Mendorong Pusat Logistik Berikat di Kawasan Industri Sadai

Pelabuhan sadai, Bangka Selatan.(net/ist)
Pelabuhan sadai, Bangka Selatan.(net/ist)

Oleh: Yudi  (Pemerhati Kepelabuhanan)

Pusat Logistik Berikat (PLB) adalah tempat penimbunan barang asal luar daerah Pabean dan/atau barang yang berasal dari tempat lain dalam daerah Pabean dalam jangka waktu tertentu. Keberadaan PLB sejak tahun 2016  merupakan realisasi dari Paket Kebijakan Ekonomi jilid II Presiden Joko Widodo. Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan, PLB diharapkan menurunkan biaya logistik nasional, mempercepat waktu bongkar muat (dwelling time) di pelabuhan serta menarik investasi untuk pertumbuhan ekonomi nasional.

Pemerintah Kabupaten Bangka Selatan melalui Program Pengembangan Kawasan Industri di Kawasan Indsutri Sadai mendorong investasi di kawasan berupa Pusat Logistik Berikat (PLB).  Hal ini penting guna memantik pusat perdagangan baru di samping menciptakan konektivitas laut dan pertumbuhan ekonomi wilayah itu. Keberadaan PLB akan memberikan dampak yang besar untuk menyongsong Indonesia sebagai  logistik Asia Pasifik. Letak geografis Sadai sangat mendukung dijadikan salah satu PLB di Kawasan Indonesia Bagian Barat.

Untuk menjadi hub logistik, PLB Sadai masih jauh dan perlu kerja keras. Bisa menjadi hub  logistik dalam beberapa komoditi dalam tiga tahun ke depan saja sudah bagus. Sebagai contoh untuk produk CPO atau produk turunan dari kelapa sawit seperti Palm Kernel Oil (bungkil), Palm Shell (cangkang), Karet, Timah, Lada Putih, Pasir Silica dan Karet.

Keunggulan dibentuknya PLB di Kawasan Industri Sadai adanya penangguhan bea masuk dan pajak saat barang masuk dari luar kawasan pabean, fleksibilitas masa penimbunan barang selama 3 tahun, fleksibilitas kepemilikan barang, kecepatan layanan berbasis IT dan warehouse Management System dan Nilai Pabean digunakan saat pengeluaran barang dari kawasan pengelola PLB.

Seperti yang disampaikan Bupati Bangka Selatan, Justiar Noer bahwa Pemerintah Kabupaten Bangka Selatan mengundang badan usaha untuk membentuk dan mendirikan PLB di Kawasan Industri Sadai. Dengan berdirinya PLB, para pengusaha sebelumnya memiliki inventory di luar negeri kemudian dikonversikan menggunakan PLB sebagai pusat inventory-nya, mengingat selisih biaya sewa di luar negeri.  Contohnya, Singapura dibandingkan dengan Indonesia memiliki perbedaan antara 30%-40% lebih rendah.  Sejauh ini sudah ada satu badan usaha yang mengajukan izin pendirian Pusat Logistik Berikat di Kawasan Industri Sadai kepada Menteri Keuangan.

Saat ini terdapat 59 PLB yang beroperasi di 81 lokasi di seluruh Indonesia atau melonjak hampir 10 kali lipat saat diresmikan tiga tahun lalu. Adapun wilayah yang paling banyak sebarannya antara lain  Jawa  sebagai sentra industri, diikuti Kalimantan, Sumatra, Sulawesi (Makassar), Bali, dan Papua.

Ini merupakan indikasi yang positif dengan animo pengguna dan pengusaha yang cukup tinggi terhadap PLB. Wilayah operasional PLB saat ini memang masih cukup banyak di Jawa. Pencapaian keberadaan PLB diantaranya kecepatan proses di pelabuhan mengalami penurunan cukup membantu baik dari sisi waktu dan pemangkasan biaya dalam proses kepelabuhanan. Dengan adanya PLB diyakini mampu memberikan manfaat terhadap industri/perusahaan baik terhadap biaya maupun waktu perolehan bahan baku dan atau bahan penolong yang diimpor. Sehingga tujuan memindahkan tempat penyimpanan sementara bahan baku dan atau bahan penolong  di negara lain seperti  Singapura, Thailand, Malaysia atau Vietnam, bisa dipindahkan ke PLB yang berada di Indonesia. (*)

 



TRENDING TOPICS
MEDSOS WOWBABEL