Timah Selalu Bergetar

Jurnalis_Warga    •    Kamis, 20 Juni 2019 | 13:58 WIB
Opini
Albana.
Albana.

ISU pertimahan, acap kali menyedot perhatian. Sudah hampir 20 tahun ini masalah pertimahan tidak bisa lepas dari perbincangan sehari-hari. Seluruh aspek, penambangan, tata kelola, ekonomi, terlebih-lebih lingkungan. Konflik pertambangan pun selalu mencuat. 

Bisa dimaklumi, sebab tambang (timah) bagi Bangka Belitung sebagai tulang punggung atau sandaran ekonomi yang belum bisa tergantikan. Timah berkontribusi 80 persen lebih dari total ekspor Babel. Bahkan ekspor timah Indonesia berasal dari Babel.

Sudah lebih dari dua abad timah Babel di ekspolitasi tak habis-habisnya. Sekarang dampak ekonomi sudah mulai dirasakan, keterbatasan lahan tambang dengan tekhnologi tergolong tertinggal. Bahkan produk timah yang dihasilkanpun itu-itu saja, berupa balok. Amanat Undang Undnag Nomor 4 Tahun 2009 hilirisasi minerba, baru sebatas coba-coba. Belum mampu memberikan nilai ekonomi lebih bagi masyarakat.

Gubernur Kepulauan Bangka Belitung (Babel) Erzaldi Rosman, mengakui tambang timah sudah menjadi bagian vital bagi masyarakat setempat. Jika dihentikan secara mendadak, perekonomian daerah dipastikan kolaps.

Menurutnya, masyakarat Babel saat ini hampir tak bisa lepas dari pertimahan. Buktinya, ketika ada perubahan aturan ekspor timah yang membuat para smelter tidak bisa melakukan ekspor selama tiga bulan, pertumbuhan ekonomi di Babel langsung turun drastis dari 5,3 persen ke 2,6 persen (wowbabel.com, 2018).

Selama tiga tahun (2015-2017) dana bagi hasil (DBH) Pertambangan Mineral dan Batubara untuk provinsi Bangka Belitung sebesar Rp. 383,87 miliar dengan rerata tiap tahun sebesar Rp. 127,95 miliar. Dimana pendapatan iuran tetap sebesar Rp. 117,85 miliar (31%) atau rerata tiap tahun sebesar Rp. 39,23 miliar. Sementara untuk pembayaran royalty sejumlah Rp. 266,02 (69%) miliar atau rerata tiap tahun senilai Rp. 88,67 miliar (Koalisi Jatam-Walhi Babel 2017). Tahun 2017 Provinsi Babel mendapatkan total Dana Bagi Hasil (DBH) dari royalti timah sebesar Rp 40,5 miliar.

Data Badan Keuangan Daerah (BAKUDA) Pemerintah Provinsi Babel periode Januari-Juni 2019 sudah mencapai Rp 57,6 miliar. Kontribusi dana bagi hasil ini mayoritas dari PT Timah Tbk. Sebagai produsen timah terbesar di Indonesia sesuai UU, PT Timah Tbk wajib berkontribusi kepada negara melalui, Pajak ( PPh, PPN ), PBB, Royalti, Iuran IUP/ dll, Kontribusi Produksi, Deviden dan Bea Materai/Masuk. Termasuk juga dana tanggungjawab sosial perusahaan. Nilainya mencapai triliun rupiah, tergantung pada produksi dan eskpor (Kumparan 2019). 

 

Industri hilirnya apa?

Merujuk pada data ini, kontribusi langsung pertimahan bagi daerah, relatif masih sangat kecil apalagi dibandingkan dengan dampak dari aktifitas pertambangan ini. Namun sebagai sumber pemasukan bagi daerah, timah masih menempatkan diri sebagai pemasok utama. Apalagi dampak ekonomi ikutan di masyarakat. Dengan kondisi perekonomian Babel yang makin meredup, sumber daya alam berupa timah adalah harapan. Untuk itu, kekayaan laam ini agar lebih maksimal dan berdampak ekonomi jangka panjang iIndustri hilir timah selayaknya dikejar. 

Pihak Kementerian ESDM menyarankan agar semua pihak di daerah untuk duduk bersama, baik itu pemerintah, pengusaha, dan masyarakat mencari bentuk timah olahan sebagai amanat Undang-undang nomor 4 tahun 2009, yakni hilirisasi yang memiliki nilai lebih. Timah batangan selama ini sebagai komoditas ekspor utama Bangka Belitung bukankah bentuk dari hilirisasi mineral. Produk smelter semua masih batangan.

Tantangannya supaya lebih hilir lagi, ada industri hilir timah yang lebih rinci sehingga industri ini mampu menyerap tenaga kerja dan memiliki dampak ekonomi yang berkelanjutan. 

Akhir-akhir ini banyak ikut diberitakan mengenai keberadaan industri hilir timah. Isi pemberitaan industri hilir timah tersebut tak lebih sekedar aksesoris pelengkap dari maraknya berita utama mengenai timah. Kerap digembar gemborkan juga bahwa kebutuhan timah dunia menyongsong revolusi Industri 4.0  yang ditandai dengan kehadiran Internet of Things (IoT). Kondisi ini secara langsung akan meningkatkan permintaan timah di dunia sebagai salah satu komponen dasar dari barang elektronik. Meningkatnya kebutuhan barang elektronik akan berdampak pada kebutuhan timah yang semakin tinggi. 

Menyongsong revolusi industri generasi ke-empat ini, yang perlu dilakukan pemerintah adalah mendorong hilirasasi industri sehingga timah yang diekspor sudah merupakan barang yang siap pakai. PT Timah Tbk sebagai perusahaan BUMN harus mampu bersaing terutama dalam hal pengolahan timahnya. Hal itu nantinya digunakan untuk mempercepat produksi secara konsisten. 

Inilah menjadi peluang bagi timah Babel, tidak sebatas produk timah yang dijual berabad-abad, itu-itu saja. (*)

Halaman