Menag Fachrul Razi : Ancaman Radikalisme itu Nyata

Tim_Wow    •    Rabu, 20 November 2019 | 16:26 WIB
Nasional
Menag Fachrul Razi saat memberikan sambutan dalam Sarasehan Pembinaan Mental Angkatan Darat (Bintalad) TA 2019 di Jakarta,  Rabu (20/11/2019). (Foto: Kemenag.go.id)
Menag Fachrul Razi saat memberikan sambutan dalam Sarasehan Pembinaan Mental Angkatan Darat (Bintalad) TA 2019 di Jakarta, Rabu (20/11/2019). (Foto: Kemenag.go.id)

JAKARTA, www.wowbabel.com - Menteri Agama Jenderal TNI (Purn) Fachrul Razi menyatakan bahwa bangsa Indonesia sedang menghadapi tantangan dan ancaman radikalisme atau ektremisme. Terlepas dari perdebatan istilah, tegas Fachrul, ancaman radikalisme itu nyata.

"Ada pihak yang ingin mengganti NKRI dengan bentuk negara lain, mengingkari nilai-nilai luhur Pancasila, dan hendak menghapus fakta kebhinneka-tunggal-ikaan kita. Kondisi ini tidak boleh dibiarkan. Kita tegas nyatakan: lawan radikalisme! Tangkal ekstrimisme!,” ungkap Menag dalam Sarasehan Pembinaan Mental Angkatan Darat (Bintalad) TA 2019 di Jakarta,  Rabu (20/11/2019).

Menag menjelaskan, kriteria orang atau organisasi yang dapat dikatakan radikal. Pertama, merasa paling benar dan intoleran, tidak bisa menerima orang lain yang berbeda identitas dan pendapatnya.

“Keberbedaan atau kebhinnekaan adalah keniscayaan. Keberagaman pandangan juga keniscayaan, dan tidak ada satupun manusia yang berhak mengklaim paling benar, kebenaran hakiki hanya milik Allah,” jelas Menag.

Kedua, memaksakan kehendaknya dengan berbagai cara, menghalalkan cara apapun, bahkan tak segan-segan melukai atau membunuh.

"Padahal agama manapun, ayat suci apapun mengajarkan memanusiakan manusia. Syariat diturunkan untuk menjunjung nilai kemanusiaan dan menjaga kehidupan,” ungkap Menag.

Ketiga, menggunakan cara-cara kekerasan, baik verbal maupun tindakan dalam mewujudkan apa yang diinginkannya.

"Mereka tak segan melakukan ujaran kebencian (hate speech), atau menyampaikan berita bohong (hoax),” jelasnya.

 

Menangkal Radikalisme

Menteri Agama Fachrul Razi mengatakan bahwa secara teoritik, radikalisme bisa muncul karena beragam faktor, baik ekonomi, pendidikan, atau agama. Karena itu, penanganannya juga harus komprehensif.

“Penyebabnya beragam dan bisa kumulatif, gabungan beberapa kondisi. Karenanya penanganannya pun harus multi-perspektif,” ujar Menag.

“Semakin luas pemahaman seseorang, maka ia akan semakin bijak dan toleran dalam kehidupan bermasyarakat,” tambah Menag.

Menag menjelaskan bahwa setidaknya ada tiga hal yang dapat dilakukan untuk menangkal radikalisme. Pertama, meningkatkan pemahaman masyarakat dengan pendidikan, termasuk melalui pembinaan mental.

Kedua, mainstreaming moderasi beragama. Menurut Menag, moderasi beragama adalah upaya menempatkan bandul selalu di tengah. Meski seseorang harus yakin dan kokoh dengan pemahaman keagamaannya, namun pada waktu bersamaan harus tetap toleran dan memberi ruang bagi keyakinan orang lain.

Ketiga, menginternalisasikan nilai-nilai empat pilar kebangsaan, yakni Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan NKRI di dalam aktivitas keseharian.

“Sebagai contoh, pada saat demokratisasi kita mengalami beberapa persoalan, bukan lantas nyinyir, mencibir, dan berpaling ke sistem pemerintahan lain yang ilusif, melainkan turut serta menguatkan demokrasi dan meneguhkan NKRI,” ungkap Menag.

“Khusus bagi para prajurit TNI, internalisasi nilai kebangsaan memang sudah nyata dan harus terus dikuatkan dengan memegang teguh Sapta Marga, Sumpah Prajurit, dan Delapan Wajib TNI,” tandasnya.

Selain Menag, tampil sebagai narasumber Kepala BPIP Hariyono dan Direktur Perlindungan BNPT Herwan Chaidir. (*)



TRENDING TOPICS
MEDSOS WOWBABEL