VIDEO : Hindari Kejaran Petugas, Penambang Nekat Terjun ke Kolong 'Buaya'

Video kejar-kejaran petugas dan penambang liar. (dag/wowbabel)

PANGKALPINANG, www.wowbabel.com -- Komar, seorang pekerja tambang lari pontang panting saat tim gabungan Satpol PP Provinsi Bangka Belitung (Babel), Kabupaten Bangka Tengah dan Kota Pangkalpinang, merazia mereka ketika bekerja di Kawasan Kolong Bravo, Kelurahan Dul, Kecamatan Pangkalbaru, Bangka Tengah, Jumat (19/7/2019).

Pria 56 tahun itu tak pikir panjang, dirinya bersama beberapa rekannya langsung nyemplung begitu saja ke dalam kolong keruh dengan ke dalam belasan meter, untuk menyelamatkan dari sergapan petugas.

Beberapa saat mereka pun menghilang dibalik tumbuhan air yang tumbuh subur di sisi kolong. Sebuah penyamaran dan pelarian sempurna karena Satpol PP tak sanggup menggapai medan persembuyian Komar dan rekan-rekannya.

Padahal resiko lebih besar mengintai mereka, karena tempat mereka bersembunyi merupakan sarang reptil ganas seperti buaya dan ular.

Sementara suara teriakan anggota Satpol PP tak jua mengurungkan niatan para penambang berlari.

"Jangan lari, woii jangan lari, kami tidak mau tahu alat tambang ini harus dibongkar segera, jam 4 sore kami balik lagi kesini, kalau juga tidak di bongkar kami akan bakar," ancam anggota Satpol PP sembari bergerak merapat ke lokasi median TI berada.

Menjadi pekerja ilegal bukanlah cita-cita Komar, namun urusan perutlah yang memaksa ia terjun dan bergelut dengan pekerjaan itu.

Diusianya yang tidak lagi muda, tak mudah memang untuk menjalankan profesi ini, namun terbatasnya lahan pekerjaan serta minimnya perhatian pemerintah, memaksa ia beserta rekan lainnya untuk tetap melakoni pekerjaan tersebut, demi dapur ngebul dan anak bisa sekolah.

Menurut Komar, menjadi buruh tambang bukanlah perkara mudah, selain harus kucing-kucingan dengan petugas keamanan, ia juga harus bersembunyi dari serangan ular dan buaya, beruntung jika petugas tak terjun ke aliran sungai dan beruntung lagi jika buaya hanya sekedar lewat dan tidak menerkam ia dan rekan lainnya.

Namun disaat inilah terlintas dibenak untuk berhenti bekerja, namun bayangan anak dan istri kembali memaksa walau hasil yang didapat tak sesuai dengan resiko yang diterima.

"Resiko bekerja ditimpa tanah meninggal, patah tulang, pecah kepala, anak istri terlantar. Faktor utama perut, kami bekerja ini karena menghindar dari pekerjaan yang tidak- tidak, seperti narkoba, maling, copet dan lainnya," ungkap bapak tiga anak ini.

Ia pun berharap, pemerintah dapat memberi solusi dari aktivitas yang mereka lakukan.

"Kalau ada pekerjaan lain gak mungkin kami bekerja seperti ini. Bekerja ini juga bukan untuk kaya, tapi untuk makan hari kehari, setiap hari rata-rata Rp100 ribu uang yang kami dapat sebagai bekerja tambang ini," tandasnya.

Kasatpol PP Provinsi Bangka Belitung, Yamoa, yang memimpin razia pagi Jumat (19/7/2019) itu, membantah jika ada pembiaran atas tambang timah ilegal yang beroperasi di Tengah Kota, semisal di kawasan Belakang Kantor BLK Provinsi Bangka Belitung, Kawasan Bandara, dan di kawasan Ampui.

"Kalau masalah bocor dan tidak, itu kita tidak paham, tapi begitulah kejadiannya dilapangan," kata Yamoa, menanggapi razia seringnya razia yang mereka lakukan nihil hasil.

Hingga saat ini masih banyak lokasi serta pelaku tambang timah ilegal yang beroerasi di pusat kota, bahkan dilingkungan perkantoran gubernur serta Bandarudara Depati Amir Pangkalpinang hingga dikawasan Parit Enam, yang terkesan dibiarkan.  Tak jarang jika dilakukan razia, petugas tak menemukan pekerja dan hanya peralatan tambang yang tersisa.

Reporter : dag
Editor : Muri



TRENDING TOPICS
MEDSOS WOWBABEL