Hilirisasi Langkah Menaikkan Harga Lada

Firman    •    Rabu, 04 Desember 2019 | 16:00 WIB
Lokal
Anak petani lada di Desa Belilik Kecamatan Namang, Bangka Tengah sedang memetik bijih lada yang sudah siap panen.(dag/wb)
Anak petani lada di Desa Belilik Kecamatan Namang, Bangka Tengah sedang memetik bijih lada yang sudah siap panen.(dag/wb)

PANGKALPINANG,www.wowbabel.com  -- Hilirisasi produk pertanian lada salah satu langkah menyelamatkan harga komuditas unggulan Bangka Belitung. Ekspor bentuk bijih yang sudah ratusan tahun tak membuat lada Babel yang terkenal kualitasnya di dunia itu membaik, sebaliknya harga lada dua tahun terakhir ini terus menurun.

"Hilirisasi merupakan kunci untuk menaikkan harga lada. Langkah ini yang belum tersentuh sama sekali. Sejak dulu lada diekspor dalam bentuk butiran. Tidak memiliki nilai tambah," kata Saparuddin, staf Khusus Gubernur Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Rabu (4/12/2019).

Menurut Saparuddin, hiilirisasi lada bisa dalam bentuk bubuk, minyak lada, kopi lada,dan bentuk  lain.

"Kalau Belanda ada museum rempah yang disajikan teh lada,  minyak lada, hingga kopi lada. Produk lada  kita, kualitas Lada Putih Muntok yang paling bagus yang diekspor. Kualitas sedang dua untuk produk hilirnya. Sedangkan kualitas paling jelek dijadikan minyak," tutur Saparuddin.

Dalam rencana untuk mengembalikan tanaman lada ini pemerintah melalui Dinas Pertanian agar menjalankan program penerapan teknologi, mulai dari penanaman, pemeliharaan hingga pasca panen.

"Ada alat dibuat Dewan Riset Daerah, bisa digunakan gabungan atau kelompok tani  memanfaatkan  alat pasca panen agar lada makin bagus kualitasnya. Dinas pertanian juga menjalankan program proses perendaman, pencucian, dan penjemuran yang benar untuk menghasilkan lada yang berkualitas," ujar



1   2