OPINI : Menguji Kepemimpinan Politik Belitung Timur

Bambang Suherly, S. Ikom (Sekum MD KAHMI Beltim)
Bambang Suherly, S. Ikom (Sekum MD KAHMI Beltim)

KEPEMIMPINAN politik seringkali menjadi masalah yang tidak bisa dipahami oleh masyarakat pada umumnya. Karena kepemimpinan politik dipahami sebagai sesuatu yang elit, tersentuh oleh kalangan tertentu dan tidak memiliki hubungan yang secara langsung dapat mempengaruhi kehidupa masyarakat. Tidak berpengaruh pada berapa harga timah, sawit. Tidak berpengaruh pada harga sayur, tidak berpengaruh pada harga barang pokok, dan seterusnya.

Sehingga dalam proses perubahan atau pergantian kepemimpinan politik mulai dari tingkat desa, kabupaten, provinsi bahkan nasional, masyarakat cenderung apatis, apolitik, cuek, dan justru partisipasi politiknya lebih banyak dikendalikan oleh unsur-unsur pragmatis, misalnya politik uang dan transaksional. "Kamek dak diberik duit malas jok nak gi mileh mending aku pegi kulong atau gi ume jak", bahasa yang lumrah di warung kopi di Beltim.

Untuk merubah situasi kesadaran politik masyarakat tentang pentingnya kepemimpinan politik tidaklah semudah membalikkan telapak tangan ditengah gerusan pragmatisme yang selama ini dipraktekkan oleh partai politik hingga aktor-aktor lain yang berkepentingan terhadap kepemimpinan politik.

Siapa yang berkuasa secara ekonomi dan finansial serta memiliki banyak uang maka ia akan menguasai masyarakat sekitarnya. Pola penguasa ekonomi ini pernah dipraktekkan oleh kolonial Belanda. Mereka yang memiliki akses ekonomi juga menguasai akses politik. Sehinga orang miskin tidak punya peluang untuk berkuasa atau ia yang tidak berani membeli suara maka jangan berharap untuk berkuasa.

Hal seperti inilah yang malah mendelitigimasi serta mengkerdilkan dampak dan tujuan diselenggarakannya pesta demokrasi. Saya pikir sudah menjadi rahasia umum siapa tokoh donatur dibalik kekuasaan-kekuasaan yang selama ini ada di Belitung Timur .

2020 Belitung Timur (Beltim) akan melaksanakan kontestasi politik dalam Pilkada, tentunya menyadarkan pemilih serta kriteria pemimpin ideal yang sejatinya memberi harapan dan perubahan haruslah menjadi modal utama bagi kemajuan Belitung Timur.

Namun pola kepemimpinan elitis itulah yang mengakibatkan budaya kepemimpinan arus bawah tidak bisa tumbuh dengan baik, karena masih muka lamak. Wajah politik kita Beltim masih diisi dan didominasi oleh sederet nama-nama lama  atau elit-elit tua yang seharusnya memberi estafet pada generasi yang lebih segar, muda yang punya gairah membangun daerah bukan malah politik balas budi, kuat-kuatan donatur yang berinvestasi secara politik, ketika berkuasa malah bagi-bagi kue proyek, dan bahkan hari ini elit-elit Beltim sibuk saling menelanjangi luka dan dosa rezim, ya gajah sedang berkelahi sesama gajah. Belum lagi partai politik sebagai penyaji menu yang akan dihidangkan ditengah masyarakat malah membuat masyarakat tidak punya banyak pilihan, syukur-syukur menu yang disajikan bergizi dan bervitamin bisa mewakili hati nurani tapi malah sebaliknya.

Sehingga, pengalaman tentang menumbuhkan sebuah kepemimpinan yang benar-benar mengakar dari rakyat paling bawah menjadi peristiwa penting dalam pola kepemimpinan ideal. Munculnya calon pemimpin yang berasal dari calon kader yang mendorong komunitas masyarakat menyelesaikan masalah-masalah kecil secara terus menerus, menjadikan mereka sosok yang ideal dalam kontek pemimpin di Belitung Timur.

Pemimpin harus berpihak kepada kelompok atau warga miskin dan lemah demi keadilan. Tapi sekali lagi apakah sosok tersebut memiliki uang?.

Jabatan pimpinan politik jika diartikan sebagai jabatan kekuasaan semata tidak akan serta merta untuk memberikan kesempatan pada rakyat untuk turut terlibat dalam pengambilan keputusan. Ada anggapan yang beredar ditengah kita bahwa rakyat sudah diberi kesempatan untuk terlibat dalam pembuatan kebijakan ketika mereka masuk ke bilik suara dalam pilkada kemarin, setelah itu diserahkan seluruh keputusan pada pimpinan politik yang terpilih.

Tidak ada lagi kran komunikasi yang terbuka. Rakyat berjalan sendiri dan pimpinan politik beserta pemerintahannya berjalan sendiri. Hal ini terjadi jika pimpinan politik yang terpilih jauh dari rakyat dan tidak berasal dari kader organisasi rakyat yang maju, tetapi dari orang yang hanya mengandalkan modal besar atau mengandalkan ketenaran belaka. Bukankah hari ini begitu terasa?

Sebuah momentum bagi Belitung Timur yang akan melaksanakan pilkada 2020, cermati disekitar kita pemimpin rakyat yang tumbuh dari kader dan penggerak, pribadi yang memiliki kecakapan khusus, dengan atau tanpa pengangkatan resmi dapat mempengaruhi kelompok yang dipimpinnya. (***)

 

Bambang Suherly, S. Ikom (Sekum MD KAHMI Beltim)

Artikel ini sudah melalui proses penyuntingan, isi dari tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis.



TRENDING TOPICS
MEDSOS WOWBABEL