Kelesuan Industri Timah Mendera, Riza : Kurangi Eksport Timah

Abeng    •    Kamis, 05 September 2019 | 14:00 WIB
Nasional
Dirut PT Timah Tbk M Riza Pahlevi ketika tampil dalam sesi CEO Forum Asia Tin Week 2019 di Kota Xi'An, Provinsi Saanxi, China,  Kamis (5/9/2019).(ana/wb)
Dirut PT Timah Tbk M Riza Pahlevi ketika tampil dalam sesi CEO Forum Asia Tin Week 2019 di Kota Xi'An, Provinsi Saanxi, China, Kamis (5/9/2019).(ana/wb)

XI’AN,www.wowbabel.com -- Kelesuan industri pertimahan dunia akibat perang dagang Amerika Serikat dengan China menjadi peluang bagi PT Timah Tbk untuk memainkan harga. Ketika perusahan penambangan timah di China melepas stok ke pasar, langkah sebaliknya diambil Indonesia dengan menahan ekspor timah hingga harga di pasar terdongkrak kembali.

Demikian disampaikan Riza Pahlevi Dirut PT Timah Tbk  ketika tampil dalam sesi CEO Forum Asia Tin Week 2019 di Kota Xi'An, Provinsi Saanxi, China,  Kamis (5/9/2019).

Sebagai salah satu produsen terbesar timah dari Indonesia, PT Timah Tbk menjadi salah satu delegasi yang ditunggu dalam forum yang diselenggarakan oleh International Tin Association (ITA) ini.

Sejumlah issu strategis dibahas dalam Asia Tin Week tahun ini, terhangat adalah tentang pengaruh trade war China – Amerika terhadap industri timah dunia dan harga komoditi timah.

Direktur Utama PT Timah Tbk menyampaikan pada forum internasional bahwa  sektor pertimahan Indonesia tidak ada issu tentang pasokan  balok  timah dibatasi. Pemerintah Indonesia  melakukan perbaikan regulasi dengan membuat aturan tentang neraca cadangan dan verifikasi oleh CPI.

“Di Indonesia kita bisa lakukan eksport, jika kita sudah melengkapi standard dan regulasi yang  sudah ditetapkan pemerintah,” imbuh Riza Pahlevi.

Pada kesempatan yang sama, Riza juga menyampaikan bahwa perusahaan akan menyikapi kelesuan harga timah yang terjadi saat ini, dengan melakukan kebijakan efektifitas dan efisiensi pada operating cost, terutama volume ekspor.

“Melihat apa yang terjadi pada pasar saat ini, kita akan lakukan kebijakan untuk menahan volume ekspor,  kenapa karena harga timah semakin menurun, namun tentu kebijakan ini akan dievaluasi kembali ketika harga sudah membaik,” jelasnya.

Saat ditanya berapa banyak Indonesia akan melakukan reduksi terhadap volume eksportnya, Riza menjelaskan bahwa kondisi harga saat ini kurang mengapresiasi bagi para pekerja tambang. 

“Dari periode Juli 2019, kami sudah lakukan penekanan volume hingga 20 persen, jika harga tetap tidak membaik kami akan tetap pertahankan untuk kemudian mengurangi volume eksport hingga 1.000 sampai 2.000 ton. Penambangan Timah adalah sektor yang dalam operasionalnya juga memiliki resiko-resiko, dan kami merasa bahwa harga saat ini kurang mengapresiasi apa yang sudah kami kerjakan sebagai penambang,” tegas Riza.

Pada akhir forum leader, para panelis bersepakat bahwa harus ada langkah-langkah yang dilakukan untuk mengupayakan perbaikan pada harga timah dunia hingga kisaran diatas 20.000 USD/Ton. 

Pada forum pimpinan, Direktur Utama PT Timah Tbk tampil  bersama -sama dengan para pimpinan perusahaan timah dunia membahas tentang situasi bisnis pertimahan dunia, antara lain perwakilan dari Yunnan Tin, Guang Xi China Tin Group, Traxys, dan ITA. (ana/wb)

Halaman