Kemarau Panjang, Ponpes di Babel Krisis Air Bersih

Endi    •    Kamis, 22 Agustus 2019 | 22:47 WIB
Lokal
Waduk sebagai sumber air di Pondok Pesanteran (Ponpes) Wahad Tahfidz Hidayatul Qur'an, yang beralamat di Desa Puding Besar, Kabupaten Bangka, sudah kering, sehingga para santri kesulitan air bersih.(ist)
Waduk sebagai sumber air di Pondok Pesanteran (Ponpes) Wahad Tahfidz Hidayatul Qur'an, yang beralamat di Desa Puding Besar, Kabupaten Bangka, sudah kering, sehingga para santri kesulitan air bersih.(ist)

PUDINGBESAR, www.wowbabel.com -- Kemarau panjang sudah melanda hampir seluruh wilayah Bangka Belitung hingga saat ini, dampaknya sejumlah dEerah mengalami kekeringan dan kerisis air bersih.

Salah satu yang terkana dampak paling parah adalah Pondok Pesanteran (Ponpes) Wahad Tahfidz Hidayatul Qur'an, yang beralamat di Desa Puding Besar, Kabupaten Bangka, Provinsi Bangka Belitung.

Untuk beraktifitas, 300 lebih santri-santriwati mengandalkan suplai air bersih dari Dinas Sosial dan PDAM setempat, termasuk dua unit sumur bor milik ponpes.

Namun kebutuhan air yang mencapai 10.000 liter perhari, dengan suplai tidak menentu dari dinas terkait, membuat ponpes ini mengalami kerisis air bersih, terutama untuk aktivitas mandi cuci kasus (MCK).

Sementara waduk yang berada tepat di belakang ponpes dan selama ini menjadi sumber utama penyuplai air ke dalam ponpes, mengalami kekeringan.

"Minimal 10.000 liter air perhari yang kita butuhkan di sini. Inilah masalah besar kita saat ini berhubung waduk yang kita bangun bersama masyarakat dengan panjang 80 meter, lebar 14 meter dan kedalaman 4 meter mengalami kekeringan," kata Pimpinan Ponpes Mahad Tahfidz Hidayatul Qur'an, KH. Mashuri, L.c, MA, Kamis (22/8/2019).

Jauh hari, kata Mashuri, pihaknya telah membuat lima sumur bor, guna memenuhi kebutuhan air, namun hanya dua yang berfungsi saat ini.

"Walaupun kami telah berusaha untuk memenuhi kebutuhan air dengan melakukan pengeboran, namun dari beberapa sumur bor yang kita lakukan kurang berhasil, dari lima tetapi yang berfungsi hanya dua," jelasnya.

Dia menerangkan, sejak berdiri 2013 lalu sudah 340 santri yang mondok di ponpes ini, dan saaat ini sangat bergantung pada bantuan suplai ataupun air bersih untuk beraktivitas.

Menurutnya, tanggapan masyarakat terutama wali santri sangat luar biasa untuk memenuhi kebutuhan air.

"Insya Allah dalam waktu dekat kita akan melakukan pengeboran, namun saat ini belum bisa dilakukan dikarenakan petugas pengeboran sedang sibuk melakukan pekerjaan di tempat lain," tandasnya.

Prihatian dengan kondisi tersebut, Komisi Perlindungan Anak Daerah (KPAD) Babel, menyambangi Ponpes Madah Tahfidz Hidayatul Qur'an, guna memastikan kodisi pelajar baik-baik saja.

"Kita mendapat laporan masyarakat bahwa di sini mengalami kerisis air bersih, untuk itu kita datang menginvestigasi," kata Ketua KPAD Babel, Sapta Qodria.

Sebagai tindak lanjut kunjungannya, sebut Sapta, dirinya berjanji akan merekomendasikan kepihak terkait, agar persoalan ini dapat diatasi.

"Kita akan bantu rekomendasi kepada pihak perusahaan BUMN di sini melalui dana CSR mereka untuk membuat sumur bor, karena kita lihat ponpes ini cukup maju, dimana tadi kita lihat ada santriwati dari Thailand yang hampir empat tahun disini dan sudah hafal 30 juz Al-Qur'an," tukasnya.(dag/wb)



MEDSOS WOWBABEL
OPINI KITE