Gara-gara 50 Ton Balok Timah, Reputasi Indonesia di Perdagangan Internasional Rusak

Endi    •    Rabu, 07 Agustus 2019 | 20:28 WIB
Ekonomi
Presiden Direktur Indonesia Clearing House (ICH), Nursalam. (dag/wowbabel)
Presiden Direktur Indonesia Clearing House (ICH), Nursalam. (dag/wowbabel)

PANGKALPINANG, www.wowbabel.com - Presiden Direktur Indonesia Clearing House (ICH), Nursalam menilai, lambannya penyelesaian kasus tertahannya 50 slot atau 50 ton balok timah yang sudah berlangsung pada akhir 2018 lalu, telah menurunkan reputasi Indonesia di perdagangan internasional dan menjadikan Indonesia sebagai Country Risk atau negara beresiko bagi perdagangan timah balok.

Meskipun sudah ada keputusan Pengadilan Negeri Sungailiat, yang memerintahkan agar timah balok tersebut dikembalikan kepada pihak yang berhak, karena tidak terbukti salah dan proses perdagangan yang dilakukan melalui bursa timah ICDX adalah sah dan legal.

Namun, lamanya proses persidangan yang mencapai 9 bulan, membuat Persetujuan Ekspor (PE) dan Eksportir Terdaftar (ET) yang dimiliki perusahaan menjadi kadaluarsa, sehingga proses pengiriman kepada importir tidak dapat dilaksanakan dan tentunya muncul persoalan baru.

"Inilah yang menjadi penyebab tingkat kepercayaan menurunan, karena orang merasa beli timah di Indonesia tidak ada kepastian hukum," kata Nursalam, Rabu (7/8/2019) di Pangkalpinang.

Dia menjekaskan, dampak dari meningkatnya country risk Indonesia pada perdagangan timah murni batangan mengakibatkan secondary market timah Indonesia di Singapura meningkat tajam.

"Sebelumnya pada semester II tahun 2018 berhasil ditekan hingga angka 24 persen, pada semester I tahun 2019, meningkat menjadi 49 persen atau mengalami kenaikan 100 persen," jelasnya.

Hal ini, terang Nursalam, karena pelaku pasar khususnya end user lebih memilih membeli timah muri batangan asal Indonesia melalui Singapura, karena dinilai lebih memiliki kepastian hukum.

Kondisi tersebut tentunya menjadi ancaman bagi kedaulatan timah Indonesia dan menurunkan kepercayaan global, yang dapat berimbas pada komoditas ekspor lainnya.

ICH berharap, pemerintah segera mengambil tindakan untuk menyatukan persepsi seluruh pemangku kebijakan, tentang perdagangan timah murni batangam di bursa timah agar Indonesia kembali berdaulat atas perdagangan timah dunia.

"Saya kira kita sebagai pemangku kebijakan untuk duduk bersama. Saya tidak menyudut pihak mana pun, tapi ini adalah pengalaman kita bersama sehingga kedepan persoalan di negri dapat kita selesaikan bersama," harapnya. (dag/wb)



TRENDING TOPICS
MEDSOS WOWBABEL