600 Hektar Sawah Desa Rias Mulai Mengering

Aston    •    Rabu, 21 Agustus 2019 | 20:06 WIB
Lokal
Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Sepakat Jaya, Ariyanto (baju biru) dan salah satu petani, Patkul (baju kuning) memperlihatkan kondisi lahan sawah desa Rias yang mulai mengering. (Astoni/wowbabel)
Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Sepakat Jaya, Ariyanto (baju biru) dan salah satu petani, Patkul (baju kuning) memperlihatkan kondisi lahan sawah desa Rias yang mulai mengering. (Astoni/wowbabel)

TOBOALI, www.wowbabel.com -- Ratusan hektare persawahan di Desa Rias, Kabupaten Bangka Selatan (Basel) terancam gagal panen karena kekeringan yang berkepanjangan. 

Hal tersebut dikatakan oleh Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Sepakat Jaya, Ariyanto. 

"Saat ini sekiitar 600 hektar padi mengalami kekeringan akibat kekurangan air dikarenakan musim kemarau, " ujar Ariyanto ketika ditemui Wartawan di lokasi persawahan Desa Rias, Rabu (21/8/2019). 

Pantauan di lokasi, debit air sudah jauh surut dari biasanya, bahkan dititik-titik tertentu sudah kering total. Padahal, padi sedang berumur dewasa dan tak lama lagi sudah memasuki masa panen. 

Ariyanto menuturkan, kondisi tersebut ancaman bagi ratusan petani setempat, "Disini mengandalkan tiga sumber air yakni yang utama Bendungan Mentukul, Kolong Pumpung dan Kolong Yamin. Namun Kolong Yamin saat ini sudah mengalami kekeringan," tuturnya. 

Ia mengatakan, sebagian persawahan SPA bergantung pada sumber air dari  Kolong Yamin, namun kondisi saat ini sudah kering total.

"Dan sebagian persawahan SPA mengandalkan kolong pumpung yang saat ini sedang proses normalisasi, itu saja masih menggunakan pompa untuk mengaliri sebagian sawah, sebagiannya lagi sudah tak lagi mengalir," kata Ariyanto.

 

Petani Rugi Rp8 Juta/hektar

Salah satu petani yang kondisi sawahnya sudah mengalami kekeringan yakni, Patkul (60).  Saat ini puluhan petak sawah miliknya mengalami kekurangan. 

"Sudah dua minggu ini kering, kalau sampai tiga hari atau paling lama satu minggu tidak tidak ada air kemungkinan besar akan mati dan gagal panen. Kalo dihitung kerugian saya Rp 8 juta per hektar," keluhnya. 

Kepala Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan, Suhadi mengatakan, Pemkab Basel saat ini sudah melakukan upaya mengatasi kekurangan air untuk mengaliri persawahan tersebut.

"Sekarang kita lagi proses normalisasi di kolong pumpung untuk membantu aliran persawahan. Dinas Pertanian juga sudah memfasilitasi pompa air pada aliran persawahan tersebut untuk meminimalisir kekeringan sebagiannya," kata Suhadi. 

Untuk menangkal kerugian jika terjadi gagal panen, Pemkab Basel sudah mengalokasikan asuransi Jasindo untuk para petani di Desa Trans Rias . Hanya saja,  asuran diberikan kepada padi gagal panen akibat terserang penyakit, hama dan bencana alam. 

"Apakah kekeringan bisa dimasukkan kategori bencana alam nanti Jasindo yang akan mengevaluasinya. Biaya klaim asuransi petani gagal panen sebesar 6juta per hektar ," tukas Suhadi. (Astoni/wb)



TRENDING TOPICS
MEDSOS WOWBABEL