LTJ dan Thorium Harapan Ekonomi Baru Babel

Tim_Wow    •    Rabu, 11 Desember 2019 | 13:54 WIB
Nasional
Tokoh Masyarakat Bangka Belitung, Safari ANS.(ist)
Tokoh Masyarakat Bangka Belitung, Safari ANS.(ist)

JAKARTA, www.wowbabel.com -- Tokoh Masyarakat Bangka Belitung, Safari ANS, mengungkapkan ekonomi Bangka Belitung dalam kondisi labil, tumbuh dibawah pertumbuhan ekonomi nasional. Padahal yang sehat seharusnya tumbuh di atas pertumbuhan eknomi nasional.

Namun demikian, katanya,  bukan tidak mungkin ekonomi Bangka Belitung tumbuh secara signifikan. Buktinya pada triwulan III 2018 ekonomi sempat tumbuh 7,08 persen. Setelah itu terus menurun hingga di bawah 3 persen. Kini mulai menaik lagi di atas 4 persen tetapi tetap masih dibawah 5 persen.

“Ketika saya mencari tahu sebab musabab ekonomi Bangka Belitung  bisa tumbuh 7,08 persen, butuh lebih dari enam bulan baru terjawab. Ternyata saat itu sedang terjadi pengucuran kredit perbankan di Bangka Belitung untuk membeli briket batubata. Kredit tersebut telah memicu gap intetmediasi antar bank di Babel sehingga bersifat negatif,” ungkap Safari kepada wowbabel beberapa waktu lalu.

Dengan demikian, lanjut Safari, kita menjadi tahu bahwa selama ini uang yang berputar di Bangka Belitung tidak terlalu tinggi. Lalu bagaimana membuat kebijakan di Babel agar perputaran uang di Babel tinggi. Yang menjadi persoalan kemudian,  hasil ekspor timah uangnya tidak kembali ke Babel. Hasil ekspor palm oil juga tidak kembali ke Babel. Hasil penjualan kaulin juga tidak kembali ke Babel. Satu-satunya komoditi yang hasil penjualannya 100 persen kembali ke Babel hanya lada. Sebab lada di Babel pasti lada rakyat. Lada korporat hampir tidak ada di Babel.

Yang menjadi persoalan serius kini, tambah  Safari, orang Bangka Belitung mulai enggan menanam lada. Lantaran harga jualnya terlalu murah. Biaya perkebunan lada rakyat itu baru mendapat untung apabila harga jual lada di atas Rp 50.000 per kilogram. Jika harga Rp 50.000 per kilogram adalah break event point (BEP) bagi petani lada. Harga itu petani tidak untung dan tidak rugi. Tetapi apabila harga lada dibawah harga BEP, maka harga jual lada telah membunuh petani lada sendiri.

Harga lada di Bangka Belitung masih menjadi permainan kalangan pengijon. Sebab di Bangka Belitung tidak ada patokan harga terendah lada. Tidak ada patokan terendah lada ini menjadi promlematika berkepanjangan. Seharus ada pergub atau perda yang mengatur tata niaga lada yang juga didalam mengatur harga terendah lada.  Jika harga diatur sedemikian rupa akan memberikan keamanan harga juga pelaksanaan resi gudang yang sudah mulai dirintis.

“Lalu kita melihat potensi perikanan. Kita hanya berpikir Babel sebagai daerah kepulauan tentukan akan banjir ikan. Akan tetapi riset berbagai kalangan tentang perikanan menunjukkan bahwa perikanan di Babel sudah lampu kuning dan merah. Hampir semua jenis perikanan tangkap di Babel telah menunjukkan over exploited (lampu kuning) dan fully exploited (lampu merah). Sehingga kecil harapan Babel dapat mengembangkan industri perikanan secara besar-besaran,” tutur Safari.

Selain lada, juga material tambahan  yang menjadi harapan baru bagi ekonomi Babel, yakni adanya rare earth mineral atau logam tanah jarang (LTJ) yang saatnya suplai dikuasai oleh Tiongkok  97 persen. Kini Babel bisa menggunakan logam tanah jarang ini sebagai alternatif baru dunia industri modern saat ini. Sebab logam tanah jarang ini dikosumsi oleh industri modern di seluruh dunia.

Kedua, Babel memiliki thorium yang sangat dibutuhkan dalam industri energi modern. Thorium akan menjadi alternatif bagi anergi baru, sehingga peta bisnis kelompok energi akan terpaksa melakukan evaluasi besar-besaran. Sebab lambat laut energi fosil sudah mulai ditinggalkan. Listrik tidak lagi dihasilkan melalui minyak fosil. Energi thorium akan menjadi revolusi industri energi baru tak hanya di Babel dan Indonesia tetapi juga.

“Namun jika logam tanah jarang dan thorium jika hanya dikelola sama seperti timah sekarang ini percayalah tidak akan memberi kesejahteraan dan kemakmuran bagi masyarakat Babel. Karenanya sejak sekarang perlu melakukan pembicaraan dan diskusi yang intensip dengan para pihak pengambil kebijakan di Jakarta,” imbuh Safari.

Thorium menurut berbagai ahli tak habis ditambang di Babel hingga 2000 tahun. Dalam areal IUP PT Timbah Tbk sendiri sudah dipublis bahwa secara hipotetik potensi thorium memiliki sekitar 7.000.000 ton. Sehingga ada keinginan PT Industri Nuklir Indonesia (Inuki) Persero untuk membangun Pembangkit Listrik Tenaga Thorium (PLTT) di Kalimantan atau di Bangka. Jika PLTT selesai dibangun, kebutuhan listrik Indonesia 35.000 MV akan terlampui.

“Apalagi cost produksi listrik PLTT sangat murah hanya sekitar USD 3 sen per KwH. Saat ini cost produksi listrik paling murah adalah PLTA. Sekitar USD 5 sen per KwH. Sumber listrik yang lain semua itu PLTA,” kata Safari.

Ditambahkan Safari, yang menjadi pertanyaan kemudian, apakah kekayaan alam terakhir ini juga akan sama dengan timah sekarang ini.  Dimana masyarakat Babel hanya menjadi penonton yang pasif. Tergantung anak-anak Babel yang ada sekarang ini. Kalau anak-anak Babel diam membisu, maka selesaikan sudah. Karena Pemerintah pusat tidak memiliki target agar masyarakat Babel sejahtera dengan kekayaan alam yang terakhir ini (thorium dan logam mineral tanah jarang).

“Saya menyarankan masyarakat Babel atau pemegang KTP Babel berhimpun dalam Badan Usaha Milik Rakyat (BUMR). Misalkan saja BUMR itu bernama Babel Incorporation (Babel Inc). Babel Inc bertindakan sebagai holding company. Sedangkan anak perusahaannya ada Belitung Inc, Bateng Inc, Bangka Inc, Pangkalpinang Inc, Babar Inc, Basel Inc, dan Beltim Inc. Lalu Babel Inc memeliki saham abadi (bukan saham setor) di PLTT. Sehingga masyarakat Babel memiliki saham di semua perusahaan yang mengeksploitasi kekayaan Babel,”  saran Safari.

“Apalagi saya sudah mengusulkan agar Satu Kabupaten Satu KEK. Dengan konsep ini akan pemerataaan pembangunan di Babel. Bateng KEK PLTT, Babar KEK Hi-Tech Industries. Basel KEK Industri Lada, Bangka Induk KEK Industri Maritim, Belitung KEK Wisata. Beltim KEK Industri Kapal Nelayan. Dan Pangkalpinang KEK Kota Bisnis,” kata Safari.

Menurut Safari, adanya KEK di setiap kabupaten dan kota akan mendorong revitalisasi ekonomi, sehingga ekonomi Babel akan stabil dalam jangka panjang dan tumbuh secara signifikan sepeerti triwulan 3 tahun 2018 lalu. Itu artinya eknomi Babel bisa tumbuh signifikan. Lalu mengapa kita tidak merumuskannya secara baik belajar situasi dan kondisi pada triwulan 3 tahun 2018.

Sebagai langkah awal, Pemprov Babel melakukan pembenahaan organisasi pemerintahan. Hubungan antara pemprov dan pemkab harus harmonis dalam rangka koordinasi. Belakang hubungan ini menjadi buruk. Kondisi itu tergambar jelas ketika HUT Babel ke-19 ini. Dari enam bupati dan satu walikota, hanya Bupati Bangka Tengah yang hadir. Lainnya tidak ada. Hubungan seperti ini amat buruk untuk membangun Babel kedepan. Apalagi hubungan Gubernur Babel dan DPRD Babel bagaikan Tom and Jery. Saling sikut, dan saling serang, sungguh tak menyehatkan bagi perkembangan dan pertumbuhan ekonomi Babel.

“Jika koordinasi ini sudah baik, maka rencana apapun yang akan diterapkan akan berjalan dengan. Jika situasi dan kondisi masih seperti ini, semua rencana hanya akan jadi mimpi. Ini langkah awal bagi Babel untuk melangkah secara sempurna,” ujar Safari.

Lebih lanjut dikatakan Safari, Babel harus meminta kepada pemerintah pusat yang menjadi hak Babel. Seperti saham Babel di PT Timah Tbk sebesar 10 persen yang sudah dijanjikan oleh Presiden Jokowi kepada Gubernur Babel. Dengan saham ini, banyak hal yang bisa dilakukan. Seperti, bersama PT Timah Tbk, Babel mengatur bersama regulasi yang akan dikeluarkan pemerintah pusat bidang status timah, thorium, dan logam tanah jarang. Juga untuk mengatur bersama CSR yang akan dikucurkan agar lebih efektif dan efisien. Pokoknya seabrek hal hang bisa dilakukan Babel bersama PT Timah Tbk apabila sudah memiliki saham 10 persen. Bagi PT Timah Tbk sendiri dengan masuknya Babel sebagai pemegang saham soal kelangsungan IUP yang kewenangannya ada pada Gubernur Babel.

Kedua, Pemprov harus mulai menyusun strategi kepentingan rakyat di Babel yang kini sudah terancam oleh sistem global. Sebab skema investasi global lebih mengutamakan pola direct investment yang menghendaki kepemilikan saham mayoritas dalam perusahaan pengelola atau perusahaan tambang. Kalau asing yang menjadi investor, maka otomatis asinglah yang menguasai kekayaan alam Babel dalam puluhan tahun sampai izinnya habis. Rakyat Babel yang tak punya apa-apa akan menjadi penonton yang baik. Apalagi tenaga kerja di Babel upahnya mahal tetapi minim keterampilan. Tenaga kerja Babel akan kalah bersaing dengan tenaga kerja asing. Kondisi ini akan membawa bahaya besar. Sumber alam akan habis, tenaga kerjanya juga tetap orang asing.

Ketiga, Pemprov Bangka Belitung harus melalukan upaya agar hasil ekspor produk yang dihasilkan bumi Babel berada di Babel agar berputaran uang di Babel tetap tinggi. Dengan begitu, maka pencairan L/C Ekspor harus cair di bank yang ada di Babel. Membuat hal ini tidak mudah. Perlu koordinasi dengan Bank Indonesia, Kementerian Keuangan, dan sebagainya. Tetapi upaya harus tetap dilakukan.

Keempat, Pemprov harus membuat Perspektus Babel yang akan dijual atau ditawarkan ke berbagai kalangan. Prospektus itu berisi satu kabupaten dan satu KEK. Juga menguraikan bagaimana Babel Bond diolah sehingga menguntungkan bagi investor tanpa menghilangkan hak masyarakat Babel sebagai pemilik sah kekayaan alamnya.

“Sebab Tuhan memberikan kekayaan alamnya untuk orang yang mendiami bukan untuk investor. Maka hormati masyarakat pemilik kekayaan bumi Babel, karena itu pemberian Tuhan untuknya,” tukas Safari. (*)



MEDSOS WOWBABEL