Thjo Lian Sin, Dokter Pertama Lulusan ELS Belinyu

Abeng    •    Kamis, 07 November 2019 | 16:56 WIB
Opini
Tjho Lian Sin. (*)
Tjho Lian Sin. (*)

TAK ada yang kenal dengan nama ini. Dalam catatan sejarah tokoh Tionghoa Indonesia, dr Thjo Lian Sin pernah menjabat Direktur Rumah Sakit Sumber Waras Jakarta tahun 1960. Hanya sepenggal itu saja catatan tertulisnya.

Thjo Lian Sin adalah kelahiran Belinyu, Kabupaten Bangka tahun 1908. Bisa jadi dia adalah generasi pertama Tionghoa asal Bangka yang mendapat gelar dokter. Thjo Lian Sin menghabiskan pendidikan dasar di Europeesche Lagere School (ELS) Belinyu. Setelah itu dia meneruskan pendidikan menengah di Hogere Burgerschool  (HBS)  di Batavia (Jakarta).

Lulus HBS, Thjo Lian Sin melanjutan pendidikan di Fakultas Kedokteran sebuah Universitas di Amsterdam, Belanda. Lulus kuliah dia mengabdikan diri sebagai dokter di Kota Tegal, Jawa Tengah menggantikan rekannya dr Siem Kie Ay.

Jejak Thjo Lian Sin selama mengabdikan diri itu masih sangat terbatas. Namanya baru mencuat kembali di tahun 1960 saat menjabat direktur Rumah Sakit Sumber Waras yang diresmikan pendiriannya tahun 1958.

Gejolak politik Indonesia di tahun 1965 berimbas terhadap warga keturunan Tionghoa di Indonesia. Dr Thjo Lian Sin sempat meninggalkan Indonesia dan beberapa tahun kemudian kembali lagi ke tanah air. Dia meninggal dalam usia 62 tahun, tepatnya 1970 (sumber Tokoh-tokoh Etnis Tionghoa di Indonesia Oleh Sam Setyautama, Kepustakaan Popuer Gramedia 2008).

Thjo Lian Sin sebagai bukti jika di Belinyu sudah ada ELS. Di Indonesia, baru tahun 1903 belanda mendirikan ELS (Europeesche Lagere School) adalah sekolah dasar menggunakan Bahasa Belanda sebagai bahasa pengantar.

Awalnya hanya terbuka bagi warga Belanda di Hindia Belanda. Sejak tahun 1903 kesempatan belajar juga diberikan kepada orang-orang pribumi yang mampu dan warga Tionghoa.

Setelah beberapa tahun, pemerintah Belanda beranggapan bahwa hal ini ternyata berdampak negatif pada tingkat pendidikan di sekolah-sekolah HIS dan ELS, maka kembali dikhususkan bagi warga Belanda saja.

Sekolah khusus bagi warga pribumi kemudian dibuka pada tahun 1907 (yang pada tahun 1914 berganti nama menjadi Hollandsch-Inlandsche School (HIS), sementara sekolah bagi warga Tionghoa, Hollandsch-Chineesche School (HCS) dibuka pada tahun 1908.

Masuk ELS yang sejatinya diperuntukkan bagi anak-anak Belanda itu bukan cuma masalah prestise di mata masyarakat. Dengan masuk ELS, seorang anak punya peluang masuk sekolah menengah macam HBS. Jika lulus HBS, maka bisa masuk universitas lebih cepat dibanding anak HIS yang masuk MULO lalu masuk AMS dahulu. 

ELS menentukan masa depan seorang anak. Dengan ijazah ELS, bahkan berijazah sekolah dasar macam HIS saja, seseorang berpeluang untuk jadi sersan KNIL yang gajinya lebih tinggi dari guru swasta.

Thjo Lian Shin, cukup beruntung menyelesaikan ELS di Belinyu hingga meraih ijazah dokter dari Amsterdam. Tidak banyak putra kelahiran Belinyu, bahkan Bangka sekalipun pada era kolonial mampu meraih pendidikan tinggi.

Belinyu pernah melahirkan sosok Tjho Lian Shin lulusan Europeesche Lagere School (ELS), tergolong elite. ELS sekolah dasar prestisius yang diperuntukkan bagi anak-anak Eropa. Anak-anak bumiputra juga ada, tapi dari golongan pembesar. Selain dua golongan itu, anak-anak indo atau blasteran Eropa-pribumi juga diterima di sekolah itu.

Dr Thjo Lian Sin seperti Tionghoa Bangka umumnya berasal dari orang tua yang datang ke Bangka dari China sebagai pekerja tambang timah milik perusahaan Belanda di awal abad ke 18 saat penambangan timah resmi dibuka.  

Menurut sejarawan Myra Sidharta  umumnya pekerja tambang dari China berasal dari daerah Guangdong (Kanton) Tiongkok. Mereka umumnya tidak membawa istri sehingga menikahi penduduk bumiputera, baik Bangka, Jawa maupun Bali.

Maka, menurut Myra, Tionghoa di Bangka adalah “masyarakat peranakan sebenarnya, yaitu darah campuran Tionghoa dan pribumi.” Dan dr Tjho Lian Sin salah satunya. (*)

Halaman