Berdialog dengan Jemaah Gabungan, Mukhlisin Bawa Sejumlah Kitab Sebagai Rujukan

Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Bangka Barat Mukhlisin (mengenakan kemeja putih--red)terpaksa harus bawa sejumlah kitab rujukan untuk dijelaskan detil demi memperjelas tidak ada keharusan melarang bupati non muslim membuka acara.(rul/wb)
Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Bangka Barat Mukhlisin (mengenakan kemeja putih--red)terpaksa harus bawa sejumlah kitab rujukan untuk dijelaskan detil demi memperjelas tidak ada keharusan melarang bupati non muslim membuka acara.(rul/wb)

MUNTOK,www.wowbabel.com -- Pemkab Bangka Barat, Kamis (07/11/2019) kemarin menggelar dialog dengan sejumlag ormas Islam di Ruang OR1 Kantor Bupati Bangka Barat.

Dialog digelar sebagai tindak lanjut pertemuan Plt Sekda Bangka Barat, Effendi dengan sejumlah jemaah gabungan dari FPI, jemaah Masjid Jamik, Jemaah Baitul Hikmah dan Jemaah Tabligh.

Pada pertemuan sebelumnya Imam Besar FPI Bangka Belitung Habib Muhammad Saleh Assegaf meminta agar Bupati Bangka Barat diwakilkan saja setiap menghadiri acara keagamaan Islam.

Dalam pertemuan kali ini Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Bangka Barat Mukhlisin terpaksa harus bawa sejumlah kitab rujukan untuk dijelaskan detil demi memperjelas tidak ada keharusan melarang bupati non muslim membuka acara.

"Ini kepada saudara-saudara kita janganlah kebencian kamu terhadap suatu kaum membuat kamu sekalian berbuat tidak adil, ini diskusi ini biasa ya jadi tidak ada kebencian berargumen itu biasa," kata Mukhlisin.

Mukhlisin menyampaikan beberapa surat-surat dalam Al-Quran dan menceritakan sejarah kepemimpinan dalam empat imam yang tidak pernah ada permasalahan dalam perbedaan pendapat.

"Sekali lagi saya minta waktu yang agak cukup karena ini persoalan yang krusial. Ini panjang ceritanya karena ini nanti ada maulid, nanti ada Isra', nanti ada safari Ramadhan, nanti ada haji. Masih banyak kegiatan, jadi jangan sampai ini terulang ulang hanya persoalan ini dan tidak selesai," tutur Mukhlisin.

Mukhlisin menjelaskan secara detil dari berbagai kutipan Surat Al Qur'an, kaidah Ushul Fiqih, dan prinsip imama atau kepemimpinan disampaikannya untuk menjelaskan agar tidak ada lagi yang mempermasalahkan hal ini.

"Sekali lagi ini untuk kita semua, untuk Bangka Barat. Al-Quran tadi beberapa sudah saya baca, kaidah Ushul Fiqih beberapa sudah saya bacakan baru nanti hadist. Ada satu lagi fatwa MUI, ini saya bawa bukunya bagaimana hubungan agama dengan negara," terang Mukhlisin.

Mukhlisin kembali menunjukan sebuah kitab yang bersumber Shahih Muslim untuk kembali menjelaskan tentang ucapan salam dari seorang non muslim.

"Terpaksa saya borong semua ini pak sekda, ini Abu Daud (sambil nunjuk buku-red). Ini Sunan Tarmidzi, maaf yang Abu Daud sudah," tunjuknya usai menjelaskan perkitab.

"Jadi ini hal-hal perdebatan seperti ini dalam kajian ilmiah biasa bukan fiqih tapi persoalan akidah biasa. Saya mengutarakan ini bukan apa-apa cuma untuk mendudukkan persoalan, cuma memberikan pelajaran kepada masyarakat ini loh duduk persoalannya. Jadi jangan sampai persoalan ilmu dan persoalan hukum dicampur aduk dengan persoalan politik," kata Mukhlisin.

Mukhlisin mengakui tujuannya mengupas seluruh kitab saat pertemuan hanya untuk memberikan pencerahan agar tidak ada yang mencari simpatik dengan atas nama agama.

"Saya atas nama MUI ingin agar Bangka Barat itu kondusif dan maju," tukas Mukhlisin. (rul/wb)



TRENDING TOPICS
MEDSOS WOWBABEL