Geliat Inflasi Bangka Belitung

Dr. Hj. Devi Valeriani, SE., M.Si.
Dr. Hj. Devi Valeriani, SE., M.Si.

 

aApalagi jika ada hembusan isu bahwa langkanya suatu komoditas akan berlangsung agak lama, kondisi ini menggiring angka inflasi menjadi semakin tinggi.

 

PENGELOLAAN inflasi dari waktu ke waktu selalu menjadi diskusi yang tidak pernah berakhir. Berbagai strategi dan kebijakan telah diupayakan secara multi sektor oleh komponen ataupun lembaga terkait. Tidak kalah penting peran Tim Pemantau Inflasi Daerah (TPID) pun telah bekerja dengan maksimal. Inflasi akan terus bergerak jika tidak ada yang menghentikannya. 

Mankiw yang merupakan ahli ekonomi menyatakan konsep inflation inertia dengan mengasumsikan inflasi seperti obyek yang bergerak melintasi luar angkasa, yang akan terus bergerak jika tidak ada sesuatu yang menghentikannya. Inertia muncul disebabkan oleh keadaan inflasi masa lalu yang akan mempengaruhi ekspektasi inflasi masa depan, serta eksepektasi tersebut akan mempengaruhi harga serta upah yang ditetapkan.

Angka Inflasi di Bangka Belitung merupakan angka inflasi yang diperoleh dari 2 wilayah yaitu Tanjung Pandan dan Pangkalpinang. Mengingat Bangka Belitung secara geografis merupakan wilayah kepulauan, sehingga pengaruh inflasi yang dirasakan lebih kuat. Secara umum kondisi ini menyebabkan tingginya biaya distribusi kebutuhan pokok pangan yang berakibat tingginya biaya yang akan dibebankan terhadap harga produk yang akan dijual.

Pemicu tingginya inflasi beragam, mulai dari harga tiket pesawat yang meroket, berefek terhadap ongkos kirim barang dari luar daerah, kebutuhan pangan yang tidak bisa dipenuhi oleh daerah sendiri, hampir 80 persen pangan Bangka Belitung didatangkan dari luar (Kondisi Tahun 2016), yang sampai saat ini tidak banyak mengalami perubahan.

Fenomena alam pun akan menjadi pemicu inflasi, seperti curah hujan, kuatnya angin, tingginya gelombang laut, yang akan menyebabkan terhambatnya rantai distribusi barang-barang dari luar daerah ke Bangka Belitung. Sehingga masalah distribusi dan ketersediaan pasokan pangan akan menjadi pengungkit tingginya angka inflasi.

Melihat ke belakang, history inflasi Bangka Belitung yang disebabkan oleh pasokan komoditas yang agak rentan pada wilayah kepulauan, pada tahun 2016 angka inflasi mencapai 5,6 persen disebabkan oleh harga cabai yang menjadi penyumbang inflasi terbesar dengan kisaran Rp.50.000 sampai Rp.60.000.

Kebijakan yang diambil oleh instansi terkait adalah menyiapkan lahan produksi untuk tanam cabai lebih kurang 14 hektare dengan sistem pengelolaan lahan yang diserahkan pada kelompok tani. Upaya ini diharapkan mampu meningkatkan produksi cabai guna memenuhi kebutuhan dalam daerah khususnya wilayah Pulau Bangka.

Selain cabai, garampun pernah menjadi salah satu isu inflasi, dimana garam sempat menjadi barang langka dan stoknya terbatas, sedangkan kebutuhannya rutin, sehingga tidak bisa dikendalikan dan harganya pun menjadi tinggi.

Akhir Desember 2016 angka inflasi Bangka Belitung menyandang predikat angka inflasi tertinggi secara nasional, yaitu sebesar 6,75 persen, sedangkan inflasi nasional hanya sebesar 3,02 persen.

Guncangan harga komoditas lainnya adalah bawang putih, ketika menjelang Ramadhan 2019 menembus harga 100 ribu perkg dan tanpa bisa dielakan sehingga bawang putih menjadi salah satu komoditas pangan penyumbang inflasi. Mata rantai distribusi yang tidak lancar disinyalir menjadi penyebab kondisi tersebut, sehingga pelaku usaha dan rumah tangga yang rutin melakukan konsumsi bawang putih cenderung melakukan pembelian dalam jumlah banyak untuk persediaan sehingga kelangkaan bawang putih pun terjadi, hal ini dilakukan demi kelancaran operasional usaha yang mereka geluti.

Apalagi jika ada hembusan isu bahwa langkanya suatu komoditas akan berlangsung agak lama, kondisi ini menggiring angka inflasi menjadi semakin tinggi. Upaya yang ditempuh Lembaga terkait diantaranya adalah melakukan operasi pasar dan mempercepat pasokan.

Komparasi angka inflasi Kota Pangkalpinang Bulan April dan Bulan Mei 2019, sangat tinggi gapnya dengan perbandingan angka mencapai 1,04 persen, dimana bulan April sebesar 0,74 dan bulan Mei mencapai 1,78.

Sedangkan angka inflasi secara provinsi pada Bulan Mei 2019 mencapai sebesar 2,14 persen, yang jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2018 hanya sebesar 4,86 persen. Hasil laut yang menjadi produk konsumsi sehari-hari masyarakat Bangka Belitung di gaungkan penjadi penyumbang inflasi tersebut.

Ada hal yang menarik ketika orang awam memandang bahwa sebagai wilayah kepulauan tentunya lumbung ikan daerah tersebut akan melimpah. Namun beberapa periode ikan kerap menjadi penyumbang inflasi terbesar di Bangka Belitung. Artinya tingkat permintaan (demand) cenderung lebih besar dari penawaran (supply) sehingga mempengaruhi fluktuatif harga ikan tersebut.

Faktor ekspor yang tinggi terhadap ikan kadang menjadi fenomena, di satu sisi volume ekspor diharapkan meningkat sehingga berefek terhadap tingginya devisa yang akan diperoleh, namun dampak yang dialami daerah adalah ketersediaan ikan menjadi berkurang, kualitas ikan di daerah menjadi lebih rendah karena ikan yang berkualitas baik lebih banyak diperuntukkan bagi ekspor.

Dengan berkurangnya jumlah ketersediaan ikan berakibat naiknya harga jual dan selanjutnya berefek terhadap angka inflasi. Beberapa jenis ikan yang berpotensi tinggi memberikan kontribusinya terhadap inflasi adalah ikan kerisi, kembung, selar, tenggiri, udang, cumi-cumi, bulat dan ikan hapau. 

Selain dari pengaruh ekspor, kondisi ikan sebagai penyumbang adalah keadaan cuaca yang ekstrim, sehingga nelayan banyak yang tidak turun melaut. Keadaan ini selalu terjadi secara periodik. Upaya yang telah dilakukan adalah menyiapkan cold storage untuk menyiasati keadaan tersebut, hanya saja kadang-kadang keadaan cuaca tidak dapat di prediksi situasinya.

Komoditas yang rutin menjadi penyumbang inflasi namun dalam angka yang masih terjaga adalah rokok, tembakau, rekreasi, sandang, transport, komunikasi dan jasa keuangan. Sedangkan inflasi biaya pendidikan, hari-hari besar agama adalah inflasi yang biasa terjadi dan bersifat insidentil. Senyatanya inflasi adalah salah satu indikator makro perekonomian daerah, sehingga keberadaannya perlu di kelola dan dikendalikan.

Penyebab utama terjadinya inflasi masing-masing wilayah berbeda-beda, sehingga penanganannya pun berbeda. Pengambil kebijakan, Lembaga terkait dan Tim Pemantau Inflasi Daerah (TPID) perlu melihat pola inflasi di Bangka Belitung, mulai dari penyebab, kemudian menggolongkan ke jenis inflasi yang biasa terjadi, yang selanjutnya dilakukan upaya pengendalian secara terstruktur, terukur dan efektif.

Sekali lagi, inflasi adalah variabel makro ekonomi wilayah yang harus dikendalikan dan di jaga bukan dihilangkan, karena inflasi tersebut sebagai salah satu faktor pembentuk dari pertumbuhan ekonomi daerah. Perlu upaya lebih ketat dalam menjaga keterjangkauan harga, kelancaran pasokan, mata rantai distribusi dan komunikan dengan masyarakat. (***)

 

Penulis : Dr. Hj. Devi Valeriani, SE., M.Si.,  Dosen Program Studi Ekonomi Fakultas Ekonomi Universitas Bangka Belitung

Artikel ini adalah kiriman warga dan telah melalui beberapa proses penyuntingan. Isi artikel sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis.



TRENDING TOPICS
MEDSOS WOWBABEL