Guru, Garda Terdepan Gerakan Literasi

Muri_Wow    •    Rabu, 21 Agustus 2019 | 17:58 WIB
Opini
Muri Setiawan (fb)
Muri Setiawan (fb)

IQRA' bismirabbikalladzi khalaq, “bacalah dengan nama Tuhanmu yang mencipta”. Sebuah perintah yang diturunkan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW. Pentingnya membaca agar manusia dapat mengungkap perbendaharaan duniawi dan akhirat. Perintah iqra tak hanya berlaku pada saat membaca Al Qur’an atau kitab-kitab agama semata.

Kegemaran membaca berkorelasi dengan kemampuan menulis. Sayang, budaya membaca belum mengakar di negara ini, kita sudah terbiasa dengan menonton (visual) atau mendengar (audio). Penelitian terbaru Programme for International Student Assessment (PISA), tingkat literasi masyarakat Indonesia tahun 2015 terendah ke-10 dari 72 negara yang disurvei. Indonesia berada di urutan 62 dengan rata-rata skor 395. UNESCO juga merilis tingkat literasi membaca di Indonesia hanya 0,001% atau dari 1000 orang hanya 1 orang yang memiliki minat baca tinggi. Studi Most Littered Nation In the World yang dilakukan oleh Central Connecticut State Univesity (CCSU) pada Maret 2016, Indonesia ada di peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat membaca.

Sementara, Pusat Data dan Statistik Pendidikan dan Kebudayaan Kemendikbud RI menyebutkan penduduk Indonesia yang telah berhasil diberaksarakan mencapai 97,932%, atau tinggal sekitar 2,068% (3,474 juta orang) yang masih buta aksara. Data BPS tahun 2018, menunjukkan 2,07% atau terdapat 3.387.035 jiwa yang masih mengalami buta huruf.

Kementerian Pendidikan dan K



1   2      3      4