Gegara 'Cantingan Liar' Warga Sungai Buluh Berunjuk Rasa

Sejumlah warga Desa Sungai Buluh Kecamatan Jebus menggelar aksi unjuk rasa di kawasan Sungai Kelabang Desa Sungai Buluh Kecamatan Jebus.(ist)
Sejumlah warga Desa Sungai Buluh Kecamatan Jebus menggelar aksi unjuk rasa di kawasan Sungai Kelabang Desa Sungai Buluh Kecamatan Jebus.(ist)

JEBUS, www.wowbabel.com -- Sejumlah warga Desa Sungai Buluh Kecamatan Jebus menggelar aksi unjuk rasa di kawasan Sungai Kelabang.

Unjuk rasa yang digelar selama dua hari berturut-turut, Sabtu(2/11/2019) dan Minggu (3/11/2019) dipicu persoalan canting liar (pungli--red) yang dilakukan oknum tertentu terhadap para pekerja tambang timah tower ilegal di kawasan Hutan Kelabang.

Warga merasa resah lantaran oknum tertentu mencatut nama desa untuk memungut uang cantingan.

Kades Sungai Buluh Atteni menginginkan oknum warganya yang mengatasnamakan desa dengan memungut 'Cantingan Liar' di ponton TI diproses hukum.

"Membalikkan fakta nuduhnya bahwa desa yang mungut bayaran, kenyataan di lapangan mereka jadi preman" kata Atteni, Minggu (03/11/2019).

Atteni menyatakan oknum warganya itu telah melakukan tindakan premanisme yang memotori kegiatan pertambangan timah ilegal.

Akibat hal itu, kata Kades warganya dalam dua hari berturut-turut sejak kemarin telah melakukan unjuk rasa menghentikan aksi premanisme itu.

"Kami pihak desa kan memediasi takut ada anarkis nanti, iya kita udah ngomong sama pak Kapolsek. Unjuk rasanya itu damai sama ponton-ponton dari luar itu karena selama ini kegiatan itu dimotori oknum-oknum tertentu yang memungut pungutan cantingan liar yang sifatnya premanisme," tutur Atteni.

Atteni menjelaskan masyarakat desa unjuk rasa karena resah oleh oknum tersebut mengatasnamakan desa dalam melakukan pungutan liar.

"Cuma hari ini lah datang lagi massa ini sampai hari Kamis, biar mereka lari nunggu di situ" tuturnya.

"Orang kan bencilah ini mengatasnamakan desa pungutan liar. Selain itu menjelek-jelekan desa. Tempo hari itu dengan kampak pungut bendera ngatasnamakan desa, sampai dua puluh satu bendera, satu bendera dipungut tiga juta," jelas Atteni.

Kades menduga lokasi pertambangan timah rajuk tersebut adalah kawasan HL serta tidak mengantongi ijin.

Menurut Atteni aksi premanisme cantingan liar di ponton TI yang mengatasnamakan desa sudah berjalan sekitar satu tahun ini dan ponton TI bukan milik warganya.

"Masyarakat desa kami ini banyak orang miskin jadi untuk bikin ponton tower itu butuh dana besar. Itu penambang dari luar," ungkap Atteni.

Atteni mengungkapkan sebagian warganya berprofesi sebagai petani, nelayan, dan hanya sebagian menambang sebagai pekerja bukan pemilik.

"Kalau bisa untuk pertama ini disterilkan premanismenya soalnya udah dua kali," imbuh Atteni.

Atteni menambahkan pihaknya hanya bisa memberi imbauan lantaran bukan sebagai penegak hukum.(rul/wb)



TRENDING TOPICS
MEDSOS WOWBABEL