Ini Penyebab Buaya di Belinyu Bermunculan

Endi    •    Jumat, 01 November 2019 | 10:01 WIB
Lokal
Aktivitas tambang timah apung yang diduga beroperasi secara illegal persis di lokasi habitat Buaya Muara, di sekitar Muara Sungai Berok, Kecamatan Belinyu, Kabupaten Bangka.(dag/wb)
Aktivitas tambang timah apung yang diduga beroperasi secara illegal persis di lokasi habitat Buaya Muara, di sekitar Muara Sungai Berok, Kecamatan Belinyu, Kabupaten Bangka.(dag/wb)

PANGKALPINANG, www.wowbabel.com -- Warga di Provinsi Kepulauan sejak beberapa hari belakangan dihebohkan dengan viralnya rekaman video penampakan buaya di sekitar muara sungai yang ramai disebut terjadi di Belinyu, Kabupaten Bangka.

Menindaklanjuti hal tersebut, tim yang terdiri dari Yayasan Alobi Foundation, Balai Konservasi Sumberdaya Alam (BKSDA) Resort Bangka Belitung bersama PT Timah, mendatangi lokasi guna memberikan imbauan kepada masyarakat setempat.

Bertolak dari Dermaga Mantung menggunakan perahu milik PT Timah, tim akhirnya tiba dil okasi tepatnya di muara Sungai Berok, Kecamatan Belinyu, Kabupaten Bangka.

Denguran suara mesin tambang timah dengan puluhan ponton apung aktif pun menyambut tim saat tiba di lokasi, yang sama persis dengan rekaman video amatir warga yang menampakan buaya berukuran besar sedang menampakan diri.

Menurut warga setempat, buaya muara bernama latin crocodilus porosus itu sejak beberapa hari belakangan memang kerap muncul ke permukan yang sangat dekat dengan aktivitas tambang apung yang diduga beroperasi secara illegal itu.

"Yang saya lihat ada dua buaya berukuran besar sekitar tiga meter, memang hampir setiap hari kalau air surut dia muncul," kata Jaka warga setempat.

Kendati kerap mencul ke permuakaan, reptil ganas tersebut, diakui Jaka, belum pernah menyerang penambang maupun nelayan sekitar.

"Dia (buaya) tidak menyerang kalau kita tidak mengganggnya. Setahu saya belum ada yang kena serang buaya khusus di muara Sungai Berok ini," ujarnya.

Menurut Ketua Yayasan Alobi, Langka Sani, ada dua faktor yang menyebabkan buaya tersebut mulai bermunculan kepermukaan, terutama karena habitatnya terganggu dan masuknya musim kawin bagi buaya.

"Memang habitat buaya muara ini ada di sini. Berkaca dari kasus-kasus sebelumnya buaya ini muncul pertama karena rusaknya habitat mereka dan mengacu pada bulan November hingga Januari masuk musim kawin buaya, dimana karekter buaya menjadi agresif untuk mencari pasangan," jelas Langka Sani, Jumat (1/11/2019).

Data Alobi mencatat, hingga Juli 2019 terdapar 52 kasus konflik buaya di Bangka Belitung, dimana 32 kasus diantaranya bersinggungan langsung dengan manusia dan menyebabkan 12 orang tewas, sementara 20 orang lainnya mengalami luka-luka hingga ada harus diamputasi.

"Kami berharap kepada pihak terkait, untuk segera memasang plang peringatan, bahwa disekitar ini merupakan zona ataupun habitat dari buaya," tukas Langka Sani.(dag/wb)



TRENDING TOPICS
MEDSOS WOWBABEL