Sebuah Pesan Untuk Calon Pemimpin Pesisir Tanah Kelahiran

Jurnalis_Warga    •    Senin, 02 Desember 2019 | 21:33 WIB
Opini
Anash Barokah, Ketum PMBS Bandung. (Ist)
Anash Barokah, Ketum PMBS Bandung. (Ist)

PESTA demokrasi Bangka Selatan (Basel) semakin mendekati hari resepsi, di tahun 2020 nanti masyarakat akan berbondong-bondong datang ke tempat di mana acara resepsi diselenggarakan.

Mengantri, berpanas-panasan, meninggalkan aktivitas dan juga tak jarang bisa saja terjadi keributan. Namun dengan antusias untuk memeriahkan sembari menitipkan suatu kepercayaan dan keyakinan, mereka rela untuk berjibaku dengan waktu demi mempersunting calon pemimpin yang mereka idolakan baik dari segi rupa dan keramahtamahan calon pemimpin.

Tentu dan bahkan tak sedikit yang mengharapkan pemimpin yang mereka sunting tak hanya mengandalkan rupa dan keramahtamah dalam bersapa tapi juga memberikan suatu perubahan yang sangat signifikan. 

Terlepas dari pesta dan resepsinya, sebagai manusia normal, saya mungkin juga teman-teman yang membaca tulisan ini mempunyai pandangan dan keserahan.


Sehingga menimbulkan satu pertanyaan besar yang sekarang menggoroti pikiran ketika setiap ada pemilihan kepala; baik itu kepala instansi, kepala daerah, atau bahkan  kepala pemerintahan negara Indonesia sekali pun. Tak peduli dari kalangan mana dan bergelar apa, baik pria dan wanita mereka berbondong mengambil formulir pendaftaran, membangun kepercayaan dan tentu sudah mempersiapkan visi misi yang tentu isi dan maknanya beba-beda tipis isi dari calon-calon yang lain, seperti hal yang lalu bukan? Tak jarang juga saya atau kita melihat wajah yang sama di p



1   2      3      4