Bangsa China Bukan Musuh Muslim Indonesia

Endi    •    Selasa, 14 Januari 2020 | 21:22 WIB
Lokal
KH. Said Aqil Siraj, Ketua PBNU. (Dag/wowbabel)
KH. Said Aqil Siraj, Ketua PBNU. (Dag/wowbabel)

PANGKALPINANG, www.wowbabel.com -  Kampaye bernada rasis berupa penyebaran kebencian dan permusuhan terhadap suku Bangsa China, kembali menyeruak setelah hubungan diplomatik Indonesia-China memanas akibat klaim terhadap perairan Natuna, serta simpang siur berita tentang penindasan terhadap Muslim Uigur di China, beberapa waktu belakangan.

Menanggapi hal itu, Ketua PBNU KH. Said Aqil Siraj menegaskan, sikap benci dan permusuhan yang didasarkan pada perbedaan suku bangsa atau agama sangat bertentangan dengan ajaran Islam.

Secara historis, kata dia bangsa Indonesia dan umat Islam Indonesia memiliki hubungan yang sudah terjalin sejak ribuan tahun yang lalu, bahkan tidak sedikit tokoh Islam nusantara yang berasal dari Etnis China.

Inkulturasi budaya China – Indonesia juga tercermin dari adanya penyerapan beberapa kosakata bahasa China, yang sudah diadopsi menjadi bahasa Indonesia. 

"Hubungan Indonesia-China itu tidak bisa dipisahkan. Bahasa China sudah menjadi bahasa kita, seperti bakso, tahu, sate, becek dan lain sebagainya, tinggal bagaimana kita saling menghormati," kata Said, saat menghadiri tabligh akbar dan pelantikan pengurus PWNU Kepulauan Bangka Belitung, Selasa (14/1/2020). 

Dijelaskan Kiai Said Aqil, tindakan China yang mengklaim perairan Natuna memang harus dilawan, tapi bukan berarti memusuhi bangsa China, karena yang perlu dimusuhi adalah perbuatan China yang sudah melanggar kedaulatan Indonesia.

"Menilai orang, menilai siapapun bukan dari etniknya, bukan agamanya, tapi perilakunya," tukasnya. (Dag/wb)

Halaman