Saat Dunia Soroti Pembatasan Ekspor Timah Indonesia (1)

Abeng    •    Rabu, 11 September 2019 | 23:43 WIB
Opini
Dirut PT TImah Tbk, Riza Pahlevi (tiga dari kanan), menjadi pembicara dalam forum Asia Tin Week di China,  belum lama ini. (Albana/wowbabel)
Dirut PT TImah Tbk, Riza Pahlevi (tiga dari kanan), menjadi pembicara dalam forum Asia Tin Week di China, belum lama ini. (Albana/wowbabel)

PEMBATASAN ekspor timah oleh Indonesia menjadi sorotan industri pertimahan dunia. Pada tempo yang sama, langkah ini pun dilakukan oleh produsen timah terbesar dari China setelah jor-joran melepas cadangan timahnya ke pasar guna menahan laju pelemahan ekonomi domestik selama perang dagang antara Amerika Serikat- China.

Sejak China melempar stok timah ke pasar melalui Shanghai Futures Exchange (SHFE), harga timah dunia langsung turun. Memasuki kuartal pertama 2019, harga timah dunia pasar London Metal Exchange (LME) berada di bawah 16.000 USD per metirk ton. Dampak lainnya adalah melemahnya pertumbuhan manufaktur di Jepang dan Korea Selatan.

Indonesia dan beberapa negara produsen timah seperti Myanmar dan negara-negara di Afrika dan Amerika Latin menempuh jalan mengurangi ekspor. Inilah yang kemudian menjadi kekhawatiran industri yang mengandalkan komponen timah dunia, terutama dari China sebagai negara produsen sekaligus konsumsi timah terbesar di dunia.

“Tidak ada larangan ekspor timah Indonesia, PT Timah Tbk sebagai produsen timah terbesar kedua di dunia hanya menjalankan regulasi dari pemerintah Indonesia yang memang membatasi ekspor timah,” kata Riza Pahlevi Direktur Utama PT Timah Tbk dalam Leader’s Forum saat Asia Tin Week 2019 awal pekan September 2019 di Kota Xi’an, China.

Kekhawatiran para pembeli timah dunia untuk kepentingan berbagai industri elektronik maupun tekhnologi komunikasi ini beralasan. China yang me



1   2      3      4