Mulkan Sidak ke PT BAA

Dwi H Putra    •    Selasa, 19 November 2019 | 09:52 WIB
Lokal
Warga Kenanga Sungailiat protes bau busuk.(dwi/wb)
Warga Kenanga Sungailiat protes bau busuk.(dwi/wb)

SUNGAILIAT, www.wowbabel.com -- Protes warga Kenanga terkait bau busuk tak sedap dari pabrik ubi PT Bangka Asindo Agri (PT BAA), akhirnya membuat forum komunikasi pimpinan daerah (Forkompinda) Bangka langsung melakukan inspeksi mendadak (Sidak) usai mengikuti rapat paripurna di Gedung DPRD Bangka.

Bupati Bangka, Mulkan SH MH, mengatakan pihaknya turun langsung untuk melihat apa yang menjadi keluhan warganya secara langsung, apalagi hal ini sudah menjadi perhatian daerah tak hanya warga Kenanga dan sekitar.

"Kami ke sini karena ingin tahu apa penyebabnya, setelah ini kami harap pengelola bisa memperbaiki penyebab bau ini, agar tidak ada gejolak di masyarakat lagi, kalau tidak ada gejolak, kita dari pemerintah enak, perusahaan juga enak bekerja," kata Mulkan di Sungailiat, Senin (18/11/2019).

Lanjut Mulkan, dalam waktu dekat pihaknya bersama dengan DPRD Bangka akan memanggil pengelola pabrik untuk membuat komitmen dalam penanggulangan limbah tersebut.

"Paling lama kamis kami panggil, harus ada perbaikan penanggulangan limbah ini, nanti kami lihat lagi ada perbaikan apa tidaknya," jelas Mulkan.

Pemkab Bangka pun meminta kepada warga Kenanga untuk bersabar dan menahan diri, agar kondisi lingkungan sekitar tetap kondusif.

"Warga bersabar saja dulu, kami lihat nanti pihak pabrik buat penanggulangan limbahnya bagaimana, kalau soal menutup pabrik itu soal terakhir lah kalau memang tidak ada hasil positif dari pabrik," terangnya.

Sementara, Kabid Pengendalian Dampak Lingkungan DLH Bangka, Insyira Subagia, mengatakan PT BAA sendiri sudah menyalahi aturan dari ketentuan, dimana dalam sehari hanya boleh memproduksi sebanyak 100 ton.

"Harusnya pihak perusahaan mematuhi aturan dari dokumen yang ada terutama dalam volume produksinya karena dalam dokumen itu 100 ton per hari, kalau lebih dari itu volume limbahnya juga akan lebih," jelas Insyira.

Pihaknya sudah pernah menyampaikan untuk tetap mengikuti aturan tersebut sehingga bisa meminimalisir dampak limbah.

"Beberapa bulan lalu kita kesini dan melihat banyak kendaraan yang menjual ubinya ke pabrik sehingga pihak pabrik tidak mungkin menolaknya karena masyarakat juga akan marah kalau ditolak," tambahnya.

Insyira juga sudah menyarankan agar perusahaan dalam mencari peralatan yang lebih canggih untuk menghilangkan bau dari limbahnya namun hingga saat ini pihak perusahaan tidak bisa memenuhinya.

"Kita minta waktu kurang lebih sebulan. Memang sudah ada teguran dari KLHK. Dulu sempat hilang karena sesuai produksinya 100 ton perhari dan sekarang sudah melebihi," terangnya.

Sedangkan, Humas PT BAA, Sulaiman, mengatakan pihaknya sendiri sudah menghentikan produksi sejak adanya laporan masyarakat untuk mencari penyebabnya.

"Kami sudah tiga minggu ini berhenti produksi, dari pengecekan kami ternyata ada satu kolam limbah bakterinya itu tidak sempurna sehingga menyebabkan bau," ungkap Sulaiman.

Namun ia menyangkal jika produksinya over atau melebihi kapasitas terbukti dari produksi pertahunnya yang tidak lebih dari 800 ton.

"Kami tau kalau kami ini bukan sentra tepung seperti yang di Lampung, jadi kalau over itu tidak," tambahnya.

Sulaiman sendiri yakin bahwa bau itu akan hilang dalam waktu dekat dan berusaha untuk secepat mungkin untuk mengatasi masalah tersebut.

"Ini masa-masa akhir, dari bakteri asam ke metan (gas), bau ini pasti akan hilang cuma ini tidak bisa instan karena ini berhubungan dengan makhluk hidup (bakteri-red)," tukasnya.(dwi/wb)



TRENDING TOPICS
MEDSOS WOWBABEL