Menperin Bahas KI Sadai Bersama Gubernur Babel, Bupati Basel dan PT RBA

Aston    •    Selasa, 10 Desember 2019 | 14:22 WIB
Nasional
Acara Temu Dialog Pengembangan Kawasan Industri Prioritas di Hotel Sultan Jakarta, Selasa (10/12/2019).(as/wb)
Acara Temu Dialog Pengembangan Kawasan Industri Prioritas di Hotel Sultan Jakarta, Selasa (10/12/2019).(as/wb)

JAKARTA,www.wowbabel.com -- Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita undang Gubernur Bangka Belitung, Bupati Bangka Selatan dan PT RBA terkait pengembangan Kawasan Industri Sadai di Kabupaten Bangka Selatan pada acara Temu Dialog Pengembangan Kawasan Industri Prioritas di Hotel Sultan Jakarta, Selasa (10/12/2019).

Gubernur Bangka Belitung, Erzaldi Rosman, Bupati Bangka Selatan, Justiar Noer, Direktur PT RBA selaku pengelola KI Sadai, Vindyarto hadir dalam temu dioalog pengembangan kawasan industri prioritas  bersama 19 kawasan industri yang masuk dalam rencana Program Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024.

Dialog bertujuan melakukan penyamaan persepsi terkait kewenangan pemerintah pusat dan pemerintah daerah dalam rangka pengembangan 19 kawasan industri yang menjadi target RPJMN.

Menperin mengungkapkan, hingga saat ini sudah ada 103 kawasan industri yang beroperasi, dengan total cakupan wilayah mencapai 55.000 hektare. Sementara itu, terdapat 15 kawasan industri yang masih dalam proses konstruksi dan 10 kawasan industri pada tahap perencanaan.

“Dari 103 kawasan industri yang sudah operasional, sebanyak 58 di antaranya berlokasi di Pulau Jawa,” tuturnya.

Sisanya, terletak di Pulau Sumatera (33 kawasan industri), Kalimantan (8 kawasan industri), dan Sulawesi (4 kawasan industri). Sejak tahun 2014, ada peningkatan hingga 20 kawasan industri.

Agus menegaskan, dalam upaya mendorong pemerataan ekonomi yang inklusif, pemerintah telah berusaha melalui pengembangan kawasan industri di luar Jawa. Hal ini sejalan untuk mewujudkan Indonesia sentris.

Ke depannya, kawasan industri di Pulau Jawa akan difokuskan pada pengembangan industri teknologi tinggi, industri padat karya, dan industri dengan konsumsi air rendah.

Sedangkan, kawasan industri di luar Jawa lebih difokuskan pada industri berbasis sumber daya alam, peningkatan efesiensi sistem logistik dan sebagai pendorong pengembangan kawasan industri sebagai pusat ekonomi baru.

“Pengembangan pusat-pusat ekonomi baru ini perlu terintegrasi dengan pengembangan perwilayahan termasuk dalam pembangunan infrastruktur sehingga dapat memberi efek positif yang maksimal dalam pengembangan ekonomi wilayah,” paparnya.

Selama ini, aktivitas industrialisasi memberikan efek berganda yang luas bagi perekonomian nasional, mulai dari peningkatan pada nilai tambah bahan baku dalam negeri, penyerapan tenaga kerja lokal, hingga penerimaan devisa dari ekspor.

Kemenperin mencatat, investasi sektor industri tahun 2015-2019 juga memperlihatkan peningkatan. Peningkatan investasi sektor industri pada semester I tahun 2019 mencapai  Rp 104,6 Triliun dengan total investasi sebesar Rp 1.173,5 Triliun.

Investasi industri terbesar dilakukan oleh sektor Industri Logam, Mesin, dan Elektronik sebesar Rp 266,13 Triliun diikuti Industri Makanan sebesar Rp 257,47 Triliun, Industri Kimia dan Farmasi sebesar Rp 217 Triliun, Industri Mineral Nonlogam sebesar Rp 98,75 Triliun dan Industri Kendaraan Bermotor dan Alat Transportasi Lain sebesar Rp 96,70 Triliun.

Penyumbang investasi terbesar dari sektor industri logam, mesin, dan elektronik yang menyentuh angka Rp 266,13 Triliun, diikuti industri makanan sebesar Rp 257,47 Triliun.

Selanjutnya, industri kimia dan farmasi yang mencapai Rp 217 Triliun, industri mineral nonlogam sebesar Rp 98,75 Triliun, serta industri kendaraan bermotor dan alat transportasi lain sebesar Rp 96,70 Triliun.(as/wb)



MEDSOS WOWBABEL