Sungai Kuala Mapur Porak Poranda Dihajar Penambangan Liar

Dwi H Putra    •    Senin, 07 Oktober 2019 | 11:52 WIB
Lokal
Kawasan hutan bakau di Sungai Kuala Mapur rusak akibat tambang inkonvensional rajuk ilegal.(ist)
Kawasan hutan bakau di Sungai Kuala Mapur rusak akibat tambang inkonvensional rajuk ilegal.(ist)

RIAU SILIP, www.wowbabel.com -- Nelayan berharap aparat kepolisian dan Petugas Penegak Hukum Kementerian Lingkungan Hidup (Gakkum KLH) dapat turun tangan menindak pengrusakan bakau di Sungai Kuala Mapur Riau Silip.

"Bakau yang dirusak baik akibat ditebang untuk membuat ponton maupun pondok pekerja tambang, bakau juga rusak karena lingkungannya tercemar limbah tambang hingga membuat pohon bakau banyak mati walaupun telah berusia tua," kata salah seorang Nelayan Desa Deniang, Juliadi alias Ali di Riau Silip, Senin (7/10/2019).

"Habitat ini sekitar dua bulanan dihajar tambang, sebenarnya kami juga perlu kayu, tapi kami tidak mau dan kami tidak berani menebang bakau, malah kami menjaga, kalau sempat kami lihat yang kecil, kami pindah, kami tanam," ujarnya.

Pria yang keras menolak pengrusakan lingkungan sungai dan laut ini meminta aparat kepolisian dan Gakkum KLH menindak oknum-oknum yang merusak hutan bakau pada kawasan yang disebut warga hutan lindung pantai ataupun hutan lindung bakau.

"Bakau kami sudah rusak ditebang mungkin sudah ratusan, bahkan ribuan pohon yang rusak dijadikan ponton ataupun lainnya. Kami minta pihak kepolisian terutama yang ada di Bangka untuk menindak perambahan hutan bakau yang ada di area Sungai Kuala Mapur ini," harapnya. 

"Kalau mereka tidak bisa menindak kami harap tim Gakkum KLH ikut turun tangan dalam menindak dan mempidanakan oknum-oknum yang telah merambah hutan bakau di aliran Sungai Kuala Mapur,"



1   2