RSUD Sejiran Setason Muntok Geber Pembenahan Sebelum Akreditasi

Chairul Aprizal    •    Rabu, 26 Juni 2019 | 22:51 WIB
Lokal
Direktur RSUD Sejiran Setason Muntok kabupaten Bangka Barat, drg. Yudi Wijaya,SpBm. (Chairu/wowbabel)
Direktur RSUD Sejiran Setason Muntok kabupaten Bangka Barat, drg. Yudi Wijaya,SpBm. (Chairu/wowbabel)

MUNTOK, www.wowbabel.com - Direktur RSUD Sejiran Setason Muntok kabupaten Bangka Barat, drg. Yudi Wijaya,SpBm mengungkapkan pihaknya saat ini harus berupaya total untuk membenahi RSUD agar dapat lulus akreditasi. Yudi mengatakan, jika tidak lulus akreditasi bisa-bisa BPJS akan memutuskan kerjasama ke RSUD Sejiran Setason.

"Diputuskan oleh BPJS, kebijakan BPJS harus terakreditasi. Rumah sakit ini 19 Juli 2019 habisnya, untuk menyikapi itu saya di akhir bulan Mei kemarin saya sudah membentuk tim akreditasi dipimpin oleh dokter spesialis kami sudah bekerja," ujar Yudi Wijaya, Rabu (26/06/2019).

Sebelumnya, di tahun 2018, RSUD Sejiran Setason Muntok sudah pernah ditolak oleh KARS (Komisi Akreditasi Rumah Sakit) saat mengajukan survei akreditasi.

"Sudah mendapatkan balasan, survei ulang itu nanti tanggal 1 sampai 4 Juli ini, Insya Allah mudah-mudahan dengan kondisi yang ada ini kita bisalah terakreditasi," harap Yudi.

Yudi menyebutkan, bahwa akreditasi sangatlah penting bukan hanya masalah kerjasama dengan BPJS kesehatan, tetapi juga untuk meningkatkan mutu pelayanan.

"Akreditasi 2016 selama dua tahun itu belum ada evaluasi, jadi akreditasi itu tiap 3 tahun harus re-akreditasi. Kalau saat ini BPJS masih melayani, tapi sempat ada warning," tuturnya.

"Yang kami khawatirkan kalau putus kerja sama masyarakat tak mendapat pelayanan. Memang kita ada rumah sakit lain tapi type D, jadi tentunya fasilitas tidak selengkap kita. Upayanya saya sudah bentuk 15 Pokja, persyaratannya itu bahkan tidak boleh sedikit pun ada jamur di dinding-dinding, baik di dalam maupun di luar rumah sakit," tambahnya.

Yudi menyampaikan, perlu melakukan pembenahan total membersihkan semua jamur yang kemarin sempat ada dan renovasi bagian yang berlubang dan rusak sebelum di survei oleh KARS.

"Lumut-lumut hijau itu gak boleh, sudah tinggal berapa persen lagi tapi masih ada, tidak boleh ada lumut ada kecoa. Sangat banyak sekali yang harus dikerjakan, banyak yang dibenahi, dari belakang sampai ke manajemen," ujarnya.

"Ada beberapa yang tidak terkejar, kalau fisik itu agak butuh waktu mana dipotong lebaran, biaya itu terus terang makai biaya yang ada saja ya kurang lebih satu milyar lah. Karena menyiapkan peralatan perbaikan sistem belum maksimal dengan dana segitu, jadi sisanya dianggarkan tahun 2020," terangnya. (Rul/wb)

Halaman