Belinyu dan Puing –puing Kejayaan Timah Masa Lalu

Abeng    •    Rabu, 06 November 2019 | 17:30 WIB
Lokal
Rumah Kongsie yang ada di Kota Belinyu . Para penambang timah didatangkan Belanda dari China dikoordinir para kongsie.(ist)
Rumah Kongsie yang ada di Kota Belinyu . Para penambang timah didatangkan Belanda dari China dikoordinir para kongsie.(ist)

Oleh Albana Wartawan wowbabel.com

ATLAS sekolah Hindia Belanda tahun 1909 sedikit mendeskripsikan tentang Pulau Bangka. Residen Bangka berada di Muntok sebagai pusat pemerintahan sebelum pindah ke Pangkalpinang. Di bawah residen ada daerah countroler atau Wedana, seperti Jebus, Belinyu, Sungailiat, Baturusa, Pangkalpinang, Sungaiselan, dan Koba hingga Toboali.

 “Pulau ini berbukit, sedikit yang bisa dilakukan untuk pertanian. Beras yang diperlukan untuk penduduk, harus dipasok dari Jawa. Bagian bawahnya lebih kaya timah, yang diekstrak oleh penambang dari  Cina.” Demikian  penjelasan buku atlas itu pada halaman 30 buku atlas dikutip dari www.delpher.nl/nl/boeken/.

Sebelum Belanda kembali menguasai Bangka, masa kekuasaan Inggris, Pulau Bangka dijadikan atas tiga divisi yang cenderung  sesuai dengan pembagian wilayah eksplorasi atau penambangan timah. Wilayah bagian Utara (northern division) yaitu wilayah Jebus (stocade of Teboos), Belinyu (stocade of Belinyoo), Sungailiat (stocade of Soongie-liat), serta Merawang (stocade of Marawang).

Pada masa Belanda pembagian wilayah juga sama, yaitu mengikuti wilayah operasi penambangan timah, hanya saja Bangka dibagai dalam 4 wilayah, yakni wilayah Barat tetap Mentok sampai ke Kelapa hingga Kota Waringin. Sedangkan Wilayah Utara  Mulai dari Jebus, Parit Tiga, Belinyu hingga perbatasan Riau Silip. Sedangkan Riau Silip, Deniang, Sungailiat sampai Baturusa adalah wilayah Tengah dengan pusatnya di Sungailiat.

Pangkalpinang menjadi wilayah tersendiri dengan cakupan wilayah sebagai dari Mendo Barat, Sungaiselan hingga Permis. Dan Selatan Bangka, mulai dari Koba hingga Toboali, termasuk Pulau Lepar dan Pongok.

Jalur Kereta Api dan Telekomunikasi

Ekspansi penambangan mulai di Utara Bangka ini pemerintah Belanda membangun berbagai infrastruktur guna menunjang penambangan timah. Kantor, tempat tinggal, hingga sekolah. Tak terkecuali di Belinyu.

Penambangan timah menumbuhkan pusat permukiman baru, seperti Belinyu dan Sungailiat. Kemudian Pangkalpinang sebagai kantor utama perusahaan penambangan milik Belanda Bangka Tin Winning Bedrijf (BTW).

Tercatat tahun 1896 Kereta Api digunakan di Belinyu untuk pengangkutan hasil tambang atau operasional tambang.  Pada akhir tahun 1800-an itu Sutedjo Suyitno mencatat jika sarana transportasi angkutan kereta api terdapat di Belinyu, Sungailiat, dan Pangkalpinang dengan panjang rel 86 kilometer dan jumlah lokomotif 19 unit untuk menarik 358 gerbong angkut. Perincian lokomotif  5 unit di Belinyu, terbanyak di Sungailiat 14 unit, dan Pangkalpinang ada 8 unit.

Yuliandi menulis Kota Belinyu (Nostalgia sebuah kota kecil) : Jalan Trem di kotabelinyu.blogspot.com (2008) memaparkan jalur yang dilewati oleh kereta api di Belinyu. Jalan Trem (Jalan Train/Jalan Rel) dibangun sebagai sarana transportasi orang dan barang yang menghubungkan Mantung dan Pelabuhan Berok. Dari Belinyu ke Mantung, trem ini juga membawa pekerja yang berangkat bekerja ke Mantung, sedang dari Mantung-Belinyu membawa timah batangan yang akan di eksport melalui Pelabuhan Berok.

Pada Jaman Belanda, setiap Wilayah Produksi (Wilasi) Bangka Tin Minning, masing-masing memiliki Tambang/Parit, Unit Pencucian Pasir Timah dan Peleburan Timah di masing-masing daerah. Pada saat itu peleburan timah belum terpusat di Peleburan Timah Mentok (Pusmet).

Untuk Wilayah Produksi Belinyu, pasir timah dari tambang-tambang dicuci dan di turunkan kadar airnya (digoreng) di Wassrij (wash-dry) atau “Wasrei”, yang terletak di belakang Rumah Sakit Belinyu. Setelah itu di bawa ke Mantung menggunakan “kampil” (karung kecil) untuk dileburkan menjadi Timah Batangan di Rumah Peleburan Timah (yang disebut Rumah Puput). Hasilnya berupa timah batangan yang siap di export .

Kembali ke Jalan Trem tadi, jalurnya di mulai dari Pelabuhan Berok, terus ke Kampung Gudang, Simpang Pahlawan-XII, terus ke Toko Anam, terus ke Simpang Bioskop Belia (dulu disebut Simpang Limo). Dari situ berbelok kiri, hingga ke Jalan Melati (kai mui=bhs Cina) . Melewati SMP Negeri I terus ke lapangan sepak bola stadion hingga memotong Jalan Kartini (Bukit Penyep). Dari situ lurus menembus Jalan Cut Yak Dien (Bukit Juna) terus hingga ke Air Terak di bawah Kantor Telekomunikasi Padang Nalang.

Sampai di sini, Trem Uap ini berbelok kiri melewati Jalur Transmisi Tegangan Tinggi 30 KVA, melewati sisi Padang Lalang hingga ke Pulau Pune, melewati Batu Dinding hingga ke tempat Peleburan, Rumah Puput di Mantung.

 Ada beberapa tempat perhentian Trem ini untuk mengangkut Pegawai yang bekerja di Mantung dan sekitarnya, salah satunya yaitu di pertigaan Jalan Pahlawan-XII. Disinilah mereka menunggu trem untuk pergi bekerja dari Kota Belinyu ke Mantung. Bahkan jalan trem di Belinyu menuju ke arah Pantai Bubus.

Tak saja alat  angkut Kereta Api,  di Belinyu juga pada masa ini sudah dibangun jalur komunikasi berupa telegrap dan jaringan telepon  menghubungkan kota utama penambangan timah. Pada tahun  1917, Kolonial Belanda melaui perusahana penambangan timahnya mendirikan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) terbesar se-Asia yang letaknya berada di Mantung. Dari PLTU Mantung, listrik dialirkan ke Sungailiat, Pangkalpinang, Jebus, hingga Muntok.

Daya listrik sebesar 30 KVA dari PLTU Mantung ditransfer melalui transformator (trafo) menjadi 10 KVA, untuk melayani tambang dan parit serta daya 220 V untuk melayani rumah tangga masyarakat dan karyawan tambang timah. Awal tahun 1980, PLTU Mantung mulai berhenti beroperasi. Keberadaan PLTU terbesar pada masanya itu dibiarkan terbengkalai.

Saat ini kondisi seluruh bangunan yang menandai kejayaan Kota Belinyu sebagai daerah penambangan timah itu menyisakan puing. PLTU Mantung, bangunan eks gudang dan rumah pegawai timah era Banka Tin Winning itu sudah runtuh. Sisa jalur kereta tak ditemukan lagi. Tersisa hanya kenangan, bahwa Belinyu pernah menjadi kota penting di Pulau Bangka. (*)



MEDSOS WOWBABEL
OPINI KITE