Perempuan Miliki Peran Strategis Dalam Penanggulangan Bencana

HendriDede    •    Rabu, 09 Oktober 2019 | 22:54 WIB
Nasional
Kegiatan Uji Publik Kurikulum dan Modul Srikandi Siaga Bencana, di PIA Hotel Pangkalpinang Bangka Belitung, Rabu (09/10/2019).(hen/wb)
Kegiatan Uji Publik Kurikulum dan Modul Srikandi Siaga Bencana, di PIA Hotel Pangkalpinang Bangka Belitung, Rabu (09/10/2019).(hen/wb)

PANGKALPINANG,www.wowbabel.com -- Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan (Pusdiklat) Penanggulangan Bencana BNPB, Bagus Tjahjono mengungkapkan berbagai ancaman bencana, baik disebabkan faktor alam maupun nonalam saat ini masih mengintai Indonesia.

"Ada kecenderungan peningkatan jumlah kejadian bencana dari tahun ke tahun. Tahun 2016 tercatat 1.985 kejadian, pada 2017 menjadi 2.341 kejadian, dan Tahun 2018 terus meningkat menjadi 2.426 kejadian," ujarnya saat menyajikan kegiatan Uji Publik Kurikulum dan Modul Srikandi Siaga Bencana, di PIA Hotel Pangkalpinang Bangka Belitung, Rabu (09/10/2019).

Dari jumlah tersebut, 97 persen kejadian bencana merupakan bencana hidrometeorologi. Peningkatan tren bencana sesungguhnya bukan hanya terjadi di Indonesia. Secara global, dalam tiga dekade berselang, jumlah bencana dilaporkan meningkat sekitar 350 persen.

Selama tahun 2000-2018, rata-rata kerugian ekonomi global akibat bencana mencapai US$111 miliar. Bukan hanya negara berkembang, negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Jepang, Australia, dan Selandia Baru juga mengalami bencana dengan korban dan kerugian sangat besar.

"Ini membuktikan tidak ada negara di dunia yang betul-betul bebas dari ancaman bencana," ujarnya.

Di masa mendatang, lanjutnya, ancaman bencana akan semakin meningkat disebabkan meningkatnya kerentanan, antara lain akibat perubahan iklim global, penurunan kualitas lingkungan, kondisi geografis, kemiskinan, rendahnya



1   2      3