tampan. Karena antara perempuan dan laki-laki mempunyai perspektif tersendiri dalam memandang perihal kecantikan. (***)

 

Penulis : Setya Devy Anggrainy (Mahasiswa Sosiologi FISIP UBB

www.wowbabel.com menerima artikel publik. Kirimkan artikel/opini Anda ke email wowbabelpkp@gmail.com. Artikel yang masuk dan diterbitkan sudah melalui proses penyuntingan pihak redaksi. Artikel yang terbit sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis.

Halaman