Merugi, Petani Lada Berhenti Berkebun

Chairul Aprizal    •    Selasa, 24 September 2019 | 16:28 WIB
Lokal
ilustrasi.(net)
ilustrasi.(net)

MUNTOK,www.wowbabel.com – Marwan (40) warga Desa Pangek Kecamatan Simpang Teritip, yang juga petani lada memutuskan berhenti menanam lada lantaran merugi akibat harga lada yang tidak kunjung membaik.

"Sudah malas bekebun, untung jadi buntung, upah mutik sahang (lada--red) sekarang kan Rp 70 ribu per kilo sedangkan harga sahang Cuma Rp 46 ribu per  kilo. Jadi satu kilo sahang itu tidak cukup membayar upah satu hari pekerja rakyat, dulu saya pernah mempekerjakan hingga dua puluh pekerja," ungkap Marman, Senin (23/09/2019).

Marman mengaku hingga kini lada hasil panen terakhir masih disimpannya dan akan dijula jika harga sudah naik.

"Kebun tidak lagi, saya sekarang beralih jadi pedagang. Lima tahunan saya jadi petani sahang, waktu mahal kemarin tahun sebelum Erzaldi lah, pernah dapat untung sekitar tiga ratusan juta,” tutur Marwan.

Marwan mengatakan sebelum kepemimpinan Gubernur Bangka Belitung Erzaldi yang disebut presiden lada yang dipilihnya, harga Lada masih Rp 185.000 per kilo dan pernah menghasilkan hingga tiga ton lebih.

"Waduh nangis sekarang, memang sekarang kan bantuan untuk bibit luar biasa cuman harga yang jadi masalah," imbuh.

Marwan mengaku kecewa dengan pemerintah yang dulunya berjanji akan lebih mensejahterakan para petani lada.

Hal yang sama juga diungakapkan Aziz (37) petani lada asal Desa Pelangas Kecamatan Simpang  Teritip. Harga lada yang anjlok mencekik para petani.

"Untuk petani anjlok benar, ini jatuh benar. Aktivitas sekarang beralih ngaret (menyadap getah karet—red), ngaretlah biarpun dapat lima kilo sehari bisalah untuk dua kilo beraskan," tutur Azis.

"Harapan pemerintah inilah harus bisa menaikkan harga lada, soalnya kan masyarakat itu masih nyimpan lah sekarung dua karung ladanya," ungkap Azis.

Azis mengaku sudah turun temurun menjadi petani lada, puluhan tahun lalu dan memiliki kebun lada. Namun sekarang terpaksa berhenti berkebun.

"Tidak bertani lagilah. Dulu itu lumayan bisa seratus lebih juta setahun itu sebelum gubernur baru. Ya milih gubernur baru, sebenarnya kita kemarin itukan berharap janjinya itu, kecewa sih pasti malahan kecewa berat," tutur Azis.

Azis masih mengharapkan gubernur pilihannya itu bisa menaikkan kembali harga lada agar bisa kembali bertani lada.(rul/wb)



TRENDING TOPICS
MEDSOS WOWBABEL